[STEVANO]

4.5K 443 205
                                        


"I don't think it should be a surprise for anyone to hear that I'm gay."

—Adam Lambert

Terminal Cicaheum ramai seperti biasa. Debu beterbangan di udara, bercampur dengan asap knalpot DAMRI yang menghitam. Semua orang tampak sibuk dengan tujuannya masing-masing. Beberapa ada yang sudah menggendong bawaannya, berlari mengejar bus yang akan berangkat ke arah timur Kota Bandung. Aku berdiri di antara keramaian itu. Memakai celana pendek seperti turis, sepatu kets siap kotor, topi, dan ransel besar yang penuh dengan barang bawaan.

Aku menyeberangi jalan untuk mencapai jejeran bus di dalam terminal. Bau pesing menyeruak ketika aku melewati pagar kecil tempat orang-orang biasa masuk. Seseorang yang kucari baru saja membeli teh kotak dari pedagang asongan. Dengan santai dia berjalan mencari bus yang dicarinya, seraya celingukan ke sana kemari.

Aku berjalan mendekati anak laki-laki itu. Dia sudah sampai di depan bus dengan tujuan Banjar, Tasikmalaya. Bus yang akan dinaikinya pertama kali sebelum melanjutkan petualangannya hingga ke Kupang sana. Nama anak laki-laki itu Amizade Adhyastha.

Biasa dipanggil Miza.

Matanya berhenti celingukan ketika melihatku sudah berdiri sepuluh meter saja darinya. Aku tahu dia baru saja akan melangkah ke bus pilihannya. Namun ketika dia melihatku berjalan menghampirinya, menggendong ransel yang dia beli khusus untukku—dan ransel itu penuh barang bawaan termasuk alas tidur, jas hujan, dan tenda kecil—dia berhenti melangkah. Dia menelan ludah. Menungguku datang menghampirinya.

"Ngapain?" sapanya sok-sok nggak peduli.

"Mau road trip."

"Ke mana?"

"Ke Kupang."

"Lo mau ngikutin, ya?"

"Nggak." Aku memiringkan kepala dan memberikan senyum terlebarku. "Aku nggak mau ngikutin. Aku mau jalan bareng sama kamu. Di samping kamu. Bukan di belakang."

Miza menelan ludah lagi. Salah tingkah.

"Kenapa lo tahu gue ada di sini?" Alisnya mengerut hebat. Matanya meneliti tubuhku dari atas ke bawah. Bukan pandangan sinis seperti yang Odette selalu berikan kepadaku. Namun pandangan "pengecekan". Mengecek apakah aku sudah cukup sempurna untuk bergabung bersamanya dalam perjalanan ini.

"Karena aku tahu first stop kita bakal ke mana."

"Lo kan lagi sibuk nyari gigolo. Itu yang terakhir gue denger."

"Yaaa ... bener." Aku menyengir. "Terakhir. Which means, nggak akan ada lagi. Ter-a-khir."

"Oh iya, lo lagi ngebet pengin jadiin kakak lo sendiri pacar lo. Gitu, kan? Ke mana dia sekarang?"

"Sama orang yang tepat buat dia. Nggak tahu siapa, karena aku juga udah sadar, dia bukan 'teman seperjalanan'-ku mengarungi hidup ini. Apalagi sekarang aku udah tujuh belas tahun. Aku harus jadi manusia dewasa. Aku bakal jalan bareng 'teman seperjalanan' yang tepat buat aku."

"Siapa."

"Kamu mau tahu namanya?"

Miza ingin terkikik, tetapi dia menahannya. "Nggak juga, sih. Terserah lo aja."

"Namanya Miza. Orangnya baiiik, banget. Suka sama Linkin Park, Liverpool, sekaligus Michael Buble. Dia orang paling toleran yang pernah aku kenal. Dia berani nyelamatin sahabatnya dari jurang yang mematikan. Dia juga jujur, penuh kejutan, dan punya impian besar yang, hmmm ... aku nggak tahu harus balas budi kayak gimana andai dia ngajak aku gabung di impiannya itu. Dan, terakhir yang aku dengar, dia sayang sama aku."

Miza ingin tertawa. Namun dia tetap menahannya. Salah satu alisnya mengangkat. "Kenapa lo sepede ini, datang ke sini bawa ransel yang gue simpen di balik pintu, berlagak kalau gue bakal ngajak lo jalan?"

"Nggak, aku nggak pede. Aku nggak butuh pede." Aku mengeluarkan kado buku dari Miza dari dalam ranselku, dan kubuka halaman pertama. "Aku cuma ngikutin apa yang ada di buku ini. Peta harta karun. Petualangan yang nggak akan pernah aku lupakan. Barengan orang yang aku yakin bisa jaga aku meski kita harus lompat-lompat dari Bali, ke Lombok, ke Flores, ke Kupang, ke ... mana ini?"

"Itu Waingapu."

"Nah, iya, itu. Waingapu. Aku cuma pengin ngewujudin semua yang udah ditulis orang itu di sini. Balap sepeda di bekas bandara Lombok? Oke!"

Akhirnya Miza nggak tahan lagi. Dia tersenyum lebar lalu mengguncangkan bahunya, mencoba berhenti tertawa. "Lo curang." Lalu dia menampar pipiku pelan. "Lo tahu kalau gue nggak bisa ngelakuin ini kalau nggak ada lo."

"Maafin aku, Za!" Aku langsung memeluknya dengan erat, nggak peduli beberapa kernet yang sedari tadi berteriak, "Garut! Ciamis! Banjar! Tasik!" mulai memperhatikan kami. Kutenggelamkan wajahku dalam bahunya, dan menahan diri untuk nggak menangis.

Nggak. Nggak boleh menangis. Aku dan Miza sedang akan membuat petualangan yang penuh tawa. Bukan tangisan.

Miza menepuk bahuku dua kali. Lalu, berbisik, "Buka, woy. Entar banyak yang jealous."

"Maafin aku ...."

"Iya, iya!" Miza mengacak-acak rambutku, lalu menarik tanganku menuju Bus Budiman tujuan Banjar. "Tapi gue ada syarat yang mesti lo penuhin kalau mau ikut."

"Apa?"

"Next time lo pengin lihat cowok telanjang, please, jangan bikin gue ngerasa gagal sebagai cowok. Gue juga gini-gini macho, Bro! Kenapa nggak minta gue aja sih buat muasin nafsu lo?"

"Hahaha. Oke." Aku mengepit hidungnya. "Oh, kalau gitu juga aku ada syarat untuk kamu."

"Hah? Syarat apa?"

"Kamu harus menerima ucapan terima kasihku."

"Terima kasih untuk apa."

"Terima kasih karena kamu udah sayang sama aku."

The End

Onew's Note: Nah kan, pasti kalian ngerasa kentang? kalian nggak sendiri kok, aku juga ngerasa gitu. Ini tuh chapter paling singkat deh kayaknya. Ya ampun, Miza ini so sweet ya? pasti dia ini idaman uke2 cantik di dunia nyata. Semoga saya bisa nemuin Miza yang lain, dan kalian juga ya Botties, LOL.

Habis ini kalian pasti bakalan kangen sama saya deh. Semoga saya juga bisa buat tulisan ya. Semoga saya nggak malas buat nulis juga, hahaha. dadah.

CRUSHCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang