2. Merak-Bakauheni dalam Cinta

42.5K 2.3K 47
                                        

Selat sunda, sebuah wilayah perairan sempit yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Sumatra. Sebuah geografis tempatku berada saat ini hingga beberapa menit kemudian. Sejauh mataku memandang, hanya hamparan air berwarna biru. Sementara di bagian barat, senja kemerahan mulai menunjukkan pesonanya. mataku terperangkap bermenit-menit sekedar menikmati warna biru dan jingga berbaur jadi satu dan menjadi pemandangan indah yang utuh atau pemandangan utuh yang indah. Luar biasa.

A speed moment,” suara bening itu terdengar. Aku menoleh dan mendapati seorang gadis berjilbab lebar berekspresi sama denganku; takjub. Gadis itu tersenyum dan menoleh padaku.

“Inayah.”

Aku masih diam. Kuberikan ia kesempatan bertanya-tanya tentang namaku. Namun, sepertinya, aku salah. Ia tak bertanya siapa aku, dan asyik masyuk menikmati langit senja.

“Kalau di daratan, warna maghrib ini akan diiringi panggilan Ilahi yang maha indah.” Gadis itu merentangkan tangan. Ia membiarkan angin menerbangkan helaian baju dan jilbabnya. “Tapi, rupanya, aku juga menikmati tasbih alam melalui angin maghrib.”

“Setidaknya, ada banyak makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki cara menyebutNya secara berbeda-beda.” Balasku, lebih terkesan retoris dan mengimbangi. Mencoba ramah terhadap orang baru, kupikir tak masalah.

“Yah, hanya Dia yang pantas dipuja dengan segala pujian.”

Aku mengernyit. Sebaiknya, aku harus pergi dari sini ketimbang melewati dialog demi dialog yang berat. Aku tak pernah bermimpi mengikuti percakapan seperti ini.

“Kakak mau ke Sumatra?”

“Kemana lagi tujuan kapal ini jika bukan ke sana?”

“Senang mengenalmu.” Ia tertawa ceria lalu pergi dari tempatku. Aku masih terbengong-bengong dibuatnya. Tadi kan aku yang berniat pergi. Lagipula, bukankah aku bersikap tidak kooperatif padanya, kenapa dia bisa merespon demikian tulus? Atau gadis itu diciptakan sebagai makhluk yang tidak terlalu peduli pada sikap orang? Eish, lalu apa peduliku memikirkannya?

Pertentangan pikiranku terusik karena sebuah pesan masuk. Dari ibuku.

Sudah tiba dimana?

Aku tersenyum. Wanita yang kusayangi itu masih sering mengkhawatirkanku. Inilah yang membuatku bangga memiliki ibu seperti beliau. Sosok yang menjadi panutanku, sekaligus wanita hebat penginspirasiku dan  ia menyayangiku. Aku sangat beruntung, berikut juga ribuan manusia yang terlahir ke bumi dari rahim wanita.

Jariku mengetik pesan balasan. Message sending failed! Ouch, apa pulsaku habis? Aku melihat sinyal yang terpampang di layar ponsel. No network connection. Sial. Bagaimana SMS ibuku bisa kuterima sementara SMS yang akan sending gagal terkirim karena tak ada layanan jaringan? Apa operatorku tengah berkonspirasi dengan gadis sok tulus tadi? Merencanakan sebuah kudeta dalam hatiku agar moodku memburuk? Oh, sepertinya persangkaanku sangat akut.

Aku menguntang-antingkan ponselku di udara, berharap ada sinyal yang nyangkut di telepon selulerku. Nihil.

“Aish…!” geramku lalu mengantongi benda berukuran 8 inchi itu dalam jaket yang kukenakan.

“Sepertinya, layanan operator manapun saat di wilayah laut memang sedikit buruk, Nona.” Sergah seseorang membuatku mendesis. Aku menoleh dan pria itu berdiri sekitar 5 meter dariku. “Jadi ke Sukaraja?”

Mati aku. Kenapa ia tersenyum bersahabat begitu? Aku mengangguk-angguk dengan bodohnya. Ia duduk di sampingku. “Sudah shalat?”

Pertanyaan lanjutan, jantung berkonfrontasi. “Aku udzur.” Kilahku mencoba memakai bahasa yang digunakan Najwa saat ia tidak shalat karena tengah datang bulan. Padahal aku mengatakan seperti itu agar Mufti tak menanyaiku lagi. tanpa kusangka-sangka, lelaki itu terkekeh.

Serenade JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang