2

17 3 3
                                    

Selama 16 tahun hidupku di dunia ini, aku sering mendengar orang-orang banyak mengatakan bahwa "ibuku adalah malaikatku".

Tapi bagaimana jika sebutan itu tidak berguna bagimu saat ini. Seperti kamu diomeli oleh ibumu karena hanya sedikit kesalahan yang kamu perbuat, atau kamu kesal karena ibumu yang selalu berdebat panjang lebar denganmu, tapi kenyataannya ialah ibumu yang salah tapi selalu beranggapan ibumulah yang benar, atau seperti kamu diomeli oleh ibumu karena kesalahan yang diperbuat adikmu.

Pasti sebutan "malaikatku" saat ini pasti akan hilang sementara seiring dengan kamu dan ibumu yang berbaikan lagi.

Sepertinya, itu sedang terjadi padaku sekarang ini. Well, tadi setelah 6 menit di dalam bus, aku mampir sebentar ke toko musik dekat komplek rumahku hanya sekedar membeli senar gitar yang baru karena punyaku yang dirumah sudah perlu di ganti dan setelahnya aku berjalan kaki sekitar 3 blok untuk sampai ke rumah.

Ketika sampai di rumah, aku langsung diomeli mama bukan karena aku pulang ke rumah agak lama. Tapi karena kamarku yang berantakan, tidak dirapihkan, dan meja belajarku yang penuh dengan kardus-kardus bekas dan alat-alat lukis yang berserakan diatas meja.

Itu karena semalam aku lembur untuk membuat tugas prakarya yang disuruh membuat suatu kreasi dari bahan bekas. So, aku membuat rumah panggung dari kardus, dan esok paginya, aku terlambat ke sekolah dan terlalu sibuk dengan segala sesuatu yang akan kubawa ke sekolah sehingga lupa merapihkan dan membersihkan kamarku.

"Iya iya ma, nanti aku beresin". Aku hanya menjawabnya enteng dan langsung melongos ke dapur untuk minum air. Jujur saja sedari tadi aku menahan diriku untuk tidak menelan ludahku sendiri.

"Kamu ya Ra, dibilangin kok malah gitu sih. Bukannya langsung ke kamar beresin itu dulu kek, ini malah ngelongos ke dapur kamu. Cepat sana beresin tuh kamar kamu" ngomel ibu lagi kepadaku sambil berkacak pinggang. Aku yang mendengarnya cukup sabar aja. Kalo dipanjangin nanti malah jadi adu debat.

"Tadi kan aku haus banget, ma jadi aku ke dapur dulu buat minum. Ini aku mau ke kamar ". Jawabku setelah itu langsung berjalan pergi ke kamarku.

Sampai di kamar, aku melakukan semuanya secara bertahap. Pertama, aku mandi dulu. kedua, ganti baju. Ketiga, beresin tempat tidurnya dulu. Lalu yang terakhir aku mengangkat semua kekacauan yang ada di atas meja kecuali alat-alat lukisnya kemudian pergi keluar membuangnya di tempat sampah di depan rumah.

Tepat setelah aku membuang sampahnya ke tempat sampah, dua truk besar baru saja berhenti di depan rumah kosong di depan rumahku. Sepertinya akan ada penghuni baru di rumah itu. Pasalanya rumah kosong itu sudah dua tahun kosong tanpa ada penghuni.

Dan benar saja, dua orang laki-laki dari dalam truk itu keluar. Yang satu, umurnya mungkin sudah kepala empat atau sudah kebapakan dan berambut coklat, dan yang satunya lagi, terlihat dari wajahnya jauh lebih muda dari yang pertama sepertinya sepantaran denganku. Rambutnya juga berwarna coklat tapi lebih terang. Mereka berdua terlihat mirip. Mungkin mereka adalah Ayah dan anak.

Pria yang sudah kebapakan itu tanpa sengaja mengarahkan pandangannya kepadaku melihatku yang sedang memperhatikan mereka.

"Hai, kami tetangga baru kalian" ia menyapaku sambil melambaikan tangan padaku. Sedangkan, anaknya hanya melihat dengan wajah tanpa ekspresinya itu. Beda dengan ayahnya.

Aku yang tidak tau harus membalas apa --tidak mungkin aku membalas dengan 'hai tetangga baru' itu terdengar seperti anak-anak-- hanya membalasnya dengan senyuman dan berkata,

"oh ya? Kalian dari mana?" Tanyaku membalas berusaha ramah.

" Ya, Kami dari Jakarta" pria itu membalasku dengan senyuman. Sedangkan anaknya hanya diam saja tak berbicara sedikit pun. Dan setelah itu, pria itu berkata dengan pelan seperti menyuruh anaknya untuk melakukan sesuatu.

StrangerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang