[3] - Keberuntungan atau kesialan?

34 13 12
                                        

Bagian tiga.

“Tak perlu bercanda gurau, kamu tak sengaja melirikku saja cukup membuat jantungku berdebar.”

-Sure Thing-

Ramai.
Suasana dikantin sekolah pada saat jam istirahat ini begitu ramai. Entah kenapa penyebabnya, padahal biasanya tak sepenuh ini, dan lagi biasanya jika Feyra sudah kelaparanpun takkan sampai menunggu pesanannya sampai lebih dari 10 menit seperti sekarang ini.

“Ini anjir gak ngertiin banget perut gue banget sih, lapar tau.”

Gadis itu memproutkan bibirnya dengan sesekali memegang perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi, rupanya cacing-cacing diperutnya sudah menggila minta diberi makan. Tapi tunggu, Feyra tidak cacingan. Oke ralat, perutnya sudah tidak sabar diberi asupan makanan.

“Iya nih, tumben rame banget. Gue aja tadi pesen sedek-sedekan dulu.” Ucap Alisa yang kini mengusap keringat dipelipisnya.

“Oh iya Fey, Gue baru inget. Tadi Bu Asih minta gue kasih tau lo, kalo pas istirahat kedua lo disuruh keruang guru.”

Feyra mengangkat satu alisnya heran, “Ada apaan emang? ulangan biologi kemaren gue remed?”

“Mungkin, tapi yang dipanggil masa lo doang sih, orang kemaren ulangan gue juga pasti hasilnya bobrok, gue ngisi tuh soal cuma 4 Fey, sumpah ya itu soal emang--woi lo dengerin gue gak sih?” Alisa kesal, bagaimana tidak, sahabat karibnya itu dengan wajah tanpa dosanya malah asik memperhatikan seseorang disamping kanannya.

“FEYRA IH!” Suara nyaring Alisa cukup membuat hampir semua orang yang berada dikantin itu mengarah pada meja mereka, tak terkecuali orang yang sedang diperhatikan Feyra, siapa lagi kalau bukan Raffa?

Kak Raffa ngelirik gue anjir!

Feyra membulatkan matanya sempurna tepat saat bola mata Feyra dan Raffa bertemu. Lalu dengan cepat ia memalingkan wajahnya dan menatap tajam pada sahabat bersuara toa nya itu.

“Lo ngapain pake teriak segala sih?”

Alisa yang baru menyadari bahwa tadi ia berteriak terlalu keras langsung menutup mulutnya sendiri.

Setelah pandangan semua orang yang berada dikantin tidak pada meja mereka lagi, mereka berdua mulai ngobrol seperti sebelumnya.

“Lo tadi ngapain sih Lis?”

“Lo yang ngapain? nyebelin banget sih gue lagi ngebacot lu malah fokus liatin Kak Raffa. ”

“Shhh.. pelanin suara lo ih, toa dasar ya!”

Alisa hanya tersenyum tanpa dosa.

-

“Sumpah ya Lis, Rasanya dilirik Kak Raffa tuh bener-bener gabisa diungkapkan dengan kata-kata. Gimana ya, duh jantung gue tuh kaya yang mau copot gitulah.”

“Hmmm”

“Seriusan ihh!”

“YaAllah Baim gakuat yaallah punya temen alaynya kebangetan gini. Cuma dilirik doang Fey, elah kaya yang diajak pacaran aja sih.”

Sure ThingCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang