TIGA : Kekacauan Pagi Hari

53 8 2
                                    

Beberapa perlengkapan kosmetik berjejer rapi diatas meja rias yang menyatu dengan sebingkai cermin berukuran cukup besar. Tak banyak peralatan kosmetik yang terpajang diatasnya. Pembersih muka, parfum, pelembab bibir, dan beberapa jenis lotion, dan beberapa perlengkapan lainnya. Yang paling mencolok diantara perlengkapan-perlengkapan itu adalah botol bedak bayi berwarna biru yang berada di deretan paling depan. Harum parfum beraroma buah menyeruak keseluruh sudut kamar. 

Ayunda memandangi lamat-lamat bayangan dirinya di balik bingkai cermin. Jari-jari lentik gemulai menata poninya, helaian rambutnya yang panjang dikuncir seperti ekor kuda. Tak lupa beberpa helai anak rambutnya di cepol dan dibiarkannya menjuntai bebas melewati pipinya. Sudut bibirnya terangkat beberapa derajat membentuk garis lengkung pada bibir mungilnya.

Ayunda beranjak dari cermin. Menggapai ponsel pintarnya di atas meja belajar,  yang sejak semalam di biarkan tersambung ke stop kontak karena kehabisan daya. Meletakan carger-nya di atas meja sambil menghidupkan ponselnya. Butuh beberapa detik sampai ponsel benar-benar beroperasi normal. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk segera mengecek ponselnya. Benaknya masih dipenuhi rasa penasaran. Karena semalam ponselnya mati, dia belum sempat menanyakan nomor baru yang menghubunginya semalam kepada Cindy.

Beberapa detik kemudian dering notifikasi berbunyi beberapa kali beruntun. Mungkin nomor baru itu mencoba menghubunginya lagi. Tertera di layar ponsel '5 panggilan tak terjawab' dari nomor baru semalam dan beberapa pesan di aplikasi chatting WA nya. Dengan sigap dia langsung membuka pesan yang masuk. Entah kebetulan atau tidak, persis seperti dugaannya pesan itu dari Cindy.

From : Cindy
"Yun, maaf no hp lo gue kasih ke Ryan. Semalam dia telepon gue maksa minta nomer lo, katanya penting"

"Yun, maaf ya"

"Yunda, lo marah ya? Maafin gue ya"

Ayunda membulatkan matanya, berfokus pada barisan kata yang tertera di gelembung percakapan. Membaca pesan itu berkali-kali kata per kata. Memastikan tidak ada kata yang salah tafsir. Tidak ada yang salah, isi pesannya memang seperti itu. Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benaknya. Yang benar saja Cindy memberikan nomor hp nya ke murid nakal itu. Untuk apa?

Bukankah Cindy sangat tau sifatnya. Apalagi yang meminta nomornya anak yang terkenal nakal dan suka menggoda murid-murid perempuan.  Ayunda menutupi wajahnya, mengusir pikiran-pikiran yang mengganggunya. berusaha untuk tidak berpikiran buruk yang membuatnya semakin paranoid. Mungkin itu salah satu trik candaan Cindy, seperti yang sering dia lakukan. Dan dengan cepat ibu jarinya mengetik di kolom balasan pesan.

To : Cindy
"Becanda lo gak lucu Cind, haha"

Beberapa menit kemudian dering notifikasi pesan berbunyi.

From : Cindy
"Seriusan. Maafin gue ya pliss"

'Apa ada hubungannya sama nomor baru kemarin,' Ayunda membenak.

***

"Sayang. Ayo sarapan, udah siang! Nanti telat," Mamanya memanggil Ayunda yang masih belum keluar dari kamarnya.

"Iya Mah!" jawab ayunda dari kamarnya di lantai dua.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari lantai atas. Ayunda muncul  menuruni tangga dengan sedikit berlari. Dengan seragam putih abu dan menggendong tas berwatna coklat mudanya. Kuncirnya bergoyang-goyang tak beraturan.

"Pelan-pelan sayang, nanti jatoh!" seru mamanya.

"Iya. Mah," jawabnya sambil meletakan tasnya di kursi.

Roti tawar dengan selai kacang diatas piring dan segelas susu coklat hangat menunggunya diatas meja. Menggugah selera makan. Aroma yang terhirup juga mengundang cacing-cacing di perut untuk berorasi semakin keras.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 06, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Sayap Cinta Yang PatahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang