Bagian 1 - Born

2K 156 11
                                    

Enam abad lalu, abad ke-14.
Sekitar tahun 1400.
Kerajaan Aima.

*****

"Cepat!"

"Kau, bawakan handuk bersih sekarang!"

"Suruh mereka untuk membawa air hangatnya sekarang!"

Hari itu, suasana kerajaan terlihat sangat ramai. Teriakan terdengar di mana-mana, para pelayan hilir mudik dari satu ruangan ke ruangan lainnya. Hari ini adalah hari besar. Ratu Malka akan melahirkan bayinya hari ini.

Kamar Ratu sudah dipenuhi orang-orang berkompeten dibidangnya. Dokter kerajaan dengan stafnya yang ahli, serta kepala pelayan dengan anak buahnya yang siap diberikan komando. Ratu sendiri terbaring di tempat tidur. Peluh keringat mulai membasahi keningnya. Kontraksi sudah mulai terjadi, namun ia masih saja berfokus pada kerajaannya, Kerajaan Aima.

"Panggil Jenderal Vero kemari!" perintah Sang Ratu.

Kepala pelayan mengangguk, ia langsung memanggil Vero. Semenit kemudian dia telah tiba, lengkap dengan pakaian jenderal ia memasuki kamar seraya menutup matanya karena melihat Ratu secara langsung adalah kejahatan besar dan merupakan suatu tindakan yang tidak hormat terhadap wanita.

"Angkat kepalamu dan buka matamu," perintah Ratu karena melihat Vero masih saja menunduk hormat dengan mata yang terpejam. Melalui perintahnya, Vero melakukan apa yang sudah dikatakan.

"Bagaimana keadaan kerajaan?"

"Saya sudah menempatkan Letnan Jendral terbaik di seluruh penjuru mata angin. Mereka ditemani oleh lima belas Jenderal Mayor terbaik di bidangnya. Sedangkan pasukan prajurit kita bersiaga untuk menerima perintah darurat dan siap untuk dimobilisasi," jelas Vero.

"Kau tau hari ini adalah hari yang riskan?" dan Vero mengangguk dalam, mengiyakan perkataan Ratunya.

"Hari ini Kerajaan Aima akan mendapatkan penerusnya. Tapi hari ini juga akan menjadi hari yang berbahaya karena sebuah kerajaan tanpa adanya pemimpin di tahtanya akan menjadi sasaran empuk lawan untuk dihancurkan."

Vero kembali mengiyakan perkataan Ratunya dengan gestur menganggukan kepala.

"Ingat, Vero. Lindungi kerajaan ini untukku. Bunuh siapapun yang mencurigakan!" Ratu kembali memberi tantrumnya.

Vero mengangguk mengerti, sebagai Jenderal tugasnya tidak lain dan tidak bukan adalah menaati dan menjalankan perintah Ratunya. Kata-katanya bersifat mutlak. Baik dan buruk tidak akan berlaku padanya. Kemudian ia pamit undur diri karena kontraksi Ratu sudah mencapai batasnya. Ratu bersiap untuk melahirkan.

Kepala Dokter Kerajaan sudah berada di hadapan kaki Ratu yang terbuka lebar, bersiap memberikan pelayanan persalinan terbaik melebihi apa yang ia bisa. Sedangkan kepala pelayan mulai memobilisasi anak buahnya untuk memenuhi keperluan persalinan yang dibutuhkan.

Dengan sebuah lipatan kain dimulutnya, dan tangan yang menggenggam erat sprai tempat tidur. Ratu berusaha sekuat tenaga mendorong bayinya keluar. Ia sama sekali tak berteriak kesakitan, yang ada hanya deru napas yang saling memburu dan erangan saat ia berusaha mendorong bayinya untuk keluar.

Sedangkan, kepala pelayan sibuk mengelap penuh kehati-hatian peluh keringat yang terus saja bercucuran. Keberadaan Raja menjadi pertanyaan. Dimana Raja? Suami dari Sang Ratu.

Raja ternyata berada di dalam kamar lain. Duduk terdiam di dekat jendela seraya melihat langit yang sangat cerah hari ini.

"Sepertinya, Tuhan juga memberkati kelahiran sang pangeran," jelas Raja ketika Vero memasuki kamarnya.

Kingdom of Blood -- Book #2Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang