[PWENT TETE]

5.3K 519 138
                                        


"Being gay is nothing but another way to live your life."

—Connor Paolo

...........

Kejadian siang tadi benar-benar membuatku hancur. Saking hancurnya, aku nggak sanggup menceritakan lagi apa yang terjadi.

Sepanjang sore hingga pukul sebelas malam, aku menangis di kamarku. Menghabiskan satu pak tisu, melewatkan makan malam, melempar banyak benda yang ada di atas meja, bahkan mencakar diri sendiri setiap teringat semua kenangan manis dan senyuman Kak Putra yang pernah dilemparkan di ruangan kecil ini. Aku nggak menjawab panggilan Bapak dan Mama Delia. Mereka juga masih bingung, mengapa Kak Putra mendadak pergi.

Aku tahu kenapa Kak Putra mendadak pergi.

Kak Putra pergi gara-gara aku.

Gara-gara aku memperparah sesuatu yang sudah parah dari sananya.

Aku menuntut Kak Putra untuk memberitahuku, dari mana dia tahu soal itu semua. Meski awalnya Kak Putra sempat membentakku, dan mengusirku, akhirnya Kakak merasa aku berhak tahu dari mana informasi itu didapat.

Dari Miza. Atas sebuah ketidaksengajaan.

Miza meneleponku pukul sebelas malam. Menelepon langsung, tepat saat aku sedang tertidur. Karena Kak Putra ada di situ, dan Kak Putra nggak ingin aku terbangun (dia benar-benar percaya aku kelelahan), Kak Putra mengangkatnya. Kak Putra belum bilang apa-apa ketika Miza memberondongnya dengan penerimaan maafku.

Miza memaafkanku. Dan dia ingin mengatakannya langsung. Sekaligus menyarankan kepadaku untuk ... jangan kejar Kak Putra. Satu-satunya nasihat yang ingin sekali Miza sampaikan kepadaku malam kemarin.

Kak Putra hanya mendengarkan Miza mengoceh soal semuanya. Soal dunia gay, soal Ricky, soal pertengkaranku dengannya, bahkan soal Kak Putra. Soal apa yang kulakukan malam sebelumnya. Secara garis besar. Soal mengulum kelamin kakakku sendiri. Soal jauhi kakakku dari dunia seperti itu.

Begitu telepon ditutup, tanpa Kak Putra bicara sepatah kata pun, dan Miza entah mengapa nggak curiga, Kak Putra mulai menelusuri isi ponselku. Kak Putra melihat galeriku yang dipenuhi fotoku bersama Ricky—mulai dari selfie biasa saja hingga saling mengecup; lalu isi semua aplikasi chatting-ku; Whatsapp dengan Banciana Grandé; LINE dengan Miza yang kadang-kadang membahas soal homoseksualitasku; hingga Twitter alter egoku yang isinya account-account porno gay.

Rasanya nyawaku dicabut dari kerongkongan mendengar Kak Putra sudah mengetahui segalanya. Aku bisa melihat urat-urat di pelipisnya menegang dan rahangnya mengeras. Hal paling menyakitkan adalah mengetahui orang yang kusayang kecewa kepadaku. Ketika rasa percayanya dicabut, aku merasa nggak punya jiwa lagi.

Yang membuatku ingin menembak diri sendiri adalah apa yang kukatakan setelahnya. Bukannya memperbaiki keadaan, mengelak, membual, membela diri, melakukan segala cara agar Kak Putra berubah pikiran, aku malah mengiyakan semuanya. Entah arwah tolol apa yang merasukiku, aku berkata, "Iya, benar. Aku emang begini, Kak. Tapi kebersamaan kita selama ini punya sesuatu. Aku sayang Kakak dengan tulus. Aku pengin menjadi pelengkap dalam hidup Kakak."

Kak Putra semakin jijik melihatku.

"Aku tahu Kakak juga menikmati semua itu! Melukin aku, bawa aku pergi ke Bali, terus curhat sama aku setiap malam, percaya sama aku, membiarkan aku menjamah Kakak, aku tahu Kakak juga menerima itu. Aku pikir waktu Kakak 'keluar' malam itu, Kakak juga menyadarinya ...."

CRUSHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang