7. Mimpi yang Hilang

38.1K 2.2K 83
                                        

            Kalau aku tahu jatuh cinta bisa mengakibatkan keadaan ekstasi, mungkin aku tak akan semudah ini menyerahkan kewarasanku. Aneh. Aneh sekali. Aku merasakan jatuh cinta bukan yang pertama kali. Namun, keganjilan-keganjilan yang menimpaku benar-benar tak bisa kuprediksikan sebelumnya. Sampai kadang, aku merasa bodoh. Bagaimana bisa, aku yang biasanya mencintai pekerjaan mendadak malas melakukan apapun sebelum bertemu dengannya—walau pertemuan itu sekedar balasan SMS.

            Hal aneh selanjutnya adalah ketika mendengar suaranya atau mendengar beberapa orang membicarakannya. Ini bisa membuat hatiku meletup-letup bahagia. Ia mirip narkoba yang mencanduku. Makin mirip saja dengan narkoba; orang yang mengonsumsinya sebenarnya sakit.

            Lalu, pemikiranku kemudian, ia juga mirip sebuah energi. Dulu, saat aku semester pertama di universitas, aku pernah mendapat mata kuliah  Fisika Dasar. Kata dosenku, energi itu tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, dengan kata lain energi bisa berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

            Analoginya sederhana, saat aku melihat Mufti—mendapat pesan darinya—mendengar ia dibicarakan gadis-gadis, aku seperti mendapat sebuah semangat untuk melakukan sesuatu. Begitulah rantai-rantai kegilaan dalam cinta, seseorang bisa kehilangan akal sehatnya jika sudah jatuh cinta, dalam hal ini tentu saja aku.

            Rantai-rantai atau jerat ini mirip dua mata pisau yang sama tajamnya. Yang satu sisi bisa menjadikan seseorang berproses berpikir dewasa atau sisi lain—yang kerap menimpaku—justru malah kekanakan. Keduanya merupakan sesuatu yang amat ambigu.

            Pada suatu keadaan, aku mulai berpikir bahwa terkadang, cinta tak harus diucapkan, adakalanya ia harus disimpan rapat-rapat dalam hati. Bukan karena tak berani, bukan karena takut namun karena mengharapkan ridha dari Tuhan—aku mulai belajar untuk menyerahkan urusanku hatiku padaNya karena dia sebaik-baiknya penolong. Penolong diriku yang bisa saja jatuh dalam kesesatan saat tak mampu mengendalikan nafsu. Saat ini, melihat Mufti—si perusak pikiran baik-baik saja, bisa tersenyum, bagiku itu sudah cukup.

Bukankah ini hal bijak yang baru kutemukan ketika aku mendapati diriku yang bodoh ini tertarik padanya?

Ternyata, jatuh cinta tak terlalu menakutkan. Sama seperti asalnya, cinta itu fitrah, wujud kenormalan dari manusia. Namun, sebagai orang yang memilih Islam sebagai the way of live, ada beberapa batasan yang tak boleh dilanggar.

Aku mencoba berpikir seperti itu. Entah di kemudian hari, Mufti memilih Inayah—atau gadis yang seperti Inayah, aku tak akan menyimpan dendam atau pun dengki. Allah yang mengilhamkan rasa ini, jadi aku akan menyerahkan urusan padaNya. Dia lebih berkuasa atas segala sesuatu yang ada di semesta.

Lalu tentang kekanakanku karena cinta? Itu sangat sering kualami. Contohnya tadi malam, ketika kami pulang dari rumah sakit—membawa jenazah ayah Inayah. Mufti dengan seenak jidat menyebrang, membuatku terpaksa meneriakinya mirip orang kesurupan bahkan aku terpaksa berlari dan mendorong tubuhnya agar tak terserempet mobil. Lelaki itu… bagaimana bisa jadi ceroboh begitu?

“Hei! Kau mau membuatku mengidap penyakit jantung di usia muda, ya?”

“Kau tak perlu berteriak, aku belum tuli.”

“Jika pendengaranmu masih bagus, kenapa kau tak mendengar atau melihat sekitar ketika menyebrang? Apa kau mau mencicipi rasanya dicium mobil?”

“Bilang saja kau mengkhawatirkanku,”

“Apa?” aku menelan ludah. Great! Mufti sangat hebat! Dia tahu kalau aku khawatir, dan bodohnya, sekarang aku malah gugup. “Aku—aku hanya tak mau orang-orang menggotongmu. Kau pasti berat, tahu!”

Serenade JinggaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang