Berjalan dengan langkah cepat-cepat di koridor sekolah, Darren nyaris saja menubruk seseorang. Untung saja, ia cepat menghindar. Kebiasaannya yang enggan untuk berbicara, rasanya susah sekali membuatnya untuk mengomel ataupun sekedar minta maaf.
Darren menghela nafas pelan lalu segera memasuki kelasnya dan menghampiri ketiga sahabatnya.
"Good Morning abang Darren." sapa Niko dengan nada jahilnya.
Fathan menghela nafasnya pelan "Percuma kali, nggak akan dia jawab," Fathan mengingatkan.
"Too," jawab Darren, sontak membuat Niko dan Angga tertawa sedangkan Fathan mendengus sebal. Darren ini memang benar-benar Mengesalkan.
Darren hanya memasang wajah datarnya "Ada kontak?" tanya Darren pada Angga
Angga yang merasa pertanyaan itu ditujukan kepadanya, kini terkejut atas apa yang ia janjikan kepada Darren "Astaga, gue lupa cuy." jawab Angga sambil menepuk jidatnya.
Darren memasang wajah datarnya kemudian duduk di tempatnya. Angga hanya menyengir lebar. "Sori." cicitnya "Emangnya lo mau sekarang? Mau gue mintain?" tawar Angga, mengingat ia cukup dekat dengan teman-teman Keana.
Tanpa basa-basi, Darren bangkit dari duduknya dan mengangkat sebelah alisnya sekilas dan mulai berjalan. Angga dan yang lain mengikuti Darren di belakang menuju kelas Keana.
Orang-orang yang melihat mereka berdecak kagum, melihat sekumpulan lelaki-lelaki tampan yang lewat di depan mereka. Sesekali Salah satu di antara mereka menyapa dan Niko, Angga, serta Fathan menyapa mereka balik.
Selalu, Darren berjalan cepat-cepat. Seakan-akan jika ia tak cepat-cepat, maka ia akan terlambat dan apa yang seharusnya ia miliki itu hilang karena tak cepat-cepat.
"Keana Mana?" tanya Angga pada penghuni kelas Keana yang sedikit terkejut karena kehadiran ke-empat cowok tersebut.
Salah satu siswi tersebut mengerutkan alis dan bertanya "Belum dateng. Kenapa emangnya?" Mendengar jawaban itu, Darren lantas berbalik dan meninggalkan kelas itu tanpa sepatah kata pun.
"Oh," jawab Angga, lalu mengikuti Darren yang langsung menuju kelasnya.
Namun, langkah Darren terhenti, ketika ia berbalik dan melihat seorang gadis yang rambutnya di kuncir kuda dengan Poni sebatas Alis sedang bersenandung dengan wajahnya yang ceria.
Darren cepat-cepat menghampiri gadis itu, dan cepat-cepat pula Keana menekuk wajahnya dengan muram.
Dasar Vampir. Kenapa harus ketemu dia, sih? Gerutu Keana dalam hati.
"Hai, Keana." Sapa Niko dengan senyum manisnya.
Keana melirik Niko dengan wajah tak suka, dan mulai berdecih. "Kenapa, hah?"
"Jangan galak-galak dong, entar manisnya hilang, lho." Niko langsung mendapat tatapan datar dari Darren. "Hehe sori, bro." ucap Niko pada Darren
"Basi!" ucapan Keana mengundang tawa Fathan
"Hahaha!" Fathan tertawa dan Niko serta Angga menatapnya "Lo dikatain Basi, cuy! Emang lo nasi, apa? Tapi emang muka lo basi sih." Kini, Niko menatap tajam Fathan.
Keana memutar bola matanya malas, dan berniat untuk masuk ke dalam kelasnya. Namun tangannya di tahan oleh Darren.
"Eh apaaansih, lepas!" Keana mencoba melepaskan genggaman tangannya dari Darren, yang semakin lama semakin mengerat.
Darren melirik Angga, dan yang dilirik langsunh tersadar dan mulai membuka mulut. "Gini Na, gue minta Kontak lo, boleh?" tanya Arkan dan Keana langsung menolak. "Nggak!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Summerain
Fiksi RemajaMemang benar, Tuhan itu adil. Setiap takdir pasti punya kebalikan masing-masing. Bila ada kesedihan, maka akan datang kebahagiaan setelahnya. Bila ada kebahagiaan, maka Kesedihan akan menunggu di akhir kebahagiaan itu.