"Boleh jadi Allah mengabulkan harapan kita dengan tak memberi apa yang kita inginkan karena Dia Maha Tahu bahaya apa yang akan menimpa dibalik keinginan kita"
Bila
Butir embun meluncur dari sehelai daun ke daun yang lain. Seolah ingin Mengabarkan "lihat, aku bagian dari dunia". Menatap riang kehidupannya yang fana.
Setahun berlalu, aku dan dia masih tetap berkomunikasi seperti biasa. Saling berbagi kisah dan cerita. Saling berbagi tawa dan duka. Hari itu, dia datang dengan bunga mawar putih digenggamannya. Layaknya hal biasa yang dilakukan seorang pria untuk menyatakan cinta pada kekasihnya. Ya, lagi dan lagi hal biasa jadi luar biasa di mataku.
Maklum saja, saat itu usiaku masih 16 tahun. Kurangnya pendidikan agama dan kurangnya iman di dalam hatiku. Aku pun masuk ke dalam duri-duri cinta. Aku berpacaran dengan dia, ya dia sang serigala berbulu domba.
Sejak malam itu, hari-hari ku penuh dengan suara manisnya bak gula yang merayu semut untuk terus berdatangan. Cinta semu yang hadir seolah-olah cinta sejati. Jembatan komunikasi tak lagi hanya telepon genggam, untuk bertemu pun aku sudah tak malu seperti dulu.
Bagiku, dia bukan lagi orang lain. Melainkan bagian dari diriku saat itu.
Waktu terus berputar, hidup terus berjalan tanpa melihat aku masih diam ditempat bahkan semakin mundur dari barisan.
Syaitan memperdayaku dengan cinta yang salah. Cinta yang menggerogoti diri, mengikis iman dihati. Pesan singkat terus berlanjut sampai suatu hari ia menelponku.
"Fatih, abang mau melamarmu pekan ini. Abang gak bisa jika terus begini2 saja."
Tanpa pikir panjang teleponnya kuputus. Aku syok, aku bingung harus apa. Bagaimana mungkin, aku saja masih duduk di bangku SMA, mana mungkin ku tinggalkan pendidikan demi dia, lagipula janjinya dahulu ingin menungguku. Otakku berpikir keras, pikiranku campur aduk, hatiku seperti bom yang siap meledak. Jemariku berkali kali menghapus kata kata yang salah bagaimana cara menolaknya. Aku benar benar bingung.
"Maaf bang, bukan Fatih tak mau. Tapi Fatih masih sekolah dan belum selesai. Abang juga janji mau nunggu Fatih. Fatih minta maaf, jika abang mau menunggu silahkan."
Aku tak mampu lagi, seolah sudah pasrah dan tak berdaya. Berminggu minggu ku tunggu balasan darinya, tapi hasilnya nihil. Dia menghilang tanpa jejak. Meninggalkan sebuah hubungan tanpa kepastian. Meninggalkan luka yang begitu pahit kurasakan.
"Ah, sudahlah. Mungkin juga salahku menolak lamarannya" Pikirku.
Sudah lebih dari 2 bulan, aku mulai terbiasa tanpanya. Walau setiap malam ku masih teringat tentangnya. Hingga saat itu tiba, dia datang tanpa ku pinta. Sebuah pesan singkat darinya yang begitu lama kurasa telah pergi.
"Maaf ya sayang, abang sibuk banget nyusun skripsi. Maaf banget ya sayang. Adek abang boleh minta sesuatu ?"
Spot jantung aku membaca pesan singkatnya itu. Apa ia tak ingat tentang penolakanku ? Apa ia berusaha untuk tidak mengingatnya? Apa lagi yang akan dipintanya kali ini pikirku.
"Iya bang, nggak apa. Apa itu bang ?"
"Abang boleh gak minta foto adek ?"
"Oh, boleh". Dengan segera ku kirim fotoku yang berkerudung purple di tepi sungai.
"Dek, bukan foto yang itu sayang. Tapi foto yang lain." Balasnya dengan segera
Aku pun dibuat bingung olehnya, foto yang bagaimana yang dimintanya. Berkali-kali aku mengirimkan beberapa foto yang menurutku terbaik dari semua foto di albumku. Namun tetap saja bukan katanya.
"Adek, abang minta foto adek yang tanpa hijab. Abang kan juga ingin melihat rambut adek, wajah adek tanpa hijab."
Oh, pikirku masih biasa dan wajar. Langsung saja ku kirim foto itu.
"Terima kasih ya dek. Abang sayang adek."
"Iya bang. Adek juga sayang abang." Balasku
Sudah seminggu berlalu dari percakapan kami saat itu. Dan ia tak pernah lagi menelponku seperti biasa. Awalnya aku bingung kenapa dan mengapa, namun ku coba untuk tetap positive thinking kepadanya dan beraktivitas seperti biasa.
Drrtt....drrtt...drrtt... getaran handphone lagi lagi mengganggu waktu belajarku. Sebuah pesan lagi. Hmmm... pasti darinya itulah yang ada dibenakku.
"Malam adek. Abang boleh gak minta foto adek lagi?"
"Tapi seminggu yang lalu udah bang ? Untuk apa sama abang ?" Balasku yang masih bingung
"Iya sudah. Abang minta lagi boleh gak ? Tapi yang bajunya jangan tertutup agak terbuka gitu."
"Untuk apa sama abang ?"
"Untuk koleksi abang aja. Mau abang jadikan walpaper layar handphone."
"Tapi kali ini aja ya bang."
"Iya sayang."
Tanpa berpikir panjang aku pun mengirim fotoku yang hanya memakai kaos tanpa lengan dengan rambut terurai. Namun kali ini ia tidak menghilang seperti minggu lalu, ia kembali seperti semula menelponku tiap malam. Namun aku merasakan yang aneh padanya, dia bertingkah genit dan memancing mancing nafsuku. Aku yang masih polos pun terbuai olehnya mengikuti alur ceritanya.
"Sore adek. Udah mandi belum ? Hehehe. Boleh gak abang minta foto adek yang tanpa sehelai benang pun ?"
Pesan itu membuat aku spot jantung ketika. Apa maksudnya meminta hal yang seperti itu. Aku bingung harus jawab apa, tak menunggu lama aku membalasnya ia langsung menelponku dan meminta minta. Ia terus merayuku dengan suaranya yang manis itu, ia terus berucap "boleh ya dek, nantikan adek bakal jadi istri abang juga." Terus meminta dan tak memberiku kesempatan untuk berbicara. Hitam hati, kosong pikiran, aku mengiyakan. Ku beranikan diri ini untuk memotret diri depan cermin. Dengan tangan bergetar, jantung berdetak kuat, wajah terasa malu. Setelah berfoto ku kirim padanya, hampir setiap hari ia memintaku untuk berfoto tanpa sehelai benang di tubuhku. Layaknya artis dewasa aku hanya diam menuruti apa kata sang photografer. Aku pun semakin terbiasa dengan foto seperti ini, sampai terkadang ku mengirim video singkat padanya saat ingin berpakaian.
Ah memalukan memang, sangat memalukan. Hingga ia tiba-tiba menghilang lagi, dan aku masih saja bersikap biasa seolah olah tak terjadi apa apa padaku.
Lagi dan lagi hadirnya tanpa ku pinta dan ku harap lagi.
"Fatih, bisa kita bertemu besok? Ada yang ingin abang bicarakan."
Lagi-lagi rasa penasaranku yang membawaku untuk menemuinya lagi. Dan rasa itu juga yang membawaku ke dasar danau membunuh diri sendiri. Ku iyakan pertemuan itu. Aku hanya meminta kejelasan kepadanya namun hati riang tak terhingga seolah kami baik baik saja. Takdir berkata lain kali ini, riang berbuah luka untuk kesekian kalinya. Suatu hal yang tak pernah kuduga dan kuinginkan terjadi.
Entah minuman apa yang ia beri hingga aku tak sadarkan diri. Mata terbangun dalam kondisi diri yang ah... aku pun tak bisa mengatakannya. Syaitan tertawa terbahak bahak untuk diriku. Aku? Hanya bisa menangis tanpa jeda. Penyesalan tiada guna, semua telah terjadi. Aku bodoh sangat bodoh.
"Ayah, ibu, maafkan aku" kataku dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Samudera Luka
Non-FictionKisah tentangnya 4 tahun silam Sosok yang ku anggap benar. Sosok yang selalu ku kagumi Hingga ku lupakan segalanya tentang diriku... Dia... Yang mengubah hari hariku menjadi pribadi yang berbeda Lewat telepon genggam yang menjadi jembatan komunikasi...
