1b

15 3 0
                                        

"Lo mau tau kenapa?" Hailee agak memelankan intensitas suaranya. Akupun menatapnya meminta jawabannya.

"Itu karena kamu tidak peduli denganku hingga kamu tidak tahu suatu kenyataan terbesar" desisnya kemudian menarik tangan Roy dan sesegera pergi dari tempat tersebut.

Aku masih berdiri terpaku mencerna ucapan demi ucapan yang dilontarkan oleh Hailee hingga suatu panggilan menghentikan semuanya.

"Shawn?"

Ya, itu suara Camilla. Ah iya! Aku lupa dengan keberadaan Camilla. Ini karena kedua orang munafik seperti mereka yang cukup menguras banyak energi.

"Mereka siapa, Shawn?" tanya Camilla sepelan mungkin walaupun masih dapat didengar olehku.

"Bukan siapa-siapa, mereka hanya masa lalu"

"Apa kamu pernah pacaran dengan si cewe? Aku tadi mendengar ada kata-kata putus. Ah! Maaf kalau aku tadi menguping" Camilla yang tertangkap basah menguping sekarang sedang tentunduk gugup serta malu dan enggan menatapku.

Aku tertawa hingga Camilla langsung mengangkat kepalanya menatap kearahku.

"Kamu kenapa ketawa?" tanyanya heran.

"Kamu lucu"

"Ha?" tanyanya ulang

Aku semakin terbahak melihat ekspresi wajahnya. Sontak aku cubiti kedua pipi Camilla yang dibalas dengan ringisan.

"Cukup!"teriak Camilla menghentikan aksi cubitku. Wajahnya telah merah merekah sedangkan aku tetap melanjutkan tawaku.

"Udah ah, ketawa mulu, kita jadi makan ga nih? Udah laper, tau" senyumnya yang manis terhias diwajahnya yang memancarkan kehangatan.

"Yaudah yuk, dasar gentong" senyumku juga terbawa olehnya.

"Enak aja"

***

"Euhm, Shawn" suara wanita bermata hitam bulat mengema di ruangan latihan. "Kalo boleh tau, cewek tadi itu siapa?"

Raut wajahku yang awalnya tersenyum saat mendengar pangillannya berubah pias mendengar pertanyaan tersebut. Sadar akan perubahan wajahku, Camilla langsung memperbaiki pertanyaannya.

"Maksudku, jika lo belum siap untuk cerita tidak perlu dipaksakan. Tapi setiap saat, gue bakalan selalu siap buat dengerin lo."

"Gue bakalan cerita sama lo" akhirnya aku membuka suara setelah terjadi keheningan beberapa saat. "Gue ga tau harus mulai dari mana. Mungkin dari awal pertemuan gue dengan dia, Hailee"

Saat itu, musim dingin sedang melanda. Aku yang baru saja pulang dari studio terhenti ketika melihat seorang wanita yang berjongkok diujung jalan, yang menjadi tempat pertama kami bertemu. Wanita itu menggigil karena dinginnya suhu sekitar serta menangis dalam bersamaan. Suara isak tangisnya masih terdengar dan terekam jelas di memoriku.

Segera aku hampiri dan kubaluti tubuhnya dengan jaketku guna menyalurkan kehangatan kepadanya. Dia yang sempat tersentak melihat keberadaanku refleks mendorongku menjauhi. Aku yang sempat terkejut melihat dia yang mendorongku. Namun, segera aku mencoba menetralkannya.

AFTERTASTETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang