1

49 1 0
                                    

"Din?" Panggil seorang laki-laki yang tepat berada di samping kanan Dinka. Dinka mendengar panggilan itu, tetapi ia hanya menjawab dengan 1 kata, "hm". "Dinkaaa" laki-laki itu kembali memanggil Dinka. "Apa?" Jawab Dinka singkat. Mata Dinka masih tertuju pada game di handphone miliknya. "Alifya Syadinka Edelweiss berhenti dulu main game mobile legend nya bisa?" Kali ini laki-laki itu menarik handphone Dinka dan langsung memasukkannya ke dalam kantong celananya. "Maulanaa!! Gue lagii battle!!! Balikin hp gueee" rengek Dinka kepada sahabatnya yang sangat sering mengambil barang seenaknya. Dinka memang berbeda di kalangan cewek-cewek lain. Diwaktu Dinka masih kecil, Dinka tidak bermain masak-masakkan ataupun boneka barbie bersama teman-teman perempuannya. Ia malah bermain ke lapangan belakang rumahnya untuk melihat permainan sepak bola yang dimainkan oleh teman laki-lakinya. Beberapa tahun kemudian, Dinka mulai mengenal barang elektronik yang bernama "laptop". Beberapa tahun kemudian lagi, Dinka mengenal barang elektronik baru lagi, "play station 2". Itu terus berkembang hingga Dinka mengetahui alat yang bernama "handphone" dan "play station 4".

"Gue tau lu suka main game, tapi gue nya jangan dikacangin lah Din" bibir Maulana sedikit maju akibat kesal dengan sifat Dinka. Bukan karna Maulana terlalu baper dengan sikap Dinka, bukan. Maulana, lebih tepatnya Maulana Esa Harita adalah teman masa kecil Dinka. Mereka telah mengenal satu sama lain sejak play group. Mereka tak sengaja masuk di sekolah play group yang sama. Dari situ, kedekatan Dinka dan Maulana tak bisa diartikan lagi. Mereka sudah seperti prangko, mungkin akibat dari kecil selalu bersama. Bukan hal yang aneh bagi Dinka dan Maulana untuk meminum di satu sedotan yang sama. Bukan hal yang aneh lagi bagi Dinka dan Maulana untuk tidur di satu kasur. Maulana bagaikan pelindung Dinka yang telah dipercaya oleh keluarga mereka masing-masing. "Iyaa tapii guee lagi battle mauu!! Kalah ntar guee" Dinka menarik narik lengan Maulana. "Udah deh diem. Kalo ngomong lagi gak gue balikin nih hp lo" ancam Maulana sambil menunjukkan senyuman manis miliknya dan memajukan kepalanya sehingga jarak diantara mereka sangat dekat. Dinka lebih memilih untuk diam. Lebih tepatnya kesal karna sikap Maulana yang sudah sering terjadi. "Temenin gue ke kantin aja yuk. Gue traktir dehh" Maulana berusaha membujuk Dinka agar tidak terus kesal kepada dirinya. Seketika muka Dinka tidak lagi cemberut. Muka Dinka mulai kembali ceria atau bisa dibilang sangat senang. "Yuk yuk. Gue laper juga nih" ucap Dinka sambil tersenyum lebar. Maulana merangkul pundak Dinka. Dinka menatapnya kesal sambil melepaskan rangkulannya. "Sana deh lo Mau, ntar gue keliatan pendek kalo deket deket sama lo". Maulana berhenti berjalan dan menatap mata Dinka. "Lo ngusir gue? Oke sip. Gak jadi gue traktir. Dadahhh Dinkaa" ucap Maulana sambil tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya. Maulana tampak seperti sedang menahan tawanya yang akan meledak. "Maulanaaa" Dinka berusaha mengejar Maulana. Ketika sudah berada disamping Maulana, ia mulai menyesuaikan kecepatan jalan dirinya dengan Maulana. "Kenapa lo ngejar gue? Mau minta traktir". Mendengar itu, Dinka hanya menunjukkan cengirannya. "Dasar lu ya" Maulana mengacak-acak rambut Dinka. "Kalo gue marah, lu masih bakal traktir gue kagak?" Tanya Dinka dengan wajah polosnya. Maulana tertawa mendengarnya. "Ntah lah, tergantung lu nya ntar marah gimana. Ngadep belakang gih, gue mau ngepang rambut lu" ucap Maulana sambil meminta ikat rambut Dinka. "Sejak kapan ya lu bisa ngepang? Belajar darimana?" Dinka menurut dan memberi ikat rambutnya. Maulana hanya diam dan mulai memain-mainkan rambut Dinka. Terjadi keheningan diantara mereka berdua. Beberapa menit kemudian, Maulana mulai memecahkan keheningan diantara mereka berdua. "Selesaiii deh. Gue kek kantin duluan ya. Temuin gue di kantin, gue sama temen-temen gue!" Maulana segera berlari cepat menuju kantin. Dinka terdiam sejenak. Ia mulai memegang rambut panjangnya yang telah diikat oleh Maulana. "MAULANA! LU MAU NGERJAIN GUE ATAU MAU NGEPANGIN RAMBUT GUE SIH?" Dinka berteriak kesal dan berlari menuju kantin. Sesampai di kantin, ia merapikan rambutnya yang telah di ikat acak-acakan oleh Maulana. Matanya mulai menatap satu persatu orang-orang yang berada di kantin. Matanya tertuju pada orang yang sedang tertawa bersama teman-temannya. Ia mulai mendekati orang itu. "Heh cumi asin! Lu ngerjain gue ya?" Dinka segera memukul lengan orang itu dengan kuat. "Hah?" Orang itu reflek melihat Dinka dan memegang lengannya yang telah dipukul Dinka. "Eh?" Muka Dinka memerah. Ternyata ia salah memukul orang. Orang yang dipukul Dinka langsung tertawa dan diikuti teman-temannya. Dinka memang tak memerhatikan itu Maulana atau bukan, ia hanya memerhatikan teman-teman yang berada di meja itu. Maulana memang biasanya slalu bersama mereka, jadi pastinya Dinka langsung menganggap bahwa itu adalah Maulana. "Kenapa nih ketawa-ketawa? Apaan yang lucu?" Tiba-tiba orang yang dicari-cari oleh Dinka telah datang. Maulana datang dengan makanan dan minuman miliknya. Dinka hanya menyengir. Akhirnya orang yang dipukul oleh Dinka tadi yang mulai bicara. "Ini temen lo mukul gue tadi. Tadi dia ngiranya kalo gue itu lo" ucapnya sambil masih tertawa. "Malu-maluin aja lo kampret" Maulana segera menaruh makanan dan minumannya dengan cepat dan langsung memenoyor kepala Dinka. "Yee salah lu juga kan ngapain ngikat rambut gue acak-acakan" Dinka memilih duduk di kursi bersama teman-teman Maulana. "Ya lagian ngapain lo percaya gue? Sejak kapan juga gue pande ngepang rambut orang coba?" Maulana pun mengikuti gerakan Dinka. Ia duduk disamping temannya yang dipukul Dinka tadi. "Udah udah gak usah berantem. Kenalin gue Syafa" orang yang dipukul Dinka tadi a.k.a Syafa, menjulurkan tangannya. Mengajak Dinka untuk berkenalan. Dinka pun membalas jabatan tangannya dengan baik dan memberikan senyuman termanis nya. "Alifya Syadinka Edelweiss. Panggil aja Dinka" Dinka melepas jabatan tangannya, dan kembali tersenyum. "Kayaknya sahabat gue satu ini udah bisa suka sama orang ya. Keajaiban dunia nih" ucap Maulana sambil memakan makanan nya yang ia beli tadi. "Sialan lo!" Dinka menoyor kepala Maulana dan hal itu membuat seluruh teman-teman Maulana yang berada di meja itu tertawa. Termasuk, Syafa.

Pena dan KertasTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang