Pukul sepuluh pagi di fakultas kedokteran hewan Universitas Harapan Indonesia. Beberapa orang terlihat berkeliaran di sekitar parkiran yang sudah hampir penuh. Yuki memarkirkan motor matic dengan perpaduan warna jingga dan hitam yang nyaris mogok kehabisan bensin.
"Kamu dari mana aja?" Bayu muncul dari punggung Yuki.
Yuki menarik wajahnya.
"Aku tadi ke kost tapi kamu enggak ada."
"Oh, tadi aku berangkat pagi terus sarapan, tapi seragam lapanganku ketinggalan, jadi aku balik ke kost dulu. Lagian, ngapain ke kost?" perempuan berusia sembilan belas tahun itu memiringkan kepalanya, membuat rambutnya jatuh ke samping.
"Emang enggak boleh ya kalau cowok nemuin ceweknya?"
"Boleh sih, tapi mana aku tahu kalau kamu mau dateng kalau kamu enggak ngehubungin aku dulu?"
"Hape kamu mana?"
Yuki memutar matanya.
"Dimana?" Suara Bayu lembut.
"O iya! Dibawah bantal, aduh maaf banget Bay, aku lupa. Yaudah dari pada kamu marah-marah mending kita masuk aja. Aku mau minjem catetan yang kemarin, boleh?"
"Ki, tolong ngerti dong, aku itu pacar kamu dan aku mau jagain kamu, mastiin kamu aman, tolong jangan buat aku khawatir. Puluhan kali aku telpon kamu Ki. Dan entah kenapa, tapi enggak ada kabarnya kamu itu nyiksa aku." Bayu memegang kedua bahu gadis di hadapannya.
"Maaf Bay, aku enggak maksud." Yuki menyipitkan matanya. "Ok kalau gitu nanti tolong cariin bensin ya, si Loreng kelaperan, dan nanti mungkin jokinya juga laper."Yuki mengetuk-ngetuk motornya.
Bayu tersenyum mendengar jawaban gadis yang sudah dikencaninya selama hampir satu tahun itu. Ia sudah hafal bagaimana perangai kekasihnya, Yuki bukan orang yang bisa diajak duduk untuk membahas sesuatu dengan serius.
Bayu meletakan telapak tangan kanannya di atas ubun-ubun Yuki kemudian mengusap rambut gadis yang hanya setinggi dagunya dengan lembut. Mereka berjalan ke arah gedung kuliah yang cukup dekat dengan parkiran, gedung berlantai tiga di pinggir Jalan Bougenville.
***
Yuki yang berseragam hijau meninggalkan teman-temannya yang masih asyik mengamati kuda baru pemberian dari seorang alumnus yang baru lulus tahun ini dengan nilai terbaik. Kuda Berwarna coklat bersih dengan rambut panjang yang hitam legam, keempat kakinya mulai dari lutut ke bawah berwarna hitam. Kuda jantan itu terlihat seperti sedang memakai dua pasang sepatu boot, tampan mirip tokoh utama di film animasi Spirit. Langkah Yuki melambat, dua ember besar dengan beberapa perkakas di dalamnya cukup membuatnya lelah.
"Nugget!" Bayu berlari menghampirinya.
Yuki terkikik mendengar cara Bayu memanggilnya dengan plesetan dari nama tengahnya, Nugie. Mendengarnya saja sudah membuat perutnya keroncongan.
"Kok duluan? Mau kemana?" Bayu meraih kedua ember dari tangan Yuki.
"Mau cari donasi makanan, cacing Alaskaku udah demo di depan gedung dewan perwakilan pencernaan." Yuki menepuk-nepuk perutnya.
Bayu tersenyum, membuat kedua lesung pipinya keluar tanpa malu-malu. Dia cukup terkenal di fakultas karena wajah manisnya yang dihiasi sepasang lesung pipit. Setiap kali ia tersenyum, bertambah satu perempuan jatuh hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Sky That Never Closes
Fiction généraleAda cinta yang bergerliya, bergerak diam-diam. Ada cinta yang sejujur-jujurnya, ada cinta yang berpura-pura, ada juga abadi. Cerita ini tentang seorang perempuan pengagum rahasia dan seorang pria pusat perhatian yang tiba-tiba kehilangan kehidupanny...
