Kau hiasi senyummu dengan pijaran bintang
kemudian mengabadikan kerlipnya dalam gelapnya petang
andainya bulan menjadi perumpaan yang tertinggi untuk melukis indahmu
niscaya terbenamlah kata kataku untuk puisikan anggunmu
kau tak dapat di nukil untuk menjadi sebuah ibarat
kau tak sanggup ku ukir dalam lukisan tinta tinta yang pekat
apakah yang seharusnya menjadi umpama
sedangkan kedip matamu saja tak mampu ku eja
baitku adalah lautan yang membentang di dataran kehidupan
tetapi saatku menulis tentangmu
satu kalimat pun terlampau sulit aku goreskan
Aku tak pernah melihat matahari tertunduk lesu
saat dia tahu aku begitu bodoh kala ingin mempuisikanmu
aku tak pernah merasakan angin bertiup memutar
ketika ia sadar bahwa aku tak berkutik menyematkan lagu supaya di hatimu rayu mengakar
Jika terlalu dalam kau tempatkan indahmu
mungkinkah rasaku begitu dangkal hingga kita tak seiring berdekatan
atau engkau begitu dekat namun aku tak mampu melihat
ataukah kau tengah menerawang jiwaku
sedangkan ku tak begitu peka terhadapmu
Surabaya, 26-01-2017
"Juan Al-Gibrani"

YOU ARE READING
AKSARA DI LANGIT JINGGA
PoetrySebuah kumpulan bahasa hati yang terangkai menjadi sebuah intuisi dalam puisi. baitnya sederhana karya dari seorang anak pinggiran sebuah desa.