Sejujurnya saya sudah lama tidak menulis kembali.
Dan kadang hanya waktu-waktu tertentu ada keinginan menulis.
Tetapi ketika membuka notif di wattpad banyak yg memasukkan cerita saya ke dalam reading list mereka.
Saya merasa ada setitik harapan dan keharusan saya untuk tetap mau menulis hingga cerita yang sudah saya buat selesai hingga tamat.
Buat kalian para pembaca terima kasih karena apa yang kalian lakukan termasuk dorongan buat saya untuk memulai menulis kembali.
Mungkin tulisan saya masih sangat jauh dari kata sempurna tetapi saya akan selalu terus belajar dan menerima kritik dan saran dari kalian.
Support kalian sangat berarti untuk saya. Semoga tulisan saya tidak menyecewakan kalian :")
Sekali lagi terima kasih atas supportnya.
Dan Salam kenal.
-ridhaasay-
.
.
.
.
Author Pov
.
.
Air jatuh membasahi kota yang disebut dengan istilah kota pahlawan itu. Namun Hiruk pikuk kota di pagi hari masih sangat terlihat meski hujan turun terlihat sangat deras .
Ada banyak kendaraan yang berlalu lalang.
Suasana seperti ini membuat kesedihan semakin menjadi di benak gadis yang sedang duduk di kasir sebuah cafe bergaya klasik.
Tatapan matanya kosong, seakan dia membenci hujan.
Bukan.... bukan hujan yang dia benci.
Tetapi hujan seakan memberi tanda bahwa awan sedang menangis. Sama seperti hatinya.
Suasana hatinya gundah. Dia terluka tepat dihatinya. Tetapi dia tidak sanggup meneteskan air mata.
Dia hanya bisa diam.
Melamun.
Memendam luka
Serta perasaan kecewa
Seorang pria dewasa diam terpaku di depan kasir sambil melihat si gadis tersebut dengan pandangan sedih.
Dia melihat setetes air mata jatuh dari mata indah gadis itu. Namun air mata itu segera diusap dengan punggung tangan si gadis.
Pria itu tahu bahwa gadis itu tidak ingin ada yg melihat air matanya terjatuh.
Dengan ragu pria itu bersuara
"Permisi, saya mau pesan menu breakfast satu"
Seakan tersadar gadis itu mengerjapkan mata dan menoleh kepada siempu suara.
'Ahhh aku melamun lagi' batin gadis itu.
"Ahh... iya? Maaf tuan bisa diulang kembali pesananannya?" Ucap gadis itu kikuk.
"Satu menu breakfast nona. Dan untuk teh nya saya ingin ganti dengan kopi" balas pria itu sambil tersenyum manis. Berharap senyum itu akan menyalur kepada gadis itu.
"Baik tuan. menu paket breakfast 1 dengan jumlah satu minumnya kopi ya, totalnya lima puluh empat ribu rupiah. harap ditunggu 10 menit lagi. Ini struk dan nomornya"
Ucap si gadis dengan menyodorkan struk kepada si pria.
"Ahh.. terima kasih" ucap pria itu lagi lagi dengan tersenyum tulus.
Tetapi harapannya untuk mendapat balasan senyum si gadis tidak terealisasikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Malaikat Baik
Romance"dia bukan seperti perempuan lainnya. mungkin diluar dia terlihat ceria, akan tetapi aku tau dia lemah dan pengalaman hidupnya membuat dia dewasa sebelum waktunya." itu yang aku ingat ucapan dari kakak sepupu gadis itu. jujur, aku ingin mendekatin...
