Puluhan kertas tersebar di meja nomor empat sebuah rumah makan Jepang. Yuki mengetuk-ngetukan ujung garpunya pada meja. Okonomiyaki yang biasanya menggiurkan kini terlihat biasa saja. Katsuobushi yang masih menggeliat berusaha mencari perhatian Yuki pun tidak berhasil.
"Kok enggak dimakan Ki?" Bayu menghentikan makannya.
"Lagi males aja, enggak tahu kenapa."
"Tugas kamu kan baru aja selesai, nanti tinggal aku yang presentasi waktu rapat. Mikirin apa lagi?"
"Enggak tahu."
"Mau ramen ini? Nyesel aku beli yang ini, pedesnya di tenggorokan." Bayu menyodorkan mangkuk besar berisi setengah porsi maguro ramen.
Yuki menggeleng. Perutnya terasa penuh.
"Ya udah, kamu makan dong okonya, makin cebol lhoh nanti kalau enggak makan." Bayu mendorong piring Yuki.
"Aku makan, aku habisin, tapi abis ini aku pergi dulu ya? Please." Yuki menempelkan kedua telapak tangannya, memohon.
"Mau kemana?"
Mata Yuki berputar, entah harus menjawab apa. Kejujuran akan berbuah larangan. Sedangkan ia tak mampu menambah kebohongan.
"Rumah sakit?"
Yuki menggeleng keras.
"Kalau pun iya enggak apa-apa kok Ki, aku temenin ya?"
Yuki menggeleng. "Bukan, enggak usah. Ini urusan pribadi."
Bayu memandangi perempuan dihadapannya. Entah mengapa ia seperti merasa Yuki sedang membohonginya. Bayu mengangguk, pasrah.
***
Sepasang kaki membelah keramaian pengunjung rumah sakit. Hampir tiga minggu Yuki tidak datang ke rumah sakit, bayu terlalu baik untuk dibiarkan cemburu. Langkah Yuki tidak sekalipun melambat. Setiap sudut bangunan itu begitu dirindukannya, aroma kue di lobby, interior yang lebih mirip hotel, perawat dengan seragam yang berwarna-warni, dan tentunya salah satu pasien yang kini sudah tinggal di kamar reguler.
Langkah Yuki berhenti di depan sebuah pintu putih dengan nomor yang sama dengan pesan Maya beberapa waktu lalu. Perlahan Yuki mendorong gagang pintu. Seorang pria sedang berdiri di samping ranjang memunggunginya. Yuki melangkah masuk satu-satu. Terapis itu menggerak-gerakan tangan seorang pasien.
"Mas Remi?"
Remi menarik kedua ujung bibirnya. "Hai Yuki." sapanya dengan suara super pelan.
Yuki tersenyum haru, kemudian memperhatikan cara pria yang ternyata adalah seorang fisioterapis itu menggerak-gerakan tangan Remi. "Ada perkembangan apa aja mas?" tanya Yuki pada si terapis.
"Mas Remi sudah bisa gerakin tangannya dikit-dikit." pria tiga puluh tahunan itu tersenyum. "Ayo mas, tunjukin, mbaknya udah enggak sabar tuh."
Terapis itu menyingkirkan tangannya kemudian mundur satu langkah menjauhi ranjang. Remi menarik nafas kemudian berusaha menggerakan kedua tangannya. Perlahan-lahan kedua tangan yang semua berada lurus di samping badan bergerak dan ia letakan di atas perut. Yuki terkagum. Remi terus memandangi kedua tangannya, perlahan jari-jarinya seperti dilipat ke dalam, meninggalkan sepasang ibu jari. Yuki tersenyum puas, berkali-kali nafas lega keluar dari mulutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sky That Never Closes
General FictionAda cinta yang bergerliya, bergerak diam-diam. Ada cinta yang sejujur-jujurnya, ada cinta yang berpura-pura, ada juga abadi. Cerita ini tentang seorang perempuan pengagum rahasia dan seorang pria pusat perhatian yang tiba-tiba kehilangan kehidupanny...
