13 | Menyendawakan Keraguan

56.1K 5.6K 2.5K
                                        

"Lho, Amara, ngga bawa mobil?" suara Antariksa mengagetkan Amara yang sedang berpanas-panas ria berdiri di depan gerbang sekolah.

Amara menurunkan masker dan mengaitkannya di bawah dagu dan membuka tudung jaketnya, "Anta?" seru Amara takjub mengetahui Anta mengenali dirinya dengan masker dan tudung menutupi kepalanya.

"Kaget banget," goda Antariksa sambil tersenyum kecil.

Amara cengengesan untuk menyamarkan wajahnya yang mendadak berubah warna, yang sayangnya sudah tertangkap netra Antariksa duluan. "Tumben balik cepet, An?" Amara bertanya sambil memandangi Antariksa dan sepedanya. Hal yang selalu membuat Amara takjub, pasalnya semakin panas, sepeda buatan si professor cilik itu bakalan berjalan semakin kencang. Amara adalah salah satu pengguna setia sepeda buatan Anta saat di Belanda dulu. Kalau lagi musim dingin, bisa pakai tenaga angin untuk membuatnya ringan dikayuh.

"Feeling ada yang butuh tumpangan," sahut Antariksa kalem.

"Sia—"

"Lo, Amara," sahut Antariksa cepat dan membuat wajah Amara tak tertolong lagi.

Amara terkekeh untuk menyamarkan salah tingkahnya, "Orang gue dijemput sih."

"Pak Doel udah di jalan?" tanya Antariksa lagi menanyakan supir Amara. "Tumben ngga bawa mobil?"

Amara menggeleng, "Masih nganterin papa dulu ketemu klien trus mau jalan ke sini. Ini aja gue mau balik ke dalem nunggu di kantin niatnya. Soalnya baru dikabarin kalau masih sama papa, Pak Doelnya. Kirain udah di depan tadi. Papa ngga kasih ijin bawa mobil An selama ujian."

Antariksa manggut-manggut, "Emang harusnya ngga boleh, Amara. Bikin khawatir aja."

Hah?

Diisyaratkan oleh Antariksa untuk segera naik ke boncengan, Amara dengan ragu-ragu naik. Gila, begini doang bisa bikin jantung trampolinan? Egila bener.

"Pegangan ngga dosa kok, Mar."

"Hah? Eh—iya, An." Lalu tangan Amara memegang kedua sisi samping tubuh Antariksa. Siang itu, udara Jakarta yang menyengat mampu menghangatkan hati Amara sampai ujung-ujung bibirnya menyendawakan senyum tak berkesudahan.

Amara masih takjub, ada untungnya juga dia sudah tak boleh bawa mobil oleh papanya. Dibonceng Anta serasa reward yang sepadan dari perjuangannya selama seminggu menempuh UAS.

"Mar, tidur?"

Reflek Amara mengeplak pelan punggung Anta, "Kalau tidur gue jatoh, Antariksa."

"Tumben diem."

Suara gue kalah sama detak jantung gue, tauk!

"Ngga diajak ngobrol habisan," sahut Amara menyindir. Mimpi apa Amara semalam? Perlakuan Antariksa yang mungkin saja hanya sebagai rasa empati ini disyukuri Amara. Betapa tidak, selama empat bulan dia kembali ke Indonesia, moment antara dia dan Antariksa bisa dikatakan benar-benar jarang. Paling hanya texting basa-basi yang menjadi satu-satunya pengukur kualitas hubungan mereka.

"Semakin dewasa orang, sekat itu terasa nyata ya, Mar?" tanya Antariksa tiba-tiba setelah terdiam cukup lama. Pelan sepeda yang membawa kedua anak manusia itu seolah merefleksikan bahwa sang pengendara tak mau moment ini segera berakhir. Kentara sekali. Tapi, Amara sepertinya tak paham.

Mengernyitkan dahi memikirkan pertanyaan Antariksa tadi, Amara tak yakin kalau pertanyaan itu ditujukan padanya, "Sekat itu untuk mereka yang ngga bisa jujur bahwa kedewasaan seharusnya tidak dibarengi dengan egosentris dengan merasa bahwa stigma kedewasaan merenggut kebebasan. Itu hanya pemikiran orang-orang sok penting."

CompliantwinTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang