Kita berasal dari sekolah dasar yang beda beda, lalu disatukan menjadi keluarga sekelas yang begitu aneh tapi solidaritasnya tinggi
Disinilah kita berawal, kelas VII-4. Kelas yang paling rajin di kelas 7 dan berubah menjadi sableng batas akhir di kelas 8 dan tobat di kelas 9.
Kita anak asuh dari ibu wali kelas tercinta. Namanya Hj. Istiqomah. Biasanya lebih akrab dipanggil bu Is. Bu Is ini guru seni budaya di sekolah. Karena sebagai walikelas, maka beliau yang mengajar juga dikelas kita
Kelas ini sebenernya gak akan berjalan tanpa adanya bu Is. Ya walaupun sedikit bawel.
Sebenernya, di kelas kita banyak banget yang nentang sama wali kelas ini.
Kenapa?
Ya karena gitu, dia pelit, peritungan, tapi eitsss bukan bukan kita bukannya benci ya sama orangnya terus ngebuka aibnya disini. Enggak!
Tapi kita bicara sesuai faktanya aja. Kalo ngomongin wali kelas gini jadi inget beberapa bulan yang lalu. Pas kelas kita mau ngadain pameran dalam rangka ujian praktek seni budaya
Jadi gini ceritanya
Flashback on
Waktu itu kita lagi ada tryout yang entah ke berapa. Tepatnya sih bulan maret seinget kita.
Nah waktu itu anak anak lagi bingung mempersiapkan konsep apa yang kiranya bagus dan menarik banyak pengunjung.
Pas udah dapet itu tema yang menurut anak anak sesuai, sebagai siswa yang baik kita pasti konfirmasiin dulu kan ke wali kelas. Biar gak dikira lancang gitu.
Kita nyari nyari wali kelas kesana kemari dan ternyata beliau lagi ada di perpustakaan, kita masuk dan berniat ngomongin konsep itu. Pas kita udah ngomong semua pendapat kita, eh bukannya setuju kita malah disemprot sama ocehannya
"Kalian mau pakai tema kota malam? Kalian tau gak sih tema kalian itu mengusung dan menjurus ke hal hal yang gak baik paham" kata wali kelas
"Loh bukan gitu bu maksud kita!"
"Oke, jadi gimana gimana?" Jawab wali kelas
"Jadi gini bu, maksud kita kota malam itu adalah suasana kota malam di jawa yang nanti di tengah keramaian kota itu ada pertunjukan kesenian budaya nya, gitu!" Jelas chacha
"Iya tapi kan kesannya kota malam itu banyak dugem dugem gitu!" Kali ini bu Titin selaku pengurus perpus yang juga ada di sana ikutan nimbrung
"Gak selamanya kota malam itu buruk kan bu!"
"Ya mending kalian pakai tema wayang aja gitu kan lebih baik. Nanti kalian pakai batik kan bagus!" Kata Wali kelas
"Lah kan tema kita juga mengusung wayang bu!" Kata chacha lagi, dan gue hanya mengangguk
"Ya tapi kalian itu memakai tema yang tidak sesuai, asumsi orang itu tentang kota malam pasti buruk!" Wali kelas menyelahi lagi
"Ya tapi kan asumsi orang beda beda bu!"
"Yaudah terserah kalian, tapi kalo bisa tema itu diganti!" Kata wali kelas
"Maka dari itu kita butuh ibuk buat bahas semua tentang pameran ini!"
"Iya nanti saya ke kelas, kalian kembali saja dulu!" Katanya lagi
Dan sejurus kemudia kita balik ke kelas dengan chacha yang ngomel gak jelas tentang wali kelas itu.
"Gila ya, udah gaikut mikir main protes aja. Males gue!" Kata chacha
"Yaudah kita bicarain lagi aja sama anak anak!"

KAMU SEDANG MEMBACA
36 Manusia Aneh (Completed)
HumorAmazing cover by @Ekaaadewi "Kalian ini selalu aja ya kalo di bilangin bandel, sekarang kalian mau keluar atau saya yang keluar" kata Bu Tutik penuh penekanan di setiap kata katanya. "kalau kalian diam, berarti saya yang keluar. PERMISI!" Lanjut dia...