Wajah Leticia memucat. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, tiga orang remaja sedang menuruni anak tangga asrama. Dua perempuan dan seorang laki-laki. Wajah salah satunya mengingatkannya pada seseorang. Dadanya seketika berdesir perih.
"Anda baik-baik saja?" tanya seorang murid laki-laki yang duduk di hadapannya.
Anak itu sedang menunggu giliran untuk memperoleh kunci kamar. Dia menggenggam sebuah pena warna hitam dan selembar kertas yang hampir terisi penuh dengan tulisan tangannya. Rambutnya ikal pirang dan pipinya dipenuhi bintik merah.
Leticia melirik sekilas padanya lalu kembali memandangi tiga remaja itu berjalan menjauh di sepanjang lorong. Si Bintik tersenyum.
"Dia cantik kan?"
"Siapa?"
"Gadis yang anda lihat itu. Aku berada di gerbong kereta yang sama dengannya tadi."
Leticia mengerutkan keningnya. Dia tidak ingat pernah berhadapan dengan gadis itu sepanjang hari ini.
"Kau mengenalnya?"
"Seseorang memanggilnya Elena."
Leticia mengangkat bahunya tak peduli.
"Kau sudah selesai?"
"Ya. Jadi yang mana kamarku?"
Leticia membaca lembaran kertas yang ada di tangannya.
Tulisannya jelek sekali. Si Bintik ini tinggal bersama orang tuanya di Kanada. Kenapa dia berada disini? Siapa orang tuanya? Hanya orang tertentu yang bisa mengirimkan anaknya ke tempat ini.
Leticia menghela nafas. Ini hari pertamanya bekerja di Pulcrha. Sekolah berasrama yang jauh berada di pedalaman Inggris dan hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. Seseorang yang punya koneksi di pemerintahan sudah berbaik hati memberinya pekerjaan setelah sekian lama mengabdi pada keluarganya.
Leticia mengambil sebuah kunci dengan gantungan berbentuk segi empat bertuliskan angka 55. Lalu menunjuk ke lorong.
"Okay, Dean. Asramamu ada di sayap kanan dari gedung utama. Kau harus melewati lorong itu sampai di aula ruang makan dan melanjutkan ke pintu berikutnya di seberang ruang makan. Kau akan dengan mudah menemukan asramanya, ada di bagian paling ujung dari lorong sayap kanan."
Si Bintik yang dipanggil Dean langsung mengerang sambil mengacak-acak rambutnya. Leticia bisa menebak isi kepalanya. Perjalanan yang ditempuhnya sudah cukup jauh dan dia mulai kelelahan ketika ternyata masih harus mengantri untuk mendapatkan kunci kamar. Dan bagian yang paling menyebalkan adalah kembali menyusuri gedung ini hanya untuk merebahkan tubuhnya yang sudah tak bertenaga.
Leticia menanggapinya dengan sikap dingin. Dia sudah beberapa kali menemukan ekspresi yang sama di wajah anak-anak itu.
"Ambil kuncimu sekarang! Masih banyak murid yang mengantri di belakangmu!"
Dean bangkit sambil memutar matanya. Memandangi Leticia dengan sebal.
Leticia mengabaikannya. Semuanya terjadi bukan tanpa alasan. Dan dia telah menutup rapat-rapat penyebab perubahan sikapnya menjadi seperti ini.
***

YOU ARE READING
FIRST GRADE
Ficción GeneralTentang seorang gadis yang dikirim orang tuanya jauh ke pedalaman Inggris untuk melanjutkan sekolahnya. Disanalah cerita ini mengalir. Ketika dia jatuh cinta dan terpaksa melepas cintanya.