[3] Karena insiden.

52 21 0
                                        

Tangan dan kakinya gemetar. Digengamnya ponsel miliknya dengan erat. Tubuhnya melemas seakan sudah tidak ada kekuatan lagi untuk masuk ke dalam Rumah. Lagi-lagi, ia harus dibangunkan oleh kenyataan, bahwa Arsya harus pergi, pergi meninggalkan luka-luka yang akan terus membekas.

Dengan sekuat tenaga, Sarah memasuki rumahnya dan menuju lantai dua, tempat kamarnya berada. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur king size warna biruny. Menatap langit-langit dengan pikiran yang berkecamuk menjadi satu.

Ternyata sesulit ini untuk merelakan seseorang.

°°°

"Apa perasaan gue aja, kalau lo sama Arsya ngejauh gitu?"

Sebuah pertanyaan yang menjerumus menjadi sebuah pernyataan. Sarah menoleh ke kanan, kakaknya masih fokus menyetir. "Gue putus."

Pernyataan Sandra barusan sontak membuat Deon menghentikan mobilnya secara mendadak yang membuat kendaraan di belakangnya langsung membunyikan klakson. Deon langsung menepikan mobilnya. "Maksud lo putus, tuh apa?"

Sandra menghembuskan nafas panjang. "Ya putus. Udah gak ada apa-apa lagi."

"Kapan? Kok bisa? Siapa yang mutusin?" Ini nih yang Sarah males. Kakaknya selalu heboh. "Mending ya, cepetan jalan, terlambat rapat, mampus lo!"

Perlahan, Deon menjalankan kembali mobilnya dengan kecepatan yang masih terjangkau. Jam masih menunjukkan enam kurang sepuluh menit. Itu artinya masih banyak waktu sebelum bel sekolah berbunyi. Tapi, Deon yang notabennya wakil ketua osis, mau tidak mau harus berangkat lebih pagi daripada siswa lainnya yang mengakibatkan Sarah juga harus berangkat pagi. Dan, kebetulan banget hari ini Deon ada rapat OSIS.

Deon memakirkan mobilnya dengan aman di lapangan yang disediakan oleh Sekolah Tunas Harapan. Hanya ada sedikit kendaraan. Yang bisa dipastikan cuma kendraan milik anak-anak OSIS.

"Bang, masih sepi nih. Gue takut," ucap Sarah.

Deon membuka jaket yang ia kenakan tadi. "Yaudah, ikut gue ke ruang OSIS aja dulu." ia merapihkan lipetan jaketnya dan memberikannya pada Sarah "Nih, jaket gue lo bawa. Biar kagak kedinginan lagi."

Sarah menerima jaket itu dengan sebal dan memasukannya ke dalan tas. "Halah, bilang aja lo males bawa. Berat kan."

Deon terkekeh, "itu tau. Yaudah, lo mau ikut gue?"

Sarah menghentikan jalannya. Menimang-nimang tawaran dari kakaknya. Jujur, disatu sisi, ia takut jika pagi-pagi buta seperti ini sudah ada di dalam kelas, sendirian lagi. Apalagi banyak rumor kalau sekolah ini seram. Sandra bergidik ngeri membayangkannya. Tapi, di satu sisi lagi, kalau Sarah ikut ke ruang OSIS, pasti akan ketemu Arsya, karena pastinya semua anak OSIS akan berkumpul disana. Sia-sia usahanya dong?

"Cepetan! Gue udah di tungguin nih."

"Enggak, ah." Sarah menggeleng, "enggak mau."

Deon menautkan kedua alisnya, ditatapnya adiknya itu dengan heran. "Kenapa lo? Biasanya seneng kalau ke ruang OSIS. Ketemu ayang bebep." Deon tertawa puas saat melihat ekspresi Sarah yang seolah-olah ingin memakannya. "Eh, si Arsya kayaknya gak masuk hari ini."

"Kenapa?" tanya Sarah cepat.

Deon tertawa, "cepet banget kalo soal Arsya mah," Deon kembali melanjutkan langkahnya. "Sakit katanya. Ayo, udah lo ikut gue aja."

Sarah hanya bisa melangkahkan kakinya pasrah saat tangan kakaknya menarik paksa untuk ia ikut ke ruangan dimana para pelajar yang membakti ke sekolah kumpul, ruang OSIS.

Heart And Mind [EDITING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang