Pulang Lebih Awal

34 3 4
                                    

Alarm pulang sekolah yang berdering lebih awal dari jadwal biasanya, menjadi kebahagian tersendiri untuk para siswa, bagaimana tidak, mereka terbebas dari rasa kantuk yang terjebak dikelas, terbebas dari guru killer, dan terbebas dari tugas yang sedang mereka lakukan.

Hari ini begitu baik untuk semua siswa, tapi tidak untuk para guru, mereka akan melaksanakan rapat dengan guru-guru dari beberapa sekolah. Itu sudah resiko menjadi guru. Dan para siswa tidak peduli itu. Mereka lebih memilih pulang, melaksanakan tugas piket kelas, berkumpul di ruang osis, atau bahkan ada beberapa siswa yang lebih memilih bermain basket, mengabaikan matahari yang membakar kulit dan menguras keringat mereka.

Mereka punya cara tersendiri menambah kebahagiannya. Termasuk Audrey yang lebih memilih pergi ke toko buku, Audrey bukan anak kutu buku, dia masih anak mimi dan papinya, Audrey juga bukan anak manja hanya karna panggilan mimi dan papi ke orangtuanya.

"Gue ikut yaa Au, gue males pulang cepat kerumah," ucap Keisa yang kini sudah jalan beriringan dengan Audrey di koridor sekolah. Keisa ini teman dekat Audrey, bukan teman dekat lagi, mereka sudah berteman sejak ibu mereka mengandung Audrey dan Keisa, kebayangkan berapa lama mereka berteman sampai saat ini.
Gimana nggak, mereka tetanggaan, dan ibu mereka juga sudah berteman lama dari jaman Smp sampai mereka punya anak lebih dari satu saat ini.

"Ikut aja, toko bukunya juga nggak ngelarang lo ikut," jawab Audrey masih berjalan tanpa menoleh ke Keisa, dan hanya dibalas senyum cengiran oleh Keisa.

Sekolah yang tadinya rame, hanya menyisakan beberapa siswa yang masih sibuk dengan kegiatannya masing-masing, alarm pulang yang lebih awal benar-benar telah menghipnotis para siswa menghilang dengan cepat. Hanya satu dua orang siswa yang masih berlalu di koridor sekolah ini, tidak termasuk yang berada dilapangan saat ini. Mereka tidak terkena pengaruh hipnotis itu.

"Eh Au, lo udah mau balek aja, gue anter yaa?"

Seorang lelaki bertubuh tinggi putih, rambutnya acakan dan basah oleh keringat, postur tubuh atletis tercetak melalui baju kaus hitam yang ia pakai, nggak salah kalau satu sekolah bilang ia memang keren. Lelaki ini menghampiri Audrey dan Keisa untuk mengambil bola bsket yang tidak sengaja menggelinding ke arah mereka.

"Makasih, gue bareng sama Keisa aja," jawab Audrey dan meninggalkan lelaki itu dengan bolanya.

"Lain kali aja Al, Audrey bisa kok." Tiba-tiba saja Keisa memutar tubuhnya sambil tersenyum cengengesan kepada lelaki itu, dan dibalas jitakan mulus dikepalanya oleh Audrey "Lo apa-apan sih saa?"

Lelaki itu hanya tersenyum dan kembali ke lapangan menggiring bola basketnya.

"Alqren..Lo ambil bola di Gelora Bung Karno apa, lama banget," celetukan salah satu temannya di lapangan.

CINTA Siapa Yang TauTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang