Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bosku Yang Malang

887 55 2
                                        

Haloo..  Selamat pagi.
Buat para readers,  kali ini cerita yang ku post,  Real!!! Buatan aku sendiri. 
Jadi selamat membaca...

Aku lelah sekali setelah bekerja setiap harinya hampir 12 jam penuh. Belum lagi aku harus menghadapi bosku yang pemarah. Meskipun aku sudah berusaha keras dia selalu mencari kesempatan untuk memarahiku. Entah apa sebabnya. Aku pun tidak tahu.

Tadi, dia memberiku beberapa dokumen untuk diperiksa, sebagai bawahan tentu aku langsung mengerjakan perintahnya. Tapi tak lama kemudian, belum lagi aku selesai dengan dokumen itu, dengan semena-mena dia menyuruhku untuk memfotokopi beberapa lembar file, membuat minumnya, bahkan mengelap mejanya.

"Ada apa dengannya? Memfotokopi sesuatu file bukanlah tugasku, melainkan tugas Pak Karyo, begitu juga mengelap dan membuat minumnya. " tapi biarlah aku masih sabar dengannya. Aku berpikir positif. Mungkin Pak Karyo sedang keluar, makanya ia menyuruhku.

Tak basa-basi aku langsung pergi menuju lantai paling bawah untuk segera memfotokopi file yang diberikannya.

Setelah sekitar 10 menit aku kembali kemejaku setelah memberikan hasil fotokopian yang diminta oleh bosku.
Aku sangat kesal padanya. Dia tidak mengatakan apapun, atau sekedar berterima kasih tetapi dia langsung menyuruhku keluar dari ruangannya.
"Bos macam apa ini?" batinku.

Aku masih duduk dengan dokumen-dokumen yang berserakan di mejaku. Tak sadar aku, tiba-tiba bosku sudah ada dibelakangku.

"Ekhem!! Ekhem!! Marco, apakah begini caramu bekerja? Semuanya berantakan! Bagaimana jika ada dokumen yang tertukar?" katanya dengan suara beratnya.

"Mm.. Maaf Pak, saya sedang memeriksa dokumen ini dengan sangat serius, sehingga saya melupakan dokumen yang lainnya,"

"Alah, jangan banyak alasan kamu! Dari tadi saya lihat kamu hanya membolak-balikkan kertas itu saja! Sebenarnya kamu niat kerja gak sih? Saya tidak menggaji kamu untuk santai-santai"

Belum siap dia bicara aku langsung memotongnya. "Tetapi sungguh Pak, saya sedang mengerjakan perintah anda. Saya sama sekali tidak bersantai"

"Sudah cukup! Terlalu banyak kamu membuat alasan"

Tiba-tiba dia berbalik kebelakang dan menepuk tangannya. Plak plak!! Sekitar dua kali tepukan.

"Hei semua karyawanku. Lihat si Marco, kerjanya sangat tidak beres. Jangan tiru dia." dia tersenyum sinis kesarahku.

Aku hanya menunduk saat mendapatkan perlakuan yang tak mengenakkan ini dari bosku. Aku diam dan mulai tersenyum. Senyuman sama yang dilontarkannya padaku. Bedanya, dia tidak melihat senyumku. Karena aku sedang menunduk.

Jam sudah menunjuk pada angka 9. Semua karyawan sudah pulang. Hanya tinggal aku dan bosku yang masih di kantor ini. Seperti biasa aku sedang duduk dengan tugas-tugas yang diberikannya padaku. Sangat banyak tugas yang diberikannya. Hingga aku tidak yakin akan menyelesaikannya satu jam lagi, sedangkan pacarku Steffi sudah meneleponku dari jam 6 sore tadi. Untungnya dia sedikit pengertian. Mungkin tidak ada ciuman untuk malam ini.

Otakku semakin liar. Aku sudah tidak sabar ingin segera melakukannya. Hal yang selama ini selalu kutahan dan hari ini aku sudah tidak sanggup. Fix, aku akan melakukannya malam ini.

Aku mengambil pisau dilaci mejaku. Pisau ini baru kubeli tadi di toko saat jam makan siang.

Aku mengambil beberapa dokumen. Aku menuju ruangan si Gusto, bosku. Samar-samar kulihat dari balik jendela ruangannya dia sedang menulis diatas sebuah kertas.

Aku masuk seperti biasa, dengan ketukan pintu dan dia langsung menyuruhku masuk. Dia membuka kaca matanya dan mencoba memperhatikanku.

"Oh, kau Marco, sudah siap dengan dokumennya?" tanyanya.

"Sudah Pak, ini dia." Aku memberikan dukumen itu padanya.

Dia memakai kembali kaca matanya dan membolak-balik kertas itu. Atau mungkin dia sedang mencari-cari kesalahanku melalui dokumen itu.

Tanpa banyak bicara, aku mengeluarkan pisau itu dari sakuku dan langsung menodongkannya tepat kewajah bosku yang menyebalkan itu.

"A-ada a-apa ini Marco?" ekspresi penuh ketakutan. Dahinya yang semula masih mulus, kini mulai menampakkan kerutan.

"Ada apa? Lensa kaca matamu kurang tebal ya? Ini pisau bos. Aku baru saja membelinya tadi, khusus untuk anda"

"Ja-jauhkan benda itu dariku Marco"

"Sudah diujung tanduk seperti ini, pun, kau masih bisa memerintahku?" aku semakin mendekatkan ujung pisauku kehidungnya.

"Uwahahaha... Sudah cukup selama ini kau selalu memarahiku. Nyuruh ini, nyuruh itulah. Malam ini aku akan balas dendam. Uwahahaha..."

Aku sudah tak sabar, sedang perutku terasa geli. Tanpa panjang lebar. Tuss... Aku menusuk hidungnya dengan pisauku. Matanya membelalak. Cairan merah kental mencuat dari hidungnya. Darah itu mengalir kebawah, masuk ke mulutnya yang menganga.

Aku puas sekali. Hahahaha.. Tapi tidak itu saja. Aku menarik pisauku, dan kulihat ada lubang dihidungnya yang tidak terlalu mancung itu. Lubang yang tidak hentinya mengeluarkan darah. Aku berjalan kearahnya.

Dokumen yang terkena cipratan darah itu kugeser kesamping dan aku duduk diatas mejanya.

Dengan pisau yang berlumuran darah, aku melanjutkan aksiku. Kali ini aku ingin melihat sekali lagi senyum sinisnya padaku. Tapi bagaimana? Dia sudah mati. Tidak mungkin bisa tersenyum lagi.

Otakku yang kotor ini, segera memberi perintah pada tanganku yang tegang ini. Aku menyayat bibirnya. Kekanan dan kekiri. Aku menyayatnya hingga ketelinga. Sehingga darah mengalir deras dan membentuk senyuman dibibirnya. Oke ini pas sekali! Sekali lagi aku tertawa seperti anak kecil yang mendapatkan kesempatan untuk melukis wajah temannya yang sedang tidur.

Kepuasanku belum sepenuhnya terpenuhi. Aku masih ingin melanjutkannya. "Tak sia-sia aku mebeli pisau ini, ini sangat tajam" batinku berkata.

Sekarang aku akan memisahkan kepalnya dari badannya. Aku menyayat lehernya. Baru satu sayatan, darah segar menyembur kewajahku. Aku merasakan bau anyir yang sangat pekat. Ditambah lagi rasa manis dari darah itu.

Aku kembali menyayat lehernya dengan sangat pelan. Pelan tapi pasti. Tak sampai menunggu lama, kini kepala itu telah jatuh menggelinding kelantai. Dan kulihat lehernya yang rata. Aku rasa ini sudah sudah cukup. Aku mulai merindukan Steffi.

Aku pergi keluar untuk mencari karung.Ternyata tidak ada dimanapun. Lalu aku ingat gudang penyimpanan barang bekas yang ada dikantorku. Akupun menuju kesana dan mengambil dua karung kosong.

Aku kembali keruangan bosku yang sudah dibanjiri darah. Dari depan pintu saja sudah menggenang darah kental yang pekat. Aku berjalan kearah bosku.
Aku memasukkan kepalanya kedalam karung. Lalu aku berusah untuk mengangkat badannya yang yang lumayan berat. Tapi ini sepertinya lebih berat dari yang kubayangakan. Tanpa berpikir panjang, aku pun membaginya dalam ukuran yang lebih kecil. Mulai dari leher kedada. Dada ke selangkangan. Ususnya keluar seperti jelly. Aku suka sekali ini. Tak lupa kedua tangan dan kakinya juga aku pisahkan dari tubuhnya. Huh selesai sudah. Jika begini aku akan lebih mudah memasukkannya kedalam karung.

...........................

"Ditemukan potongan-potongan manyat yang terbungkus dalam sebuah karung di sungai dekat jalan Rajawali. Potongan mayat itu adalah mayat laki-laki paruh baya, yang diduga dibuang di sungai. Siapa pelakunya masih menjadi misteri. Polisi sedang malakukan penyelidikan. Diduga korban adalah seorang bos di sebuah perusahaan ternama...."

"Sayangg,, omeletnya sudah siap" kata steffi dari dapur.

"Oke sayang, sebentar. Aku datang" aku mematikan televisi dan langsung menuju dapur.

"Kasian ya orang itu sayang.. " kata Steffi sambil meletakkna omeletku diatas piring.

"Ah ngapai diurusi. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin saja dia memang pantas mendapatkan itu. " kataku santai sambil tersenyum sinis.

Ada yang pernah ngalamami hal yang sama dengan yang dialami Marco?
Moga-moga enggak ya
Tapi saya buat cerita ini bukan berarti saya psikopat yaa..
Hihihi
Keep vomment yoo..

The Haunted StoryCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang