"Perhatian kepada ketua kelas XI-IPS 1 Tariana Putri untuk segera ke ruangan guru menemui Wali kelas anda. Terimakasih"
Aku yang sedang duduk di kelas, melamun memikirkan laki-laki yang bernama Leon kemarin yang memberikan 2 kertas dengan maksud yang tidak kumengerti pun terbuyar oleh suara pak Salim yang terkenal dengan suara yang sangat beratnya itu.
"Ta, lo dipanggil tuh sama walkes ke ruang guru" kata Peggy, teman sebangku ku. Aku pun beranjak dari kursi
"temenin gue kesana dong " pintaku. Jujur saja, aku mengharapkan dia mau ikut denganku karena aku tidak nyaman berjalan sendirian di tengah keramaian di koridor sekolah. Apalagi pas jam istirahat. Alasannya karena, risih aja dilihatin sama orang-orang.
"Mager"
"Ish, bentaaar aja, peg" balasku memohon
"Sumpah. Gue mager banget, Ta. Kaki gue lagi pegel gara-gara lari kemaren. Lo suruh yang lain aja deh" tolaknya.
"Ayo dong. Lo gak mau ngeliat kakak kelas yang lagi maen? Biasanya kan lo sering ke lapangan nontonin mereka tuh main basket" kali ini dengan embel-embel kakak kelas yang bisa membuat dia berubah pikiran untuk menemaniku. Kebiasannya setiap harinya ya gitu. Nontonin kakak kelas main basket kalo gak beliin minuman buat mereka biar dikira ia adalah adik kelas yang perhatian. Apa coba, pikirku. Dia memang pernah mengaku kalau ia nge-fans berat sama kakak kelas dari kelas XII-IPA 1, anak basket, yang ku tidak tahu nama dan wajahnya sama sekali.
"Gak. Gue lagi gak mood. Lagian besok juga bisa. Lo suruh si Tomi aja temenin, pasti dia mau" ujarnya jahil.
Lantas aku langsung menggeleng menolak saranan Peggy itu. Lebih baik aku sendiri saja kesana, daripada sama Tomi yang ada nantinya ia malah---. Ngeri deh kalo dipikirin.
"No no no no mendingan gue sendirian aja daripada sama dia"
"Heh!! Lo pada ngomongin gue ya? " Suara Tomi tiba-tiba dari pojokan kelas yang seakan menginterupsi aku dan Pegy.
Lantas aku dan Peggy menolehkan kepala padanya.
"Iya si Tara minta ditemenin lu ke ruang guru katanya" Ucap Peggy yang gak betul sama sekali.
"Eh enggak Tom, si Peggy ngaco" aku mengelak karena aku memang takut dengan Tomi.
"Lah? Tadi kan lo yang minta ditemenin" Tambah peggy tambah menjahiliku
"Eh gak papa kok Ta, gue bisa temenin. Lagian gue lagi gak ngapa ngapain kok" ujar Tomi yang membuatku sekarang merinding membayangkan bagaimana nanti jadinya.
"Tuh kan, Tomi aja mau. Yaudah sama dia aja" ujarnya peggy menahan tawanya.
"Gak usah Tom, gue bisa pergi sendiri. Yauda gue cabut dulu keburu dimarahin walkes" segera aku menolak Tomi dengan senyum memaksa dan pergi ke ruang guru.
"Awas lo ya" ancamku dengan suara pelan kepada Peggy dan ia hanya mengedipkan matanya jahil. Bitch memang.
----------------------
"Permisi, ibu memanggil saya ?" Tanyaku setelah sampai ke ruang guru. Ibu hanya mengangguk. Aku sedikit terkejut melihat siapa yang sedang berdiri di samping walkes kami (Bu Lily). Dia adalah laki-laki yang baru pindah depan rumahku bersama ayahnya kemarin. Kalo tidak salah namanya Jullion. Ternyata ia pindah di sekolah yang sama denganku.
"Jullion, ini Tariana ketua kelas kamu di kelas kamu nanti, dan Tariana, ini teman baru kamu dari Jakarta" Kata Bu Lily sambil memperkenalkan kami masing-masing.
Aku dan dia pun saling berjabat tangan memperkenalkan diri bergantian
"Tariana panggil aja Tara". Ucapku tersenyum padanya
