ANNIVERSARY

5.1K 359 17
                                        


Original By. Chanie

Fanfiction

PWP

Rate M

Enjoy

-

-

Basah, lengket, dan panas. Tidak kenal lelah, bahkan meski mereka baru saja berlelah-lelah pada pertunjukan besar tadi sore. Yang namanya Jimin memang tidak kenal lelah. Apalagi setelah kekasihnya ini muncul di hadapannya hanya dengan sehelai bathrobe dengan rambut yang masih setengah kering saja.

Suaranya yang mulanya bertanya apakah dia sudah mandi atau belum terdengar seperti desahan menggoda. Aneh memang. Kalau tidak aneh, bukan telinga Jimin namanya.

"A-ahmmpt.."

Jemarinya menusuk, melingkar di dalam, mencari prostat kesukaan kekasihnya. Bibirnya sibuk menghisap. Bibir cherry milik kekasihnya benar-benar bagai candu sekarang. Ingin Jimin habiskan, tapi bibir ini bukanlah marsh-mellow yang bisa habis sekali lumat.

"Ahengmmpp.." Jimin menambah jarinya, menggunting pada rectum ketat kekasihnya. Dia mendesah tertahan. Plump seksi Jimin tak membiarkan dia lepas untuk mengumpat kesal. "Jihmmp.."

Sialan. Suaranya benar-benar luar biasa. Lebih menggoda dari pada suara desah bintang-bintang porno yang pernah Jimin liat bersama Rapmon atau Taehyung sebelumnya. Suara Min Yoongi adalah itu...menakjubkan. Jimin jadi tegang, dan lebih tegak.

"Ngehaah—"

Jimin turun untuk meraih dadanya. Bagian lain yang dia favoritekan dari tubuh kekasihnya. Dada yang semakin berisi setiap harinya. Tentu saja, berkat Jimin rajin menghisapnya setiap malam. Bagian yang kini menjadi 'area keposesifan' seorang Park Jimin. "U—uhng.."

Tangan Jimin yang lain meremas paha, dekat bagian kemaluan Yoongi yang panas. Jimin sesekali bergerak untuk menggesek milik mereka, sementara dia sibuk menyusu di dada. Tipikal pria yang suka sekali menggoda. Kadang, Jimin suka berlama-lama foreplaying untuk menikmati desahan kekasihnya. Yoongi tidak suka mendesah. Maka dari itu, desahannya adalah hal yang mahal didengar.

Jimin menambah jarinya, membuat Yoongi mengaduh sakit, memejamkan matanya. Jarinya mengoyak, memperlebar jalan, membuat Yoongi kembali menjambak. Jimin tak peduli. Sakitnya tarikan Yoongi tersamarkan pada tingkat horny yang menyerang. Jimin menggesek lagi, Yoongi pun menggeram tak tenang.

"Ahh—"

Tepat! Jimin menemukan titiknya. Jemarinya memutar, menggoda ke arah sana. Yoongi mengejang, kali ini desahnya pasrah telak. Jimin menyeringai senang, masih sibuk menandai bagian depan tubuh putih, halus seorang rapper jenius—kekasihnya.

Yoongi mengetat, lebarkan lubangnya. Dia melayang, menikmati perlakukan jari-jari laknat yang ada di tubuhnya. Dia juga sesekali menggesekkan miliknya pada Jimin. Lalu dia mengerang kecewa. Jimin tiba-tiba menarik semua jarinya.

Sebenarnya Jimin ingin menikmati oral dari bibir cherry yang mendapat julukan tongue technology itu. Akan tetapi, mengingat awal mula mereka sepanas ini karena 'sedikit' paksaan dari Jimin—hanya tiba-tiba mengulum telinga dengan meremas penis Yoongi dari luar, Jimin menggagalkan niatnya. Dia memilih bangun. Sebelah tangannya sibuk mengurut milik mereka, sementara tangan yang lain meraih gel yang di dekat meja.

Yoongi tidak tahu sejak kapan ada gel laknat itu di sana. Atau mungkin Jimin memang menyimpannya untuk bermain setiap di kamarnya? Tidak tahu. Yang jelas, dia sekarang melihat gel itu melumuri milik Jimin yang menodong ke lubangnya.

"Yoon.." Jimin berada di atasnya. Yoongi menatapnya sayu. "Aku masuk.."

"Ahk—ah!"

Gila. Keras sekali! Yoongi memekik kencang, hampir menggigit lidahnya sendiri. Dan Jimin mengumpat. Sial! Ketat sekali.

"Ng—hahh!" Jimin mendorong, lebih dalam lagi. Yoongi benar-benar merasa terbelah sekarang ini. Jimin memasukinya dalam, dan tepat mengenai titik. "J-jihhm—ahmmp!"

Jimin memagutnya lagi, tanpa aba-aba menggenjotnya dalam. Pelan, namun dalam. Yoongi hampir tersedak karena nikmat. Dia lupa seberapa lelah dia sebelum ini.

"Ahm—hngmm—mmh.."

Jimin menambah tempo, masih menusuk dalam. Yoongi memegangi lengannya kuat, hampir ingin mati karena nikmat. Kaki-kakinya melingkari Jimin, sudah reflek membalas tarian panas dan dalam itu.

Jimin memainkan pinggulnya lagi, mengajak Yoongi mengimbangi. Yoongi melepas pagutan, butuh udara, tapi berakhir mendesah hebat.

"Hyahh—ahh—ah—"

Jimin semakin cepat. Bibirnya memeta laknat di sekitar telinga, lupa sepenuhnya ancaman manajernya jika media melihat. Toh besok hanya akan berlatih ke studio. Jimin berdoa dia selamat.

Jimin menggenjot dalam, Yoongi meracau. Seperti tarian I like U pt.2 dengan kedalaman tarian Bapsae pada pelvic dancenya. Jimin dan Yoongi menari panas. Berbagai gaya, dan entah sudah berapa kali lepas.

Ketika Yoongi sudah meracau parah dan meminta itu yang terakhir karena lelah, Jimin pun menggempur habis sampai pelepasan. Yoongi lemas, tak bertenaga lagi. Dia tampak seksi, tapi benar-benar kelelahan sekali. Jimin sejenak merasa bersalah.

"Kubersihkan.." Suara Jimin parau, lalu meraih tissue basah untuk membersihkan cairan-cairan mereka. Jimin menggulung seprai, lalu menarik selimut dan mendekat pada kekasihnya.

"Hyung..."

Yoongi menggumam, hampir tertidur. Bercak merahnya kini terlihat. Jimin baru sadar kalau dia sudah menggambar banyak.

"Happy Anniversary.."

Sebenarnya dia tidak berniat merayakannya malam ini. Besok saja, pikirnya. Akan tetapi, mengingat kekasihnya tampak begitu menggoda, juga beberapa notifikasi twitter yang 'kebetulan' membuatnya 'ingin', Jimin pun berakhir melakukannya. "Let's live together forever after."

Jimin mengecup kening, lalu mendekap kekasihnya untuk terjun ke alam mimpi. Jimin dan Yoongi terlelap, tak peduli Seokjin dan Jungkook yang tersiksa karena harus berbagi kasur di kamar kecil Jungkook. Seokjin terkunci di luar, dan kebetulan tidak ingin tidur di kamar Jhope.

"Sial."

"Salahkan mereka, Kook!"

"Ashh! Sudahlah! Mereka juga sedang 'perayaan'!" Jungkook menarik bantal, memeluknya dan memunggungi Seokjin yang mengumpat.

Happy Anniversary! Be healthy! Be happy! Longlasting for ever after!

AAMIIN


END


((Sorry for rush! Aku mau ke luar kota beberapa menit lagi, hehe))


Once Upon a TimeWhere stories live. Discover now