"Sayaaaaang, jangan bercanda terus. Ayo diabisin sarapannya nanti kamu telat." Omel Nada, yang tengah sibuk mengaduk bubur beraroma pisang sembari sesekali melongokan kepalanya ke ruang makan, tempat dimana suami dan anak-anaknya tengah sarapan.
Nada tersenyum ketika tangan mungil Teo si bungsu, menarik-narik dasi sang ayah. Membuat Ditto kepayahan menyuap sarapannya karena selalu di kacaukan oleh jagoan kecilnya.
Sedangkan si sulung Naditta dan si tengah Archilla masih sibuk memperdebatkan antara buah raspberry atau strawberry, sambil sesekali menyuapkan sereal kedalam mulut masing-masing.
"Ayah, lebih enak raspberry atau strawberry." Archilla bertanya dengan mulutnya yang penuh.
"Apa aja, kalau ayah suka keduanya."
Nada menghampiri meja makan, menyimpan bubur beraroma pisang itu di atas meja, sebelum mengambil Teo dari gendongan Ditto.
"Bu, ibu lebih suka strawberry atau raspberry?" kali ini Archilla bertanya pada sang ibu.
"Dua-duanya, sekalian aja crunshberry, blueberry, cherry, blackberry. Ibu suka semuanya."
"Seharusnya kamu gak usah tanya ibu, de." Bisik Naditta, tapi masih bisa terdengar baik oleh Nada, membuat ibu tiga anak itu mendelik pada kedua anak perempuannya.
"Oke Oom Juand gak akan ibu suruh nginep dirumah kita."
"Yah ibu, kok gitu sih."
"Teteh, sarapannya cepet diabisin, jemputan kalian bentar lagi datang." Itu suara Ditto yang mengintrupsi, biar debat antara ibu dan anak ini tidak diperpanjang. Nada geleng-geleng kepala, karena tau niat sebenarnya dari sang suami, padahal dia belum selesai ngomel sama Naditta dan Archilla, tapi Nada ngalah juga karena Teo sudah mulai tak mau diam, minta untuk diberikan sarapan juga.
"Lembur?" Satu pertanyaan itu lolos dari bibir Nada, saat ia membetulkan simpul dasi yang kendur, akibat ditarik-tarik oleh Teo. Ditto mengangguk.
"Ini hari sabtu Aa, harusnya kamu libur. Kenapa ini malah dapet jam lembur." Sekarang tangan lentiknya mengusap bahu Ditto, merapikan kemeja biru yang terlipat.
"Nanti Aa usahain pulang lebih cepat. Aa berangkat dulu." Pamit Ditto sembari mencium kening Nada, lalu beralih menciumi Teo yang tertidur pulas dalam gendongan Nada. "Hati-hati."
Jangan tanya dimana Naditta dan Archilla, jemputan mereka udah dateng sepuluh menit yang lalu. Naditta usianya enam tahun, sekarang duduk di kelas satu sekolah dasar. Sedangkan Archilla dua tahun dibawahnya, dan kini duduk di kelas nol kecil. Dan yang terakhir si bungsu Teo, usianya baru delapan bulan.
Setelah rumah sepi, Nada menidurkan Teo didalam box bayinya. Mulai kegiatan rutinnya membereskan rumah, dan hari ini harus lebih cepat, karena setelah menjemput Archilla dan Naditta mereka harus pergi ke supermarket, membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Sesungguhnya hari ini Ditto berulang tahun, itulah yang menjadi alasan Naditta dan Archilla memperdebatkan antara strawberry dan rasberry karena mereka ingin menambahkan buah-buah cantik itu sebagai daftar hiasan untuk kue sang ayah.
.
Satu notifikasi masuk ke handphone Nada, ia sedang sibuk dengan stirnya, Teo duduk manis di car set ditemani oleh kedua kakak perempuannya, di kursi bagian belakang. Keduanya tak henti mengerjai Teo yang menggemaskan.
"Teh, coba liatin hape ibu. Ada pesan dari siapa?" tanya Nada masih fokus pada kemudinya, sembari menyodorkan handphone-nya pada Naditta.
Naditta mengulurkan tangannya, untuk meraih handphone yang di sodorkan Nada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Choice
Fiction généraleMenurut lo nih, nikah itu karena apa sih? - Biar punya pasangan hidup? - Ngikutin sunah? - Sudah sama-sama cinta? - Dijodohin? Atau Ada Pilihan Lain??? HJJUNG ©2016
