8. Rahasia yang Terkuak

34.2K 2.2K 110
                                        

Aku menyambut rombongan dari kampusku yang ditugaskan meninjau kinerjaku selama mengikuti rotasi klinik. Ada dosen pembimbingku, pak Erwin, kemudian rector kepala dan dekan. Nyaliku menciut melihat mereka. Di belakang mereka, Miranti turun dan menenteng tasnya.

Kami hanya bersalaman, duduk di ruang tamu dan tanpa basa-basi, tim survey langsung menanyakan administrasiku. Ada 3 macam, program kerja, journal pengobatan dan buku harian selama rotasi klinik.

"Kau betah di sini?" Miranti mengecilkan volumenya. Aku mengangguk. "Wali baik ya padamu?" aku mengangguk lagi.

"Kita akan bekerja sama selama dua minggu,"

"Aku butuh bimbinganmu, Kak Mira,"

Residen S2 itu tersenyum. Ia mengangguk pelan dan menepuk bahuku.

"Aku juga bersedia menjadi teman curhatmu. Santailah. Kulihat, kau punya banyak masalah."

Aku tertegun. Apa wajahku ini terlalu jujur?

"Killa, selama hamper seminggu kau di sini, program yang kamu laksanakan berapa persen?" pertanyaan dari dekanku.

"Masih sekitar 15%, Bu. Semua termasuk program harian, sementara program mingguan harus tertunda karena suatu hal,"

"Suatu hal?"

"Salah satu tokoh masyarakat meninggal dunia sehingga kami bertakziah,"

Dekanku namanya Bu Fanny. Wanita yang berusia 38 tahun itu mengangguk mengerti.

"Toleransi di desa ini sangat tinggi," ia menimpali, "bagaimana lingkungan ini? Kau bisa beradaptasi?"

Aku mengucap syukur dan mengiyakan pertanyaan Bu Fanny. Sepertinya wanita itu menyudahi pertanyaannya. Sekarang giliran rector kepala yang menyodoriku pertanyaan.

"Dalam sehari, ada berapa pasien yang kau tangani?"

"Tidak pasti, Pak. Rata-rata berkisar 15-25 orang,"

"Bagaimana respon mereka dengan kehadiranmu?"

"Menurut saya, mereka memiliki antusiasme yang tinggi." Balasku singkat.

"Ini pertanyaan terakhir dariku," Pak Erwin menatapku serius. Ia menyudahi pertanyaan rector kepala. Aku tak berani menatap dosen pembimbingku.

"Kenapa dengan matamu yang sembab itu? Kuharap kau menjawabnya dengan jujur."

Aku terperangah. Harus kujawab apa pertanyaan itu? Saya baru patah hati, Pak. Begitu? Ah, ini bukan kabar baik!

"Saya... saya... melembur administrasi klinik, Pak. Jadi kurang tidur," toh, apa yang kuucapkan benar, aku semalam memang melembur pekerjaanku. Ralat! Melembur sambil menangis.

Pak Erwin menatapku sangsi.

***

Hari Minggu adalah hari kompensasi untukkku. Setelah 6 hari bekerja, Wali menyuruhku libur di hari Minggu. Waktu libur ini kumanfaatkan untuk jalan-jalan. Tentu saja dengan kakak tingkatku, Miranti.

"Mau kemana kita?"

"Jalan-jalan, Kak Miranti akan kuajak menapaki pematang sawah, menghirup aroma tanah basah dan mengagumi alam, ini wisata, Kak. Bukan sekedar jalan-jalan," gurauku.

Miranti terkekeh. "Dan kau pemandu wisatanya?"

"Nah, tepat! Kira-kira berapa besar gaji seorang guide sepertiku?"

"Kau mau aku merincinya dalam rupiah atau dollar?"

Kami tertawa. Awalnya, kupikir, aku tak bisa akrab dengan Miranti. Mengingat, saat di kampus, ia terlihat kaku dan perfectionist tapi begitu satu mess, satu klinik dan satu jadwal, aku merasa nyaman. Aku seperti dilindungi. Apa ini efek dari tak punya kakak perempuan?

Serenade JinggaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang