"Kenalkan nama saya Rayhan, saya penulis novel yang kamu rebut tadi."
Hana sukses melongo ditempat, bibirnya terbuka dan matanya sedikit melotot.
'Buset! Dia penulis woi, gilaa malu dah guaaa' gumam Hana dalam hati.
Rayhan yang melihat itu tertawa, menurut sungguh lucu.
Hana menutup mulutnya dan menormalkan ekspersi wajahnya.
"Eh, maaf, Sa...saya saya nggak tahu, Mas, penulis," ucap Hana dengan gagap. Antara kaget dan malu. Pipinya bahkan sudah merah bersemu.
Rayhan tersenyum, "Nggak papa, saya memang belum dikenal banyak orang kok," balas Rayhan merendah. Hana malah merasa bersalah mendengar itu.
"Anu, bukan gitu maksudnya. Ngg ... haduh gimana ya." Hana menggaruk bagian belakang kepalanya dengan salah tingkah.
"Gapapa. Nama kamu siapa?" tanya Rayhan.
"Saya Hana, Mas," jawab Hana dengan tersenyum paling manis.
"Oke Hana, tadi kamu lagi butuh riset bukan?"
Hana mengangguk.
"Mau ikut dengan saya?" tawar Rayhan.
"Ikut kemana, Mas?"
"Ke McD depan sini, Saya punya tips menulis buat kamu." Rayhan tersenyum.
Dan itu sukses membuat Hana meleleh ditempat.
***
Rayhan dan Hana sudah duduk di salah satu meja. Suasana yang lumayan ramai padahal sudah sore juga kebetulan diluar sedang hujan.
"Ayo makan dulu, nanti saya baru kasih tipsnya."
Hana menoleh mendengar suara itu, ia tersenyum kecil lalu mulai ikut makan. Sebenarnya Hana sangat malu, tadinya sesudah membeli buku ia akan langsung pulang karna tak membawa uang lebih. Namun, saat Rayhan mengajaknya kesini, Hana hanya bisa pasrah, jadilah semua ini dibayar oleh Rayhan.
Hana makan dengan sangat anggun padahal jika dirumahnya, Hana makan dengan tangan langsung dan kaki naik ke atas, tidak ada anggun-anggunnya seperti sekarang, biasa cewek suka jaim setiap ada cogan.
Sesekali Hana melirik ke arah Rayhan. Menurut Hana, Rayhan lumayan tampan, dengan kacamata yang dipakainya, kulitnya yang bersih tanpa jerawat, rahang yang kokoh (cocok untuk usapable), bibir yang (lumayan) seksi dan yang penting ia punya tinggi 170.
Sedangkan Hana mempunyai tinggi hanya sepantar dada Rayhan saja, mukanya bulat dan ada sedikit bekas-bekas jerawat di dahinya.
Sungguh perbedaan yang sangat menyakitkan bukan?
Hana melahap suapan terakhirnya dengan pelan, ia lalu meminum-minumannya.
"Kamu penulis romance ya?"
UHUK
Hana tersedak kala mendengar ucapan Rayhan. Dengan cepat Han kembali meminum-minumannya menetralisir ternggorokannya.
"Ekhem. Eh iya saya penulis romance," balas Hana.
Rayhan hanya tersenyum lalu kembali minum.
"Sudah berapa lama jadi penulis?" tanya Rayhan kembali.
"Emmm ... sekitar Lima bulan," jawab Hana tak yakin.
Rayhan mengangguk, "Kamu nulis untuk di kirim ke penerbit atau gimana?"
"Cerita saya di share di media online, Mas, yang lagi buming sekarang, rencananya sih kalo sudah selesai mau saya kasih ke penerbit tapi sampe sekarang malah belum selesai." keluh Hana.
"Kamu jangan manggil saya, Mas, dong. Berasa tua saya."
"Terus saya panggil apa? Kaka?"
'Manggil sayang juga Hana rela kok.'
"Kaka lebih baik," jawab Rayhan serasa tersenyum.
Hana dibuat dag dig dug saat diberi senyuman itu.
"Begini, dari awal menulis kita harus pikirkan terlebih dahulu hal-hal yang memang dibutuhkan. Jika dari awal asal-asalan menulis tanpa dipikirkan dulu pasti seterusnya malah kebingungan sendiri." jeda Rayhan.
"Dan itu berefek pada jalan ceritamu nanti. Makanya sebelum menulis kita harus matangkan dulu." jelas Rayhan.
"Kamu nggak kaya gitu kan?" tanya Rayhan tiba-tiba.
Hana yang sedang mendengarkan mendadak gugup.
"Itu, Anu, Saya ... ehmm."
Hana kebingungan sendiri mencari jawaban, karna semua yang di katakan Rayhan itu benar. Ia hanya asal menulis saja tanpa persiapan apapun. Hana pikir jika mau menulis ya menulis saja.
Rayhan memicingkan matanya.
"Kamu menulis seperti itu?"Hana mengangguk takut-takut.
Rayhan menghela napas pelan.
"Ini nih yang saya tidak suka, banyak penulis pemula yang hanya menulis untuk terkenal saja, tanpa memikirkan ini itu."Hana hanya menunduk memainkan jarinya. Hatinya membenarkan ucapan Rayhan tadi.
"Sudah mau malam, sebaiknya kamu pulang," ucap Rayhan sambil membereskan barang-barangnya.
Hana menggigit bibirnya saat mendengar ucapan Rayhan.
'Dia marah apa gimana ya? kok jadi takut'
Mereka berjalan beriringan keluar. Diluar sudah mau gelap dan baru selesai hujan membuat suasana dingin.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Rayhan.
"Emm ... naik angkot, Kak." jawab Hana.
"Kalo gitu, Kamu bareng saya saja pulangnya."
"Hah?"
"Ayo." ajak Rayhan.
Lalu mereka berjalan menuju parkiran.
Jangan pikirkan bahwa Rayhan membawa mobil yang bagus atau motor ninja merah seperti di novel-novel, ia hanya membawa motor matic biasa.Rayhan memberikan helm pada Hana. Hana menerimanya lalu memakainya tanpa mengaitkan ikatan di bawah dagunya.
Hana bersiap untuk naik ke motor.
"Tunggu dulu," ucap Rayhan memberhentikan Hana yang akan menaiki motornya.
"Seharusnya kamu kaitkan ini."
Rayhan mengaitkan ikatan helm Hana. Wajah Rayhan sangat dekat wajah Hana, membuat Hana menahan napasnya.
"Sudah. Ayo naik."
'Alamak... adek meleleh ini.'
TBC
29/07/17

KAMU SEDANG MEMBACA
Writing Love
RomanceHanara Febrianti adalah seorang penulis romance amatiran yang sedang kebingungan. Tulisannya tak pernah selesai karna kurang riset atau gambaran, Hana mulai kebingungan mencari gambaran ini itu, segala sesuatu telah Hana cari tentang Cinta. Hingga i...