Putih itu telah tergantikan oleh merah. Merah yang menghantui. Merah yang berbahaya.
.
#
.[WARNING]
ver 2.0. time for the glory; smutty part.
.
.
.
.
.
.
.
#
Ada seseorang yang datang. Di suatu tempat yang tak diketahui, tersembunyi.
Dia datang membawa senyuman. Menyapa dalam keheningan. Lalu mengajak pergi. Mengantar ke sebuah padang bunga warna-warni, cicit riang burung mungil layaknya ilustrasi singgasana dalam dongeng lama. Singgasana yang hanya miliknya. Indah yang seindah dirinya.
Satu waktu yang sementara. Terasa begitu lama saat bersama dengannya. Berpegangan tangan. Tertawa riang. Kedamaian yang seolah memanjakan, tak ingin agar diri beranjak pergi.
Hingga waktu yang akhirnya membawa sosok itu pergi entah kemana. Menghilang tanpa jejak. Hanya tersisa pecahannya dalam imajinasi. Dalam dirinya, seorang pemuda, yang sejenak terperanjat, lalu terkungkung oleh diam.
Dia putuskan untuk terus berjalan menelusuri tempat itu. Tak ingin semuanya berakhir tanpa arti. Hingga hilangnya cahaya. Cicit riang burung mungil. Padang bunga.
Sampai pada sebuah kegelapan yang mengantar. Kegelapan yang kembali menghadapkannya pada sosok itu. Seseorang yang tadi menghilang. Yang kini berdiri tegak menghadapkan punggungnya.
Layaknya bilau pisah yang terasah dalam bening matanya, sosok itu menatapnya tajam. Bak cahaya dalam gelap malam, tertangkap olehnya seberkas kilatan dalam pekatnya hitam bola matanya. Tanpa segaris senyum di bibirnya yang mampu membuatnya lega.
Tak lagi dia mampu untuk melangkah lebih jauh dari tempatnya berdiri untuk sesaat.
Dalam sekejap mata, sosok itu menjadi berbeda. Seperti tak ingin menyapa. Tak ingin berteman.
Namun seperti tak tersirat kebencian. Hanya sebuah rasa yang membuat penasaran. Tatkala satu senyuman akhirnya diberikan, mencirikan sebuah keangkuhan. Memberikan sebuah tantangan.
Keindahannya kali ini ditemani satu pesona asing yang menyentuh insting primitif.
Sosok itu kemudian kembali meninggalkannya di kali kedua.
Sampai beberapa saat kemudian, bisikan asing sampai di telinga untuk kembali mengikuti jejaknya. Membiarkan kembali kegelapan yang mengantar perjalanan. Kembali menelusuri ruang yang makin lama terasa sesaknya.
Tibalah akhirnya dia di sebuah tempat. Tempat yang kali ini seperti tak berhawa. Membuatnya serasa melayang dalam kehampaan.
Kehampaan yang terasa lebih pekat dari sebelumnya. Menelan bongkahan keberaniannya.
Dan ketika dari jauh nampak setitik cahaya yang tak tahu dari mana datangnya, serta-merta dia terkejut.
Cahaya yang kemudian dilambangkan dengan sosok itu. Lagi.
Sosok yang kali ini melambaikan tangan. Masih sosok di awal mula. Masih menghadapkan punggungnya padanya.
Namun kali ini benar-benar punggungnya yang ditampakkannya. Punggung yang nampak begitu halus. Kulit yang begitu halus. Yang kemudian terjatuhlah busana tipis yang sejak awal menggantung pasrah di tubuhnya. Helaian panjang sutra merah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Enchanted • [ TaeKook/VKook ]
Fiksi Penggemar[ Mini Series | Bahasa | BxB | BTS | TaeKook/VKook | Alternate Universe] Sosok yang datang bagai angin, berlalu tanpa meninggalkan nama. Membawa senyuman, menyisakan kenangan. ☆ 2016©chevalo