1. Kenangan yang terlintas

57 11 7
                                    

Sore ini, langit mendung, angin kencang menusuk kulit Adeva. Langit seolah paham tentang perasaan Adeva saat ini. Pasti ini tanda hujan deras akan turun. Adeva terduduk di depan jendela kamarnya yang terbuka. Perasaannya tak karuan. orang yang menghantui pikiran Adeva masih sama, Dalvin. Sosok pria yang ia sangat sayangi dan cintai, dahulu sebelum akhirnya Dalvin menghancurkan hati Adeva berkeping-keping.

Adeva termenung, tak sengaja air matanya turun. ia berusaha untuk tidak menangis. Masih jelas penghianatan yang Dalvin lakukan padanya. Persetanan jika ia bertemu dengan Dalvin. Mengingatnya saja Adeva merasakan gejolak benci teramat sangat, apalagi kalau bertemu Dalvin, ia mungkin akan memusnahkan cowok bajingan itu. Entah masih hidup atau sudah mati ia sekarang. Tapi, semakin ia berusaha melupakan Dalvin semakin ia terus memikirkan Dalvin. Adeva juga menyadari rasa cinta yang dulu tumbuh, masih ada, ya masih ada, sedikit atau masih utuh seperti dahulu? Entahlah, ia tidak mengerti. Semakin Adeva berusaha melupakan Dalvin, semakin ia mengingat Dalvin, mengingat tentang kenangan mereka, mengingat penghianatan Dalvin kepadanya.

Adeva menghampiri meja belajarnya, lalu membuka laci meja belajar itu. Adeva mengambil selembaran foto, air matanya kembali turun lalu, berkata

"Gue benci lo Dalvinnnn!!"

Lalu ia merobek foto itu, membuangnya keluar jendela kamar.

Tiba-tiba terdengar suara dari ruangan lain memanggilnya

"Adeva". itu suara mama Adeva, Ira. Adeva segera menghampiri Ira.

"Iya ma, kenapa?" kata Adeva lembut.

"Gak ada, mama cuma mau kamu temanin. kamu kenapa sayang? matanya kok kayak abis nangis gitu" jawab mamanya agak sedikit cemas

"Adeva gak kenapa-kenapa, Adeva cuma sedih aja mama sakit" sembari memeluk mamanya.

"Cuma kamu satu-satunya yang mama miliki. Kamu harus tau di mana pun mama berada nantinya mama tetap selalu ada disamping kamu Adeva, mama selalu menyanyangimu," kata ira sambil mengelus rambut anaknya satu-satunya itu.

Adeva tak kuasa menahan kesedihannya, ia memeluk Ira dengan sangat erat sambil menangis. Ira memang sudah sakit 2 tahun, ia mengidap penyakit tumor di otaknya. lra memutuskan untuk melakukan perawatan di rumah saja setelah operasi yang ia jalanin. ia hanya pasrah atas takdir yang nantinya memisahkannya dengan anak tersayangnya. bukannya Ira tidak mau berusaha, tapi sudah banyak yang ia lakukan untuk sembuh, dan hasilnya tetap nihil.

🐾🐾🐾

Adeva Afsheen Myesha adalah cewek yang bersekolah di SMA Garuda. Kini ia menginjak dibangku kelas 12. Sebelumnya ia adalah sosok cewek yang cantik, periang, baik hati, namun, ia berubah menjadi cewek yang berantakkan, jutek, pendiam.

Hari ini pertama masuk sekolah setelah libur semester ganjil. Adeva seperti biasa tampil dengan gayanya yang berantakan, pagi itu semua orang memandangnya dan tertawa.

"Kenapa lo smua pada liatin gue? Adeva mengdelik dan berkata dengan nada tinggi.

Semua murid hanya diam, tak menjawab. Bella sahabat Adeva menghampiri Adeva lalu membawa Adeva ke kelas. Raut wajah Adeva kesal.

"Va, mata lo bengkak, lo tadi malem abis nangis lagi ya? kata Bella yang yakin bahwa tadi malam Adeva menangis sampai matanya sembab begitu.

"Gak kok" jawab Adeva singkat dan cuek.

"gak usah bohong" jawab Bella lagi dengan nada penekanan.

Adeva mendengus, lalu diambilnya buku dan pena didalam tasnya kemudian meletakkan di meja,

"Bell, mending lo balik kebangku lo, pak marta udah dateng" Bela sontak langsung melihat kedepan kelas, benar kata Adeva pak marta ternyata sudah berada didalam kelas. Bella buru-buru ketempat bangkunya yang berada, tepat didepan meja guru.

🐾🐾🐾

Bel pulang berbunyi, semua murid berhamburan keluar ruangan kelas. Adeva menunggu sopir pribadinya yang tidak kunjung datang. berkali-kali Adeva melihat jam tangannya. kemudian Adeva teringat kalau sopir pribadinya lagi pulang kampung karena anaknya sedang sakit.

Adeva menggerutu "Bego banget sih gue nunggu orang yang pasti gak bakalan datang!"

"Lah, kenapa kata-kata gue jadi baper gini, haha"

Adeva mencari-cari angkot yang bisa dia tumpangi agar sampai di rumah, sudah 20 menit ia mencari, tetapi tidak ada angkot yang melintas. Adeva terus berjalan sampai ia menemukan kendaraan yang bisa membawanya segera pulang, bukan dengan angkot tapi ojek. Adeva berlari menghampiri pangkalan ojek, lalu sebuah mobil melaju, yang tadinya Adeva berlari sontak ia menghentikan langkah larinya

"mobil sialannnnn! shit" Adeva gusar.

"Woi udah tau ada genangan, bukannya pelan-pelan, pake mata! mampus lo sana, gue doain mogok tuh mobil" teriak Adeva.

*sisi lain*

"Duh mampus dah gue, itu kena orang" gumamnya sambil menggaruki kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Gue gak sengaja, gue buru-buru banget nih soalnya, sorry" menoleh kebelakang lalu kembali mengendarai mobil dengan laju.

🐾🐾🐾

Adeva sangat kesal, ia melihat rok sekolahnya kotor kena cipratan air genangan.

"bang buruan berangkat" kata Adeva kepada tukang ojek itu.

🐾🐾🐾

Sesampainya di rumah Adeva, adeva menggerutu

"Gilak tu orang, buta apa, ga liat ada orang yang jalan"
"Gue pastiin tu mobil tadi mogok"
"Ini baju putih, pasti susah buat nyucinya arghh"
"Parah, belagu amat tu orang"

Adeva selalu menceloteh. saat berjalan menuju kamarnya, dari belakang terdengar suara,

"Adeva, kamu kenapa ngomel-ngomel"

Adeva pun menoleh ke belakang

"Eee-hh mama.."

"Kenapa seragam kamu nak? Kamu kok kayak anak kecil main lumpuran" kata Ira sambil mendekat ke arah Adeva dengan mendorong kursi rodanya.

"Bukan mama, itu tadi ada mobil gak liat-liat ada genangan trus dia juga gak liat ada Adeva yang jalan main laju aja, jadinya Adeva kena cipratannya hehe" jawab Adeva.

"Oh yaudah positif thinking aja mungkin dia lagi buru-buru, sekarang cepat ganti seragamnya trus kasih seragam ke bi idem"

"Iya ma, Adeva ganti dulu" setelah itu berjalan ke kamarnya.

Setelah selesai mengganti baju dan mandi, Adeva memulai untuk belajar dan mengerjakan tugas. Adeva menuju meja belajar, lalu membuka laptop. Adeva menatap lama monitor laptop tersebut melihat wallpaper gambar dirinya serta berbagai macam bunga, hadiah serta balon-balon yang menggantung diatas atap ruangan tersebut. Ya, itu foto dirinya saat Dalvin memberikan suprise ulang tahunnya yang ke 17 tahun. Bukannya membuat tugas, Adeva malah membuka folder foto "Happy sweetseventeen". Folder itu berisi foto-foto ia dan Dalvin saat perayaan ulang tahunnya. Betapa bahagia senyum yang terukir diwajah Adeva. Adeva kembali meneteskan air matanya saat ia mengingat tentang Dalvin. Sosok Dalvin masih sangat jelas melekat dipikirannya, kenangan nya bersama Dalvin masih jelas melekat pada memori otaknya. Adeva selalu berusaha melupakan semuanya, tetapi semakin ia berusaha untuk melupakan Dalvin, semakin jelas Dalvin diingatannya. Adeva pun mencoba menekan klik delete, entah kenapa ia sangat sulit melakukannya.

"Dalvin gue gak butuh orang kayak lo! Sekarang yang harus gue lakuin cuma berhenti ngingat lo. Lo gak bakalan datangkan vin saat gue benar-benar bisa lupain lo? Dalvin kenapa lo bisa setega ini sama gue.. lo pergi gitu aja tanpa penjelasan tentang apa yang gue liat waktu itu.." ucapnya dalam hati.

Vote dan komennya yaaa! Thank u xx😁🙏

ASTRAYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang