like a dream

48 5 3
                                    

Cahaya matahai perlahan menembus ruang itu, bersamaan dengan berhembusnya angin yang menerbangkan gorden tipis yang membingkai jendela ruangan.

Di sana tepat di tengah ruangan serba putih itu, terdapat seorang gadis yang tengah terbaring dengan alat bantu yang menunjang kehidupannya.

Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka, menampakan sosok wanita paruhbaya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah uzur itu.

wanita itu berjalan menghampiri gadis yang tengah terbaring, kemudian menduduki kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidur, di genggamnya tangan sang gadis, dan di kecupnya dengan lembut.

Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca, raut sedih terlihat jelas di wajah tuanya, hatinya merasa tersayat melihat anak satu-satunya yang ia miliki harus terbaring lemah dan tak sadarkan diri, melihat anak yang begitu ia sayangi tengah berada diambang hidup dan mati.

Perlahan di elusnya rambut sang anak dengan penuh kasih sayang dan dikecupnya kening gadis itu.

"Sayang, kapan kamu akan bangun nak? Apakah kamu tak rindu pada mamah? Mamah rindu sekali ingin mendengar suaramu" air mata menetes dari mata tuanya itu melihat kondisi anaknya yang belum juga siuman.

Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. lalu masuklah wanita paruh baya yang lainnya bersama seorang balita berumur satu tahun dalam gendongannya. Membuat wanita yang tengah duduk itu menengok ke arahnya.

Wanita itu tersenyum melihat siapa yang datang, lalu bangkit dan menghampirinya. Di peluknya wanita itu, tak lupa di raihnya dan di kecupnya kening balita itu dengan sayang.

"Salma, sebaiknya kamu pulang saja. Biar aku yang jaga Deva" ucap wanita yang baru masuk tadi sambil memandang salma -wanita paruh baya lainnya- kemudian mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang sedang terbaring di ranjang -Deva- dengan tatapan yang sendu.

"Tak perlu Nad. aku tau kamu pasti lelah mengurus Azka dari kemarin" ucap Salma kepada Nadia

"Tapi kau bahkan belum makan, setidaknya makanlah dulu jika kau tak ingin pulang. Aku tak ingin kau sakit, jika kau ikut sakit nanti siapa yang akan menjaganya?!"

Salma terdiam mendengar ucapan Nadia, kemudian menghela napas. "Baiklah aku akan makan. Kalau begitu aku titip Deva" Salma hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan Nadia, dan mulai melangkah pergi meninggalkan ruangan itu bersama azka yang berada dalam gendongannya.

****

Nadia hanya bisa tersenum saat melihat tubuh salma yang telah menghilang di balik pintu, kemudian dia mulai melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Deva berbaring, dan duduk di tempat tadi salma duduk.

Di elusnya rambut Defa dengan sayang lalu di cekupnya kening Deva dengan lembut. "Cepatlah bangun sayang semua sudah sangat merindukanmu" ucap Nadia dengan senyum sedih yang tergambar di wajahnya.
****
Sementara itu di ruangan lain, tengah terbaring seorang pria dengan berbagai alat penopang kehidupan yang menempel di tubuhnya. Terlihat pergerakan kecil dari tangannya, lalu tak lama mata itu mbuka menpilkan iris mata berwarna hijau yang tengah menatap bingung sekitarnya.

kemudian pintu ruang itu terbuka menampilkan sosok pria paruh baya, yang kemudian menatap kaget, saat tau pria yang tengah berbaring itu kini telah sadar dari tidur panjangnya.

Seakan baru tersadar dari keterkejutannya lelaki paruh baya itu langsung menghpiri ranjang tersebut, kudian menekan tompol yang berada di samping tempat tidur untuk manggil dokter.

***

Hallo semua!!!
Ini adalah cerita pertama saya saya harap kalian suka
Jangan lupa vote dan komennya karna saran dari kalian itu penting banget.

Semoga suka ya!!!!! :)

Love you all

Like A DreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang