Chapter 04 : Awal Dari Terulangnya Cerita Lama

11 4 0
                                    

Penampilan Daniel pun selesai, ia turun dari panggung dengan penuh senyuman. Aura yang sedang duduk di bangku penonton menyambut Daniel dengan tawa dan sebuah pujian. Namun, rasanya ada yang aneh dengan perasaanku, aku merasa bahagia melihat mereka seperti itu.
“bagaimana?” Daniel menghampiriku dengan wajah sombongnya
“apa?” jawabku
“tentu saja penampilanku"
“ohh, tidak buruk”
“tidak bisakah kau memujiku sekaliii saja” ujar Daniel dengan ekspresi kesal
“sudah sudah, bagus kok, bagus banget” Aura memisahkan kami dan tersenyum pada Daniel
Tiba-tiba wajah Daniel memerah tersipu malu
“ah biasa aja kok” jawab Daniel sambil menunduk malu
“tadi kau ingin dipuji sekarang malah bilang biasa saja” ujarku
“kau ini"
“cukup Hadi, jangan mengejeknya terus” ucap Aura
“aku tidak mengejek, aku hanya berkata yg sebenarnya” sanggah ku dengan ekspresi datar
Tanpa kusadari aku larut dalam suasana, berbincang-bincang dengan mereka, ingin sekali ku tersenyum dan tertawa seperti mereka berdua. Tetapi, rasanya berat sekali, seperti ada sebuah beban yang menahanku untuk tertawa, rasa takut akan kekecewaan.
“hey kenapa melamun” Aura sambil menjentikan jari kecilnya di depanku
“tidak-tidak" jawabku spontan
Acara pensipun selesai dan semua siswa pulang, ada satu hal yang membuatku tak nyaman, kenapa orang ini mau menginap lagi di rumahku.
“kenapa nginep lagi sih?” ujarku
“ayolah, aku hanya takut terlambat, besok kan kita berangkat ke jepang, kalo aku tidak menginap bisa bisa aku ketinggalan pesawat” jawabnya dengan ekspresi memelas
“hufftt... apa boleh buat, baiklah kau boleh menginap”
“ok, nanti sore aku datang kerumahmu”
“iya terserah kau saja”
Sesampainya di rumah aku disambut oleh ayahku, dia pulang cepat karena projek kerja samanya sukses besar sehingga dia tak usah lagi lembur hingga larut bahkan hingga dini hari.
“kau sudah pulang nak” ayah menyambutku dengan senyuman
“iya yah, ayah baru sampai” sambil membuka sepatu
“iya nak, ayah baru sampai, ibumu juga sebentar lagi pulang” sambil berjalan mengenakan kaos
“baiklah aku ke kamar dulu yah, setelah itu aku akan masak untuk makan malam” sambil berjalan ke kamar
Sesampai dikamar aku merasa ada yang aneh, seperti ada yang hilang tapi aku tak tahu apa itu, akupun turun dan baru menyadari, dimana kak Ryan.
“yah dimana kak ryan?” tanya ku sambil menuju dapur
“dia sudah kembali ke jepang tadi pagi” jawab ayah yg ternyata sudah ada didapur
“baguslah aku bisa tidur nyenyak malam ini” dengan ekspresi lega
“kau ini” ayah menjawab sambil tertawa
“ngomong ngomong apa yang ayah lakukan di sini?”
“ayah hanya berpikir bagaimana kalau kita berdua masak, dan nanti ibumu yang jadi juri masakan siapa yang paling enak” ujar ayah sambil menyiapkan beberapa bahan makanan
“hmm baiklah, siapa takut” jawabku dengan semangat
Kami berduapun memasak, mungkin kelihatanya aneh karena di keluarga ini justru laki-laki yang menyiapkan makanan, tapi bagiku tidak karena semua orang dikeluargaku termasuk kak Ryan handal memasak meskipun bagiku tak ada yg bisa mengalahkan masakan ibu. Hari demi hari aku mulai merasa keluarga ini kembali seperti dulu, aku jadi teringat dulu ayah sering mengajaku dan kak Ryan lomba memasak dan ibu yg menjadi jurinya, dan jelas ayah yg menang karena dulu aku dan kak Ryan masih belum terlalu mahir.
“selesai” aku dan ayah menyelesaikan masakan bersamaan
Tiba tiba bel berbunyi
“itu pasti ibumu, sudah sana buka biar ayah yg menyiakan mejamakan”
“baiklah” aku bergegas menuju pintu
“selamat datang bu” sambil membuka pintu
“kau sudah di rumah Hadi” ibu menyambutku dengan senyum
“hai” Daniel muncul dari balik ibuku
“tadi ibu ketemu Daniel di jalan dan katanya dia mau nginep”
“iya memang bu, ayo masuk”
“kalian habis masak ya” ujar ibu sambil masuk ke rumah
“kok tau sih bu?” tanyaku
“baunya tercium” sambil tersenyum
“wah benar harum sekali sepertinya enak” Daniel sambil mengendus-endus
“sudah pulang bu” ayah menyambut ibu
“ayah juga pulang cepat” ibu terkejut
“iya proyek ayah sukses besar jadi bisa pulang cepat”
“oh gitu”
“sudah cepat kita makan, ayah udah ga sabar pingin tau siapa yg menang”
Aku dan Daniel pergi ke kamar untuk menyimpan barang-barang Daniel
“menang?.. ohh lomba masak lagi”
“iya”
“jadi teringat dulu”
Kami berempatpun makan bersama, dan yah apa dayaku masakan ayah tetap lebih enak dari masakanku, kami berbincang-bincang selama makan.
“ayah ibu Hadi ke kamar yah”
“Daniel juga om tante”
“iya sana istirahat, kalian kan besok berangkat”
Sesampainya di kamar Daniel langsung mengecek barang-barangnya karena dia takut ada yang tertinggal.
“banyak sekali barang bawaanmu” ujarku sambil berbaring di tempat tidur
“kita tuh bukan cuma sehari dua hari di sana” jawab Daniel sambil memeriksa barang-barangnya
“iya kita di sana sampai habis semester 1 kan”
“maka dari itu barang bawaanku sebanyak ini”
“iya, terserah kau saja”
Tak lama kemudian
“baik sudah lengkap, hei Hadi boleh aku pinjam laptopmu?”
“untuk apa?” jawabku dengan nada rendah
“aku ingin log in game online sebentarrr saja”
“hmmm” aku mengangguk
“ok, ngomong ngomong kau masih saja membaca buku itu”
“aku belum selesai membacanya”
“aku salut padamu, bisa tahan membaca buku seperti itu”
Akupun tak membalas perkataannya karena aku tidak suka jika harus mengobrol ketika aku membaca karena jika begitu aku tak akan bisa memahami cerita dari novel yang kubaca,
“oh iya Daniel”
“apa?”
“kenapa kau pilih lagu itu untuk mengungkapkan perasaan mu pada aura?” sambil menyimpan novel ke rak
“yah, sesuai dengan lagu itu, aku memang menyukainya tapi untuk memilikinya mungkin hanyalah imajinasi ku” Daniel menjawab dengan santai
“kenapa kau berpikir seperti itu?”
“kau ini kenapa tidak seperti biasanya”
“apa maksudmu?”
“kau jadi sering bertanya akhir akhir ini?”
“sudah jangan mengalihkan pembicaraan”
“dia tak menyukaiku di” Daniel berkata sambil fokus pada laptopku
“hah?”
“iya aku tau dia menyukai orang lain”
“nil, aura itu su..”
“ini foto siapa?” Daniel bertanya sambil menunjukan sebuah foto di laptoku
Akupun bergegas menutup laptop ku,
“kenapa?” Daniel bertanya dengan panik
“kau yg kenapa, seenaknya saja membuka data orang lain” aku membentak Daniel
“maaf aku tak sengaja, lagi pula itu ada di destop mu”
“huh, lain kali jangan diulangi lagi” aku menjawab sambil megatur nafas
“tapi rasanya aku pernah melihat orng itu” Daniel berkata sambil berbaring di kasur
“apa maksudmu”
“yah aku pernah melihat wanita yg ada di foto tadi”
“di mana?”
“di sekolah”
Aku terdiam, dan berpikir apakah wanita yang waktu itu ku lihat di depan ruang guru adalah dia, kenapa ini, kenapa perasaanku jadi seperti ini.
“hey jawab pertanyaanku” Daniel bertanya sambil melambaikan tangan di wajahku
“sudah tak usah dibahas” jawabku sambil berbaring di kasur
“hih dasar aneh”
Kamipun tertidur, dan akhirnya pagi tiba. Aku dibangunkan oleh suara Daniel, dia mengigau dan suaranya berisik, lagi-lagi tidur damaiku direnggut, tak ada kak Ryan yang mengorok ada mahluk ini dengan igauwannya. Setelah bangun kami berdua bersiap-siap dan langsung pergi ke bandara dengan diantar oleh ayah ku. Sesampai di sana kami melihat aura dan 1 orng siswa dan 2 orang siswi lainnya yang juga menjadi peserta pertukaran pelajar ini.
“kenapa bisa barengan?” tanya aura
“dia menginap di rumahku” jawabku
“ohh gitu” sambil melihat Daniel
“iya” jawab Daniel sambil tersenyum
Tak lama, seseorang dengan jas dan kacamana datang menghampiri kami, ternyata dia adalah petugas yang dikirim untuk mengantar kami ke pesawat dan ternyata kami tidak naik pesawat umum, melaikan jet pribadi milik sekolah mereka, aku tak begitu terkejut karena dari awal aku sudah curiga karena kami tidak diberi tiket pesawat, tapi lain hal dengan Daniel dia begitu kegirangan karena dia pertama kali naik jet pribadi, oh iya daniel itu sebenarnya bukan anak orang kurang mampu, ayahnya adalah seorng pengusaha yg sukses dan ibunya dalah maneger arti ternama di indonesia jadi sebenarnya dia adalah anak orang kaya namun dia lebih memilih hidup sederhana dan terkadang dia mencari uang jajannya sendiri, jadi jangan sampai kalian mengngaggapnya sebagai orang yang miskin meskipun sikapnya sih seperti itu.
Kamipun berangkat selama perjalanan mereka berbincang bincang sedangkan aku hanya duduk sambil membaca novelku, Daniel sedikit kesal karena dia tidak bisa duduk disamping Aura, dan sebenarnya aku tak terlalu peduli akan hal itu.
“masih belum selesai?” Aura bertanya padaku
“belum, aku baru sempat lagi membaca karena kemarin banyak yantg ku kerjakan”
“ohh gitu”
“kenapa kau tersenyum?” aku bertanya sambil melihat wajahnya
“ga kenapa kenapa, hanya saja aku senang karena kau mau membaca novel pemberianku”
“aku membacanya bukan karena ini pemberian darimu tapi karna memang aku suka dengan ceritanya”
“kau masih saja tak bisa membuat orang senang ya" ujar Aura sambil tersenyum
Aku tak begitu mengerti apa yang Aura katakan tapi, entah mengapa aku sedikit tersinggung, terlebih kondisi yang tak nyaman ini, kenapa dia duduk di sampingku, dan lagi tatapan tajam Daniel yg mengarah padaku, dan aku harus bertahan dengan situasi ini selama 7 jam kedepan.
“oh iya Hadi kau belum menjawab pertanyaan ku” tanya Daniel
“pertanyaan yang mana?”
“yang semalam, tentang gadis yang ada di foto itu”
“sudah tak usah dibahas”
"Cewe?.. Hadi? Apa lu ga salah liat nil” tanya Adrian salah satu peserta pertukaran pelajar sekaligus rekan tim basket Daniel
“engga gua ga salah liat an”
“aku tak mau membicarakannya” jawab ku
“ayolah” Daniel sambil memegang pundakku
“cukup Daniel jangan memaksanya” ucap Glory salah satu siswi peserta juga dan teman sekelas aku, Daniel  dan Aura
“baik lah baiklah” Daniel mengalah sambil duduk kembali di kursinya
7 jam terasa begitu lama bagiku, mungkin karena aku satu satunya yang tak tertidur, Aura, Daniel, Adrian, Glory dan Anisa mereka semua tertidur lelap, mungkin karena kelelahan. Tapi ada satu hal yang ku syukuri setidaknya aku bisa mendapatkan ketenangan, tapi entah mengapa hal itu masih kupikirkan apakah dia yang kemarin kulihat hanya itu yg ada di pikiranku saat ini.
7 jam berlalu akhirnya kami mendarat di bandara udara internasional Tokyo, dan yah kami langsung di emput dan di antar ke sebuah apartemen tempat kami akan tinggal untuk beberapa bulan di Jepang, sepanjang perjalanan peserta yg lain hanya foto-foto dan update story di instagram. Sesampainya di apartemen tiba tiba hpku berdering dan yah kak Ryan yang menelpon
“ada apa?” tanyaku
“sudah sampai?”
“sudah”
“sekarang kau dimana?”
“sakura hause nakano apartemen”
“ok”
Tak lama setelah kak Ryan menelpon, seperti yang kuduga dia datang menjemput ku untuk tinggal di apartemennya, yah diapun sempat berbincang dengan panitia pertukaran pelajar dan akhirnya diberi izin namun tak hanya aku yg tinggal di apartemen kak Ryan tapi juga dengan perserta lain, yah tak masalah bagiku lagi pula sakura hause tidak terlalu nyaman. Dan yah apartemen kaka ku bertempat di Distrik Minami-Azabu dengan fasilitas-fasilitas mewah.
“selamat datang di apartemen ku” ujar kak Ryan
“wah hebatt” semua peserta terkagum
“kalau tidak salah ini apartemen termahal di Tokyo” ucap Aura
“benarkah? Wahhh hebat” Daniel dengan ekspresi kagung
“biasa saja” jawab kak Ryan sambil tersipu malu
Kamipun mengisi kamar, Daniel dan Adrian satu kamar, Glory, Anis dan Aura mereka juga satu kamar, sedangkan aku mengisi kamar sendiri karena memang aku punya kamar di apartemen kakak ku ini, kamipun segera istirahat karena besok kami langsung memulai kbm di Gakko Hojin Horikoshi Gakuen dan saat pukul 3 sore waktu jepang datang seseorang mengantarkan seragam yang harus kami kenakan besok, tak terlalu berbeda jauh dengan seragam sekolah kami jadi tak begitu jadi masalah.
Keesokan harinya kami pun berangkat dengan menggunakan kereta, dan seperti biasa sedak sedakan tak bisa dihindari, karena memang setiap pagi kondisi di stasiun seperti ini. Agak sulit untukku menyesuaikan dengan kondisi seperti ini, dan aku melakukan ini hanya untuk tau seberapa jauh dari apartemen ke sekolah, mungkin besok besok aku akan menggunakan motor untuk ke sekolah.
“Gomen'nasai, saya tak sengaja” Aura tak sengaja menyenggol seseorang
“pake mata dong” pria yang disenggol Aura
“bisakah kau lebih lembut pada wanita” Daniel membela sambil merangkul Aura

Pria itupun mengalingkan wajah seakan takut pada daniel (anggap saja dialog dilakukan menggunakan bahasa Jepang)

“ga apa apa kan?” Daniel bertanya pada aura
“ga apa apa kok, makasih” jawab Aura dengan ekspresi ketakutan

Setibanya di sekolah kami dikumpulkan dengan peserta pertukaran pelajar dari negara negara lain di satu aula. Dan ini lah saat yang ku tunggu-tunggu karena akan ada sambutan dari ketua osis sekolah ini orang yang meminta langsung pada pihak sekolah agar aku ikut pertukaran pelajar ini, dan apakah orang ini adalah orang yang kulihat waktu itu dan apakah benar itu adalah dia, sebentar lagi semuanya akan jelas.
“welcome to the student exchange participants, I am the headmaster of this school, I just hope you guys can learn well and hope you guys are comfortable here” kepala sekolah
“baik berikutnya adalah sambutan dari ketua osis Gakko Hojin Horikoshi Gakuen sekaligus penggagas program pertukaran pelajar ini”
“ini dia, sebentar lagi semuanya akan jelas” ujarku dalam hati
Saat ketua osis menaiki panggung aku tak bisa berkata apapun, semua ekspetasi yang ada dalam pikiranku seketika hancur lebur, aku tak bisa berpikir jernih, hanya ada satuhal yg ada dalam pikiranku “kenapa ini bisa terjadi???”.

“Ohayōgozaimasu, perkenalkan nama saya Aurelia Putri Cantika saya ketua osis Gakko Hojin Horikoshi Gakuen”

{{BERSAMBUNG}}

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 22, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

LOVE?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang