[4] Sepupu Fhara.

74 21 6
                                        

"Rayhan?"

Fhara menatap tidak suka lelaki yang berada di depan temannya—Sarah. Berbeda dengan Sarah yang menatap Fhara dan cowok itu yang sekarang ia ketahui namanya, dengan bingung.

Jadi, cowo itu namanya Rayhan.

Rayhan memutar bola matanya sebal. "Lo lagi, lo lagi. Kagak bosen apa ngehantui hidup gue?"

Fhara menyilangkan kedua tangannya didepan dada dan membulatkan matanya yang kini menatap Rayhan. "Ada juga gue yang ngomong gitu. Lo gak ada kapoknya apa diomelin sama om Irwan?" Fhara memalingkan pandangnya ke arah Sarah yang sedang menatapnya bingung. "Lo diapan, Sar, sama bocah tengil ini?"

"Kerjaan lo nuduh gue mulu. Inget mati, dosa lo udah numpuk."

Sarah semakin bingung dibuatnya. Merasa aneh dengan sahabatnya yang tiba-tiba datang lalu malah bertengkar melihat keberadaan Rayhan. Seolah Rayhan adalah najis yang sangat menajiskan.

Ia menatap Fhara dan Rayhan secara bergantian. Tidak mau ambil pusing dengan apa yang mereka ributkan walaupun sebenarnya ia sedikit—penasaran.

"Fhar, gue ke kelas duluan, ya." Sarah melenggang pergi, meninggalkan Fhara dan Rayhan yang masih beradu mulut.

"Ehh, tungguin!"

***

"Jadi, lo bener udah putus sama Arsya?"


Isu tentang Arsya dan Sarah putus itu udah nyebar kemana-mana. Apalagi ditambah Alma yang tadi berdebat dengan Sarah. Membuat mereka berfikir, kalau penyebab mereka putus adalah, Alma.

Tetapi, kenapa Fhara baru mengetahuinya sekarang? Kenapa juga ia harus mendengarnya lewat gosip yang berasal dari mulut-mulut tidak bertulang itu? Disini, poin dimana Fhara merasa bahwa Sarah tidak benar-benar menganggapnya sahabat.

Sarah menghembuskan nafasnya pelan. Sekarang, hidupnya menjadi tidak tenang jika selalu disangkut-pautkan dengan Arsya. Sarah hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Gue gak maksa," Fhara menghela nafas, "gak maksa buat lo cerita sama gue, walau gue penasaran."

Sarah lantas mendongakkan wajahnya, matanya menangkap wajah Fhara yang bercampur kesal dan melas itu membuat Sarah ingin tertawa sekarang juga. "Rayhan ... siapa lo?" tanyanya penasaran.

Rayhan. Dari tadi sebenarnya Sarah penasaran banget sama yang namanya Rayhan. Rayhan yang tampilannya urak-urakan berbeda banget sama Arsya. Rayhan yang mukanya kebule-bulean itu dan kulitnya yang putih bersih walaupun penampilannya acak-acakan. Iya, Rayhan yang tadi nolongin Sarah saat ditikam Alma.

Fhara menautkan kedua alisnya. Tidak menyangka kenapa Sarah harus menanyakan Rayhan disaat dirinya yang sudah menyiapkan banyak pertanyaan untuk Sarah. Ah, Fhara kesal banget kalau ingat Rayhan. "Dia sepupu gue."

Sarah mengangguk paham. Pantas saja kayaknya mereka deket banget. Ternyata sepupu. Tapi, kenapa sama sepupu kayak sama musuh bebuyutan?

"Dia itu bener-bener nyebelin banget, Sar. Pokoknya nyebelin! Gue pernah hampir diusir dari rumah sama orang tua gue, gara-gara dia ngaduin gue yang macem-macem. Padahal nggak. Orang tuanya tuh udah pusing banget mau bilangin si Rayhan gimana lagi supaya jangan bandel-bandel amat. Tapi, emang dasarnya itu anak tubuhnya udah kemasukan jin mah susah. Gak pernah dengerin apa kata orang tua!" ucap Fhara menggebu-gebu. "Dan, gue gak tau kenapa itu jin bisa sekolah disini." Seakan tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Sarah. Fhara berucap. Membuat Fhara sendiri semakin emosi.

Sarah tertawa. Tertawa antara melihat ekspresi Fhara saat ini yang kayaknya emang bener-bener kesal banget sama sepupunya itu. Atau, tertawa karena cerita yang diucapkan oleh Fhara? Ia sama sekali tidak menyangka kalau Fhara itu bisa mempunyai sepupu macam Rayhan. Yang suka membuat onar dan anehnya lagi, Fhara benci banget sama sepupunya itu.

"Eh, Rayhan kenapa tadi bisa sama lo?"

Tawa Sarah terhenti. Ia mengangkat kedua bahunya acuh. "Gak tahu juga. Tapi intinya, gue bener-bener makasih banget sama sepupu lo yang kata lo itu nyeblin."

"Makasih kenapa? Gue pikir lo dijahatin sama dia. Kok malah makasih?" tanya Fhara dengan bingung.

Sarah memalingkan badannya menghadap Fhara. Senyumnya benar-benar tidak bisa ia sembunyikan kalau mengingat gimana wajah Alma tadi. "Secara gak sengaja, sepupu lo itu, udah bikin Alma malu. Dan, ya ... dia juga nolongin gue gitu," ucap Sarah antusias.

"Gue gak ngerti, Sar." Fhara mengautkan kedua alisnya. "Kayaknya, lo harus cerita dari awal."

Jujur, Fhara sama sekali tidak mengerti apa maksud Sarah— Rayhan yang membuat Alma malu dan Rayhan juga yang menolong Sarah. Ah, kenapa dua-duanya harus ada Rayhan-nya sih?

"Nanti kalau ada waktu, gue janji bakal ceritain semuanya."

°°°

Rayhan berjalan dengan santai di koridor sekolah. Dengan tas punggung hitam dan baju yang dikeluarkan. Dapat Rayhan rasakan, banyak para siswa atau siswi memperhatikannya seakan Rayhan itu hal yang baru. Atau karena Rayhan ganteng? Tidak mau ambil pusing, Rayhan terus berjalan mencari dimana letak kelasnya berada. Sampai pada akhirnya, matanya menemukan banyak murid yang memperhatikan sesuatu dengan rasa takut. Diikutinya arah pandang itu dan ia menemukan sosok dua perempuan yang mungkin sedang bertengkar? Terlihat dari wajah salah satu perempuan yang ketakutan.

Ia masih terdiam ditempatnya. Menantikan 'drama' itu dengan teliti. Sepertinya ia tahu, penyebab mengapa mereka beragumen itu karena seorang, cowok?

Rayhan bukan terdiam lagi sekarang, tapi melongo! Melongo karena ia melihat salah satu dari perempuan itu melayangkan tangannya ke udara dan seakan ingin mendaratkannya ke pipi lawannya. Ini sih, gak bisa dibiarin.

Ia berlari cepat dan langsung mencekal tangan perempuan itu. Menghentikan aksi yang akan terjadi. Dan, Rayhan bisa merasakan keterkejutan dari si rambut berombre ungu.

"Ini sekolah. Bukan ajang pamer kekuatan." ucap Rayhan spontan.

Demi Tuhan. Walaupun berkelahi itu sudah mendarah daging dengan dirinya. Tetapi, ia sangat tidak suka ketika seorang perempuan bermain fisik. Bukan terlihat gentle seperti dirinya. Melainkan kasar.

Dengan cepat perempuan yang berada dihadapannya menghentakkan tangannya. Menatap tajam Rayhan dan sang lawan sebelum berlalu. Meninggalkan puluhan pasang mata yang menatap dirinya dan juga lawan yang ditinggalkan.

Rayhan memandangi objek didepannya yang sedang terdiam tanpa berkata. "Lain kali, kalo lo emang takut, gak usah nantangin." ucap Rayhan. "Baru digituin aja udah mau nangis."

Rayhan memandang remeh perempuan yang tidak ia ketahui namanya. Terlihat ada mimik wajah tidak terima atas perkataan Rayhan barusan.

"Makasih," ucapnya datar. "Gue ke kelas dulu, ya."

"Tunggu, lah. Lo pikir gratis?"

^^^

Jangan lupa bahagia! Eh jangan lupa votement hehe 😚

Heart And Mind [EDITING]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang