"Akhir", album kecil karyanya terjual dengan mulus. Teman-teman SMA-nya sudah menduga kalau ia pasti akan berhasil. Gilda begitu senang, tetapi masih menolak tawaran untuk tampil di acara-acara besar. Ia ingin berkuliah dengan tenang; itulah alasan yang selalu ia gunakan. Tak lama setelah ia besar, seorang pria tampan dan pintar berhasil menembus dinding hati Gilda, Lucky namanya. Sudah hampir dua tahun mereka terus bersama sampai SMA Gilda dulu mengadakan reuni.
Ajang besar yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak sukses atau berpasangan dengan seorang yang hebat dan menawan, atau bahkan keduanya. Gilda ingin datang ke sana dengan kedua alasan tersebut, tapi jauh di dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa Lucky punya segudang alasan untuk menolak ajakannya. Itulah yang selalu terjadi selama ini. Tetapi jika sebaliknya, ia harus ikut kemana pun Lucky pergi apapun yang terjadi. Rasanya ingin sekali ia mengakhiri hubungannya, tetapi ia berpikir bahwa belum ada jalan untuk itu.
Hari itu datang, ia sangat senang untuk dapat berkumpul dengan teman-temannya yang tulus ada di sisinya sebelum dan setelah dirinya terkenal. Lampu-lampu yang jumlahnya sangat banyak tidak dapat mengalahkan terangnya senyuman dari anak-anak seangkatannya. Masa-masa SMA memang paling bermakna. Hatinya berasa sangat lega sampai ketika pria – dengan pakaian paling sederhana yang ia liat di sini – duduk di atas bangku di panggung menyanyikan lagu ciptaan Gilda waktu SMA. Satu hal yang ia ingat, lagu itu adalah tentang ... Navad. Matanya melebar, hatinya berdebar. Bukan hanya karena suara pria itu yang bergitu merdu, tetapi juga karena pria itu adalah Navad.
"Tak sedikit pun kau milikku, tak sedetik pun ku di hatimu. Selamanya akan begitu, nafasmu bukanlah untukku."
Sisanya adalah hal-hal yang terperinci tentang Navad. Gilda membeku tak tahu harus bagaimana. Tak lama, semua mata ada pada Gilda, entah apa yang dikatakan Navad di atas panggung – Gilda sama sekali tidak mau peduli – sehingga ini semua terjadi. Gilda spontan lari ke taman belakang SMA dengan perasaan tak percaya akan kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JALAN
ContoTerkadang kita harus mencari jalan sendiri, bukan menunggu untuk ditunjukkan ke sebuah jalan.
