Sentuh

110 2 0
                                        



Sabtu, pukul empat sore di teras wisma Alila ketika Yuki dan Bayu mengerjakan laporan praktikum yang harus dikumpulkan dua hari lagi. Sepiring kue putu dengan gula jawa meleleh ditengahnya dan es dawet nangka menemani mereka di suasana yang cukup syahdu. Yuki dan Bayu sengaja memilih objek penelitian yang sama agar mereka bisa bekerja sama menyelesaikan tugasnya. Mengerjakan tugas sekaligus pacaran adalah solusi bagi pasangan yang sama-sama sibuk.

Suara pintu utama wisma terbuka. Perempuan cantik dengan gaun selutut keluar dengan flat shoes bermotif bunga kecil-kecil. Suara sepatu melangkah pasti, suara langkahnya semakin terdengar keras di telinga Yuki.

"Ki, tolong telponin Pak Joko ojek dong."

"Mau kemana mbak? Enggak naik motor aja? Bensinnya abis? Pake motor aku aja enggak apa-apa, si Loreng."

"Ih apaan sih, aku mau nyusulin Remi turnamen basket, udah final lagi dia. Cepet dong, aku udah telat banget nih."

"WIIIIH!!" seru Yuki girang. "Kita ikut aja mbak, iya kan Bay?" Yuki menoleh ke arah Bayu. "Tugas kita bisa nanti lagi kok mbak, iya kan Bay?" Yuki menoleh ke arah Bayu lagi. "Pasti seru banget abis itu kita double date lagi dibayarin mas Remi lagi, iya kan Bay?" sekali lagi Yuki menoleh ke arah Bayu tetapi tidak memberi kesempatan pria itu untuk menjawab. "Jadi gimana mbak? Setuju?"

"Ki, dua hari lagi lho deadline-nya." sahut Bayu setengah tidak setuju.

"Bentar aja Bay, itung-itung terimakasih ke mas Remi kan dia kemarin bayarin kita nonton sama makan. Kita bisa jadi pemandu sorak dadakan. Give me R, give me E, give me M, give me I, REMI go go go REMI! Never stop until the top!, you are TOP! Laa lalala laa lala lalala Remiiii Go! " Yuki menggerakan tangannya bak pemandu sorak sungguhan. "Atau kamu ga ikut aja enggak apa-apa, aku mau nemenin mbak Reta, kasihan kalau sendiri."

Bayu menutup laptopnya kemudian mengangguk, hampir tak ada keinginan Yuki yang tidak ia iyakan. Yuki bersorak girang.

Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk Yuki, Bayu, dan Reta sampai di tempat turnamen Remi yang hanya berjarak enam kilometer dari wisma Alila. Entah kenapa seluruh jalan di Jogja terserang wabah macet, seperti semuanya menuju tempat Remi bertanding. Reta membeli tiga buah tiket, lagi-lagi ini merupakan kencan gratis bagi Yuki dan Bayu. Yuki dan Bayu mengekor kemana pun Reta berjalan, seperti anak ayam mengikuti induknya. Reta memilih bangku depan yang dekat dengan lapangan agar Remi bisa melihat kehadirannya.

"MAS REMI, MBAK RETA DISINI." teriak Yuki.

Remi yang mendengar teriakan itu langsung melihat ke arahnya. Reta tersenyum manis ketika kekasihnya menyadari kehadirannya. Sedetik kemudian Remi kembali memusatkan fokusnya pada pertandingan. Cukup sepuluh menit lagi mempertahankan skor untuk membawa pulang gelar juara.

"GIVE ME R, GIVE ME E, GIVE ME M, GIVE ME I. REMI. GO TO THE G TO THE O. GO. GO REMI GO REMI GO REMI GO!" Yuki mengangkat tangannya tinggi-tinggi tanpa membiarkan tubuhnya hanya diam, seperti sedang benar-benar menjadi kapten pemandu sorak.

Reta duduk manis memperhatikan setiap gerakan kapten basket itu, jika tim kekasihnya menang lagi pastilah ia akan mendapat hadiah kencan istimewa lagi. Bayu tidak terlalu menikmati permainan itu, ia lebih suka futsal, apalagi setiap Yuki datang untuk menemaninya. Sedangkan pandangan Yuki tidak pernah lepas dari permainan yang sedang berjalan. Di matanya ada seseorang yang sangat mengagumkam diantara belasan orang di dalam arena itu.

"Oper-oper!"

"Awas belakang!"

"Remi kosong!"

The Sky That Never ClosesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang