Sore ini seakan waktu bergerak lebih cepat menuju malam, padahal ini masih pukul tiga. Benar-benar gelap disertai hujan lebat. Membuat sebagian siswa mengurungkan niat untuk pulang dan lebih memilih menunggu hujan reda.
Karena ini sudah jam pulang, maka siswa tidak diperbolehkan lagi berada didalam kelas. Sehingga mereka lebih memilih duduk maupun berdiri di depan kelas.
Audrey yang kehabisan bangku duduk hanya bisa berdiri sambil memainkan handphonenya. Namun aktifitasnya terhenti karna merasa ada seseorang yang tengah menarik tas sandangnya. Audrey menoleh, tapi tidak ia temukan siapa orang tersebut. Awalnya Audrey tidak peduli, karna ini sudah kali ketiganya, membuat ia bersuara kesal.
"Ehh, siapa sih yang narik-narik tas gue, gak ada kerjaan apaa?"
Suara Audrey berhasil mengundang tatapan kaget dari beberapa teman kelasnya yang tengah duduk maupun berdiri tak jauh dari Audrey. Termasuk Keisa yang terhenti dari pembicarannya dengan salah seorang teman kelasnya.
"Kenapa lo Au? Suara lo nggak kalah ama hujan, ucap Keisa
Audrey hanya mengabaikan pertanyaan Keisa dan tatapan beberapa temannya. Ia memutar tubuhnya kesal mencari siapa pelaku yang tengah berbuat usil padanya.
Tak ingin terulang, Audrey memutar tasnya kedepan memeluknya erat dan kembali sibuk dengan handphonenya, membuka akun Instagram nya menghilangkan kebosanan.
Dan, lagi-lagi...
"Sialann, rambut guee, siapa sih?" tanya Audrey geram, setelah tas kini rambutnya dijambak seseorang tak kasat mata.
Audrey tak tahan, ia celingak celinguk, matanya tajam bak elang waspada. Mencari siapa pelakunya. Seolah mata elangnya bekerja, ia menemukan sosok lelaki tengah bersembunyi dibalik tembok membekap mulutnya menahan tawa.
Pletaakk
Jitakan mulus mendarat dikepala lelaki yang bernama Zuan itu, membuat ia meringis mengusap kepalanya. Menoleh pada Audrey yang menatapnya tajam
"APA?" tanya Audrey berkacak pinggang masih memelototi
"Kepala gue lo tabok" Zuan kembali mengusap-usap kepalanya manja
Tiba-tiba saja Audrey menjambaki rambut Zuan sekuat tenaga, ia benar-benar kesal melihat Zuan yang pura-pura tak tau.
"Ampunn Au,, ampunn,, sakit tauu. Gue bisa botak kalau gini, entar kegantengan gue bisa hilang 90%"
"Bodo, lo tuu resee, lo dulu yang mulai ganggu gue." Audrey semakin kuat menjambaki rambut Zuan.
Namun Zuan tak kehabisan akal, dia menginjak kaki Audrey tanpa belas kasihan, membuat Audrey terperanjat dan melepas genggamanya dari rambut Zuan.
"Weekk, sekarang lo bisa apaa?" Zuan kabur dan berlari di sepanjang koridor dan di ikuti oleh Audrey yang tersulut emosi. Ia benar-benar geram setengah mati pada lelaki itu.
"Au..Audreyy," panggil Keisa yang dari tadi hanya memperhatikan pertengkaran mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"Lo dapat, gue bejek-bejek lo kayak dendeng, sinii lo nggak!" Audrey masih semangat mengejar Zuan. Mengabaikan setiap mata para siswa yang melihatnya berkoar-koar.
Gdbrukk
Tiba-tiba dari arah yang tak disangka Audrey justru bertabrakan dengan seorang lelaki. Tabrakan itu tak membuat di antara mereka ada yang terjatuh, justru kepala mereka sama-sama beradu.
Mereka sama-sama meringis mengusap kepala masing-masing dan saling menoleh.
Siall. Apes banget nasip gue hari ini, tadi Zuan sekarang Alqren
"Audrey? Aduuh, kep.."
"Apaa? Lo mau marah? Disini kita sama-sama korban," ucap Audrey ketus dan pergi meninggalkan Alqren yang melongo di tempat
Tu anak kenapa sih, makin demen gue jadinya. Batin Alqren
***
Audrey mengurungkan niatnya mengejar Zuan, ia lebih memilih ke parkiran, dan disusul oleh Keisa dari belakang. Hujan sudah berangsur reda.
"Bann guee, arghh, siapaa lagi ni" Audrey menghentakkan kakinya frustasi
"Hosh, hosh..Ke..kenapa lagi sih Au, hosh..hosh..lo seharian marah-marah mulu dehh?" tanya Keisa, nafasnya tak beraturan karna mengejar Audrey.
"Lo masih nanya? Gak lihat tu ban gue bocor?"
"Lu kesambet apa sih hari ini? Lo lupa pagi tadi tu ban emang udah bocor? Lo nggak ingat, lo ngegiring tu motor dari depan gerbang sampai ni parkiran?" Keisa geram melihat Audrey.
Seolah berfikir dan mengingat-ingat, senyum cengengesan keluar dari mulut Audrey.
"Guee lupaa Saa" Audrey menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pikun lo dipercepat sih." Keisa memutar matanya kesal
"Trus gimana gue pulang ni, lama-lama disekolah bikin gue tensian."
"Jangan salahin sekolah, lo aja yang hari ini kesambet," ucap Keisa membenarkan rambutnya yang acakan akibat mengejar Audrey
"Diem lo, mentang-mentang lo pulang bareng Bimo? Tegaa lo, tegaa." Audrey menggeleng-gelengkan kepalanya kesal
Tinn..tinn..tinn
"Pulang Au?" tanya seorang lelaki mantap dengan motornya.
"Pulang lo sono, gak usah ngajak-ngajak gue!"
"Idihh, siapa yang ngajakin lo, gue kan cuma nanya." Zuan menjulurkan lidahnya penuh tawa dan berlalu meninggalkan Audrey dan Keisa.
"Kampret lo, awass lo yaaa"
Audrey benar-benar emosi, ia hendak melempari Zuan dengan sepatunya. Tapi ia masih waras untuk tidak melakukan hal demikian, karna ini sepatu kesayangannya.
***
Arrggh..pantesan hari ini gue mudah tersulut emosi.
Usai mandi, Audrey membaringkan tubuhnya di kasur, memegang perutnya membawa tubuhnya memutar kekanan kekiri, dan melakukan akrobat lainnya akibat nyeri diperutnya yang tak tertahankan.
Setelah sepeninggal Zuan di parkiran tadi, Audrey memberanikan pulang seorang diri naik angkot, karna ia tak bareng Keisa seperti biasanya, mengingat hari ini Keisa akan pulang bareng dengan Bimo.

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA Siapa Yang Tau
Teen FictionSiapa yang tau Cinta itu ada dan datang tanpa diminta akan kepada siapa.