Elena menutup pintu dan berjalan menuju jendela. Gelap sekali di luar. Hanya lampu pagar raksasa yang ada di ujung halaman di kejauhan terlihat seperti titik api, tidak cukup untuk menerangi area yang lebih mirip hutan amazon itu. Ya, ya, ya... itu terlalu berlebihan. Tempat itu sebenarnya lebih mirip pedesaan. Ada beberapa rumah penduduk tapi lokasinya lumayan jauh. Kata Livy, dari desa itu makanan dan kebutuhan asrama disuplai. Tiap pagi ada truk tua yang membawa hasil pertanian dan peternakan untuk diserahkan pada pengurus asrama. Ternyata meskipun jauh dari peradaban, sekolah itu terorganisir dengan baik.
Elena merapatkan wajahnya ke bingkai jendela kayu yang terasa dingin di pipinya. Dia merindukan orangtuanya. Meskipun mereka jarang bicara akhir-akhir ini tapi dia tahu orangtuanya menyayanginya. Mereka sibuk dengan penelitian di basement rumah mereka yang disulap menjadi laboratorium. Disitulah keduanya menghabiskan banyak waktunya. Entahlah dia sendiri tidak pernah terpikir untuk mengetahui lebih jauh apa saja yang mereka kerjakan di ruangan itu.
Dia menguap. Rasanya lelah sekali. Perjalanannya yang panjang hingga sampai ke tempat ini cukup menguras tenaganya. Kasur di kamarnya kini terlihat nyaman di matanya. Mungkin lantaran energinya yang terkuras habis itulah dia tak sanggup lagi menahan beban tubuhnya. Membuatnya ingin cepat-cepat rebah di atasnya. Setengah terhuyung dia mendekati tempat tidur dan merebahkan diri. Dalam sekejap, dia sudah dibuai mimpi.
Mimpi yang aneh. Sesosok tubuh berdiri tidak jauh dari tempatnya. Sibuk berjalan kesana-kemari di dalam kamarnya mencari sesuatu. Sepertinya seorang laki-laki tapi dia tidak terlalu yakin karena orang itu memakai jubah gelap yang menutupi seluruh tubuhnya. Gerakannya lincah sekali dan gesit. Dia tidak tahu kenapa tubuhnya tidak bisa digerakkan ataupun berteriak. Orang itu sempat menatapnya sekilas tapi segera memalingkan muka ketika terdengar bunyi berisik di depan pintu kamarnya. Dan seperti sulap tiba-tiba tubuh orang itu sudah lenyap.
***
Paginya Elena bangun dengan tubuh yang masih terasa lelah.
"Elena? Kau ada di dalam?" suara panggilan di depan pintu disertai ketukan yang tergesa-gesa rupanya yang membangunkannya dari tidur.
Dia berjalan separuh menggerutu.
Tentu saja dia ada di dalam! Memangnya mau kemana lagi selain di kamar?
Livy menatapnya dengan cemas. Masih mengenakan mantel tidur berwarna coklat tua dia menatapnya.
"Kau baik-baik saja?"
Elena mengerutkan dahi dengan heran.
"Tentu. Ada apa?"
"Semalam ada yang melihat seseorang masuk ke kamarmu melalui jendela. Apa ada sesuatu yang hilang? Apa kau tidak melihat ada orang lain di kamarmu?"
Dia melongo. Teringat mimpinya semalam.
"Aku tidak melihat siapa-siapa."
"Kau biarkan jendelamu terbuka semalaman?" Livy bertanya sambil memandang lurus ke arah jendela.
Elena jadi salah tingkah karena merasa bersalah sudah membuat Livy kuatir.
"Ya...kupikir, itu tidak berbahaya."
Elena nyengir, berusaha menenangkan temannya itu meskipun sebenarnya dia mulai meragukan apakah mimpinya semalam benar-benar mimpi.
"El, kau ini ceroboh!" Livy mulai mengomel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Gerakannya yang seperti itu mengingatkan Elena pada ayahnya bila sedang marah. Dan itu membuatnya semakin merindukan orangtuanya. Untuk sesaat dibiarkannya Livy memarahinya panjang lebar sambil sibuk membereskan barang-barangnya yang masih berantakan. Ketika akhirnya temannya itu mulai tenang dan dia sudah selesai membereskan tempat tidurnya, Elena berbalik menatap Livy sambil tersenyum haru.
"Terimakasih...sudah memperhatikanku," ucapnya pelan sambil memeluk Livy, berusaha menahan air mata ketika mengingat kembali kerinduannya pada ayah dan ibunya.
Tangan Livy menekan pelan di pundaknya dan dia segera melepaskan pelukannya.
"Lain kali aku akan berhati-hati," janji Elena sambil mengerjapkan kedua matanya.
***

YOU ARE READING
FIRST GRADE
General FictionTentang seorang gadis yang dikirim orang tuanya jauh ke pedalaman Inggris untuk melanjutkan sekolahnya. Disanalah cerita ini mengalir. Ketika dia jatuh cinta dan terpaksa melepas cintanya.