Chapter 4

1.6K 132 0
                                    

Setelah memeriksa keadaan tubuhku, kami memutuskan untuk pulang. Mungkin Oppa sudah pulang, ia pasti khawatir karena melihatku tidak berada di rumah. Aku pulang diantar oleh bibiku. Sekarang bibiku sudah tidak menangis lagi. 'syukurlah...' saat kami tiba, kulihat seorang namja di depan gerbang rumahku. Itu oppaku. Kulihat wajahnya sangat khawatir. Saat ia melihatku, ia segera berlari ke arahku, ia memelukku. Oppa memelukku sangat, sangat erat. Kurasakan nafasnya terengah-engah, jantungnya berdetak sangat cepat. Baru kali ini ia memelukku. Aku rasanya ingin menangis. 'ani...aku tidak boleh menangis'
"Oppa kenapa Oppa tiba-tiba memelukku?"
"kamu dari mana saja Oppa kan jadi khawatir...lain kali kalau mau keluar tanya Oppa dulu yaa"
"nde Oppa...hihihi ekspresi Oppa lucu deh..."
Wajah khawatirnya sangat lucu hingga membuatku tertawa. Ini adalah pertama kalinya aku tertawa lagi setelah kedua orang tua kami meninggal. Oh tuhan aku mohon biarkanlah aku tertawa lebih banyak lagi sebelum kau memisahkan aku dengan oppaku.
"kamu ini Oppa kelitikin nih..."
"andwe Oppa andwe...wah Oppa geli hentikan Oppa itu geli".
Oh tuhan aku ingin kebersamanan ini selalu kurasakan sebelum aku meninggalkannya.
'Miane Oppa...aku tidak memberitamu...aku tak ingin Oppa khawatir...aku tidak ingin kehilangan senyum indah Oppa'.
"kalau begitu kita masuk yuk, di luar sini dingin" kami pun segera masuk ke dalam.

***

Kai segera membawa adiknya masuk. Ia menyiapkan cokelat panas untuk dirinya dan adiknya. Kehangatan diantara keduanya membuat udara dingin tak terasa lagi. Younjoo sangat bersyukur, ini pertama kalinya ia dan oppanya minum cokelat bersama di depan tungku perapian. Kehangatan ini lah yang sangat Younjoo rindukan.
"Oppa malam ini malam natal ya? " tanya Younjoo pada oppanya.
"nde..."
"apakah Oppa membelikanku hadiah" tanya Younjoo penuh harap. Ia berharap oppanya membelikannya hadiah.
"ah...Oppa lupa...astaga kenapa Oppa bisa lupa ya"
"Hmmm tidak apa-apa kalau Oppa tidak mengingatnya" wajah Younjoo yang awalnya semangat berubah jadi wajah penuh kekecewaan. Melihat wajah adiknya Kai tak kuasa menahan tawa.
"Hahaha...jangan kecewa begitu...Oppa ingat kok, Oppa juga membelikanmu sesuatu"
"Jinjhan?..." kini wajah Younjoo kembali bersemangat. Ia tidak sabar melihat apa yang akan oppanya berikan kepadanya. "nde..."

Kai mengambil sesuatu dari belakangnya. Sebuah boneka beruang berukuran sedang dengan paduan warna pink yang menghiasi seluruh bagian dari boneka tersebut dengan pita bertuliskan nama 'Younjoo' yang terikat di lehernya.
"ini hadiah buat kamu."
Kai kemudian memberikan boneka itu pada Younjoo.
"wah boneka ini sangat cantik...wah ada nama Younjoo...gomawo Oppa aku sangat menyukainya, ini adalah natal yang paling menyenangkan di hidupku" Younjoo memeluk erat-erat boneka pemberian Oppanya itu. Ia sangat senang.
Melihat senyuman adiknya Kai pun ikut tersenyum. Malam itu malam yang dipenuhi kehangatan, malam natal yaabg sangat menyenangkan untuk keduanya.

Setelah menghabiskan cokelatnya Kai menyuruh Younjoo untuk kembali kekamarnya karena hari sudah semakin gelap. Younjoo menuruti oppanya dan segera menuju kamarnya. Sebelum itu ia memelukku Oppa nya terlebih dulu. Pelukan yang sangat erat.
Setelah itu ia segera ke kamarnya. Melihat tingkah adiknya membuat Kai kembali tersenyum.

Saat membersihkan sisa makanan, tiba-tiba Kai mendengar suara.
Brukk...
Suara itu berasal dari kamar Younjoo. Kai segera menuju kamar adiknya. Betapa kagetnya ia saat melihat sosok adiknya tergeletak di lantai. Kai segera berlari menghampiri adiknya. "yaa...Younjoo-ah gwenchana? Yaa... Younjoo apa yang terjadi padamu... Younjoo-ah buka matamu yaa..."
Kai segera meraih ponselnya dan menelpon ambulans.

Goodbye OppaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang