Darren memarkirkan motornya pada parkiran sekolah, lalu berjalan menyusuri koridor sekolah.
Tas abu-abu di punggungnya senantiasa melekat. Serta sepatu yang berwarna selain hitam alias berwarna biru dengan tali putih, menemani langkahnya.
Darren menatap apapun dan siapapun itu dengan datar. Membuat orang-orang yang mendapati wajah tampannya dengan ekspresi datar meringis takut.
Sesampainya di dalam kelas, Darren segera menyimpan tas nya dan duduk di samping Niko, sahabatnya yang tidak lain teman duduknya sendiri. Niko menyapa dan Darren hanya menaikkan alisnya sebelah seperkian detik tanpa niat berbicara. Dan bagi Niko, itu artinya Darren sudah menyapanya balik, ya meskipun dengan cara sedikit tidak sopan dan aneh.
Vira masuk kedalam kelasnya dengan wajah ceria. Namun ketika ia melihat Darren, wajahnya tiba-tiba berubah muram.
"Darren! Udah gue bilang sepatu lo harus warna hitam tali putih! Bukan warna biru!" Pekik Vira kepada Darren untuk yang kesekian kalinya. Gadis itu sudah jera sekali dengan Darren yang selalu saja tidak taat peraturan dan mendengarkan perkataannya meskipun jabatannya itu ketua kelas tambah ketua Osis.
Darren memasang wajah datarnya pada Vira membuat Gadis itu mencebik kesal.
"Darren, lo punya mulut gak sih?!" Vira marah-marah di pagi-pagi seperti ini.
"Lo punya mata nggak sih?"tanya Niko pada Vira membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Kenapa pula lelaki itu yang menyahut? "Punya kan? Udah liat kenapa harus tanya?"Niko mencibir Vira, karena tak tahan mendengar teriakan Vira yang suaranya tidak merdu sama sekali.
Vira mencebikkan bibirnya lalu berjalan keluar kelas dengan menghentak-hentakkan kakinya. Bersamaan dengan itu, dua orang lelaki masuk dan duduk di depan Darren dan Niko.
"Pagi," Fathan menyapa Niko dan Darren yang langsung di balas dengan sapaan juga oleh Niko, sedangkan Darren mengangkat alisnya sekilas seperti yang dilakukannya tadi kepada Niko.
"Muka gitu kok dipajang Dar,"ucap Angga sambil memegang pipi Darren dan membuat senyum palsu di wajah Darren "Senyum dikit kek," Ucapnya yang langsung mendapat tatapan horor dari Darren.
Fathan tertawa "Gue heran deh sama lo. Senyum nggak pernah, ngomong jarang, Nangis apalagi. Lo bukan cowok pintar, bukan ketua osis, nggak Playboy, bukan kebanggan guru, tapi kok cewek-cewek pada suka sama lo?"Fathan menggeleng tak percaya. Mengapa Tuhan menciptakan Darren dengan wajah tampan tapi Sifatnya sungguh, uh. Pengen di tabok.
"Ganteng," jawab Darren sekenanya. Tanpa ekspresi, tanpa senyum jahil, ataupun intonasi dalam nada suaranya.
Niko mendelik "Gantengan juga gue," ucap lelaki itu dan Angga langsung menoyor kepala Niko.
"Pedean lo,"
"Emang ganteng kok,"
Angga baru saja hendak membalas perkataan Niko, jika saja suara seseorang dari alat pengeras suara yang terdapat di seluruh kelas dan ruangan, tidak terdengar.
"Perhatian, panggilan kepada Siswa yang bernama Darren Orlando kelas Dua belas IPA Dua, untuk segera menuju ke arah sumber suara, terima kasih,"
Niko, Fathan dan Angga mendengus tidak suka. Itu suara Vira, si ketua osis. Pasti Masalah sepatu Darren. Ketiga lelaki itu menoleh ke arah Darren dengan alis yang terangkat.
"Lo mau pergi?"tanya Fathan dan Darren hanya menganggum sambil bangkit dari duduknya.
Niko menepuk pundak Darren "Hati-hati bro. Semoga lo selamat dari amukan bu Adriana," Niko mendramatis membuat Darren lagi-lagi hanya menatapnya Datar.
Setelah itu, lelaki itu menuju keluar kelas, untuk melangkah memulai semua yang baru. Bersama seseorang.
☔
Keana lagi-lagi mendengar ocehan orang-orang yang menganggu telinganya. Sebenarnya ia sudah sabar sedari tadi. Tapi karena Orang itu sendiri yang minta di tonjok, akhirnya Keana meladeninya.
Langkah kaki Keana Terhenti. Dia lalu menoleh ke arah dimana sekumpulan gadis cantik yang Keana tau pasti kumpulan orang-orang alay.
Keana mendekat ke arah gadis yang lebih pendek dari nya. Keana terus menatap gadis itu. Keana yakin, gadis ini yang sedari tadi terus mengoceh.
"Apa lo liat-liat? Orang kayak lo nggak pantas ngeliat malaikat kayak gue,"ucapnya dengan lantang dan Keana rasanya ingin tertawa terbahak-bahak.
Malaikat?
Ccih, malaikat pencabut nyawa?
"Lo Malaikat?"Keana mengangkat dagunya menantang "Orang kayak lo Malaikat? Tubuh lo aja nggak suci! Gimana hati lo juga mau suci!" Keana berucap dengan tanpa basa-basi. Bila seseorang seperti ini terus didiami, bisa-bisa mereka semakin menjadi-jadi.
"Jaga ucapan lo!" Gadis itu marah.
"Makanya, kalo mau dihargai, jaga juga ucapan lo." Keana berusaha setenang mungkin. Ia tidak boleh terlalu terbawa emosi. Karena bisa-bisa ia melakukan hal yang tidak-tidak kepada gadis di depannya ini. Memukulnya, misalnya.
Gadis itu tersenyum miring "Orang kayak lo nggak pantas dihargai! Lo cuma gembel yang sekolah disini. Lo nggak dianggap! Lo itu kotoran disini! Nama lo nggak pantas sama keadaan lo! Lo pulang kerumah, lalu diskusi sama orang tua lo, ganti nama lo yang sesuai dengan keadaan lo. Kalo perlu lo bikin acara ritual!" Gadis itu tertawa "Ups! Lo kan nggak punya uang,"
Plak!
Teling Keana panas. Entah kenapa ia selalu tak bisa menahan emosinya ketika orang-orang membicarakan keadaanya. Ia tak suka. Jelas, sangat tidak suka. Dia dihina seperti itu rasanya biasa saja?
Tidak! Itu sangat menyakitkan.
Semua siswi yang melihat itu lantas menjerit ketakutan. Semua orang lalu berkumpul ketika Keana melayangkan kembali tamparan keduanya ke pipi halus gadis bodoh itu. Tidak peduli itu siswa laki-laki atau siswi perempuan, mereka hanya bisa menonton tanpa bisa melerai.
"Jaga ucapan lo!"Keana mengancam "Kenapa? Meski lo orang kaya, lo orang berada, lo bisa hina orang yang ada di bawah lo sesuka lo gitu?" Keana menjambak rambut gadis itu membuat gadis itu terus memukul-mukul tangan Keana.
"Gue nggak hidup di bawah kaki lo! Karena Lo orang kaya, bukan berarti lo yang hidupin gue!" Jeda Keana tak bisa menahan emosi. Nafasnya naik turun dan dadanya bergemuruh hebat "Lo jaga ucapan lo dulu, sebelum lo ngomongin orang. Jaga diri lo dulu, sebelum lo mau ngomentarin hidup orang. Oh atau lo mau gue aduin ke bokap nyokap lo tentang apa yang selama ini lo lakuin?"tanya Keana lalu menendang kaki bagian bawah gadis itu. Setelah itu, ia memungut tas nya yang sempat terjatuh dan hendak berlalu.
Namun, langkahnya terhenti ketika suara seseorang terdengar.
"Perhatian, ini Bu Adriana. Panggilan ditujukan kepada Keana Anugrah dan Afiva Zahrah agar segera menuju ke ruang BK, sekarang! Ini bu Adriana,"
Keana menghela nafasnya pelan. Ia lalu memutar arah yang tadinya ke arah kelas, menuju ke ruangan paling menyeramkan.
Tidak apa-apa dia masuk ruangan BK lagi. Yang terpenting, dia sudah memberi pelajaran kepada gadis yang tidak tahu menghargai. Meskipun Keana ragu, Apa gadis itu sudah kapok atau belum.
Keana membuka pintu. Lalu duduk di depan bu Adriana yang sudah menunggunya. Sebelumnya, Keana menoleh ke arah seorang laki-laki yang duduk di sampingnya sedang menatapnya.
Lelaki itu menatapnya tanpa henti.
☔
Darreana
Ditulis, 4 Desember 2017
Salam saya, ~Jodoh Taehyung

KAMU SEDANG MEMBACA
Summerain
TienerfictieMemang benar, Tuhan itu adil. Setiap takdir pasti punya kebalikan masing-masing. Bila ada kesedihan, maka akan datang kebahagiaan setelahnya. Bila ada kebahagiaan, maka Kesedihan akan menunggu di akhir kebahagiaan itu.