Sebuah impian yang tak terduga akan menjadi nyata.
Sebuah harapan yang selalu diharapkan kini jelas terwujud.
Kupikir ini mimpi, kupikir ini ilusi. Namun semua itu benar terjadi. Ini duniaku yang asli, bukan mimpi setiap malam yang selalu kunanti.
...
“Bagiku, hanya sekedar menikmati senyummu dari jarak jauh saja itu sudah cukup membuatku bahagia” --Feyra
-Sure Thing-
Gadis yang sedang asyik memperhatikan gerak-gerik seorang lelaki yang sedang mengerjakan puluhan soal matematika itu kini menggerutu kesal
“Bel sialan” umpatnya
Percayalah, gadis itu bukan seorang mata-mata ataupun hal yang serupa lainnya. Dia, Feyra. Hanyalah seorang gadis penyimpan rasa tanpa bicara, dan pengagum rahasia yang sebenarnya.
“Udahlah Fey, besok juga bisa lanjut perhatiin Kak Raffa lo itu. Mending sekarang balik ke kelas, pelajaran Ibu Mia loh”
Dengan berat hati, Feyra beranjak dari tempat duduknya, menyimpan buku–yang ia pegang sedari tadi tanpa dibaca sedikitpun–ke tempatnya semula.
Feyra memang seperti itu, setiap bel istirahat berbunyi, yang langsung ia lakukan adalah pergi ke perpustakaan, memperhatikan Raffa dari kejauhan.
Kebiasaan yang aneh, namun menyenangkan bagi seorang Feyra.
🍃
Feyra menyimpan tasnya asal, lalu melemparkan dirinya ke kasur. Hari ini, hari yang cukup melelahkan bagi Feyra, ulangan harian, praktek penjaskes, dan tugas bertumpuk-tumpuk yang harus ia selesaikan disekolah hari itu juga.
Feyra mengeluarkan handphone dari baju seragamnya, lalu segera membuka apl linenya
Alisa Gue kerumah lo ya Fey, gabut nih
Feyra Yo, sini aja. Rumah gue selalu sepi kok ahahaha
Alisa Wkwk makanya gue mau nemenin lo, yosh gue otw.
Feyra me-lockscreen handphonenya lalu memasuki kamar mandi untuk mengganti seragamnya. Taklama, ia pun keluar dengan kaos pendek dan celana jeans pendek favoritnya.
ting!
Handphone Feyra berbunyi, notif pesan dari Alisa pun muncul, dan taklama Alisa sudah berada dikamar Feyra dengan cengiran khasnya.
“Nyokap bokap lo masih belum pulang juga?”
Feyra tersenyum kecut, Pertanyaan yang tak usah ditanyakan. Sejak kapan mereka berada dirumah jam segini? Untuk bertemu dengan mereka saja, bagi Feyra itu sulit. Mereka pergi kerja saat Feyra belum terbangun, dan mereka pulang saat dirinya sudah terlelap, miris sekali.
“Jahat banget sih lo! Ayolaah, gue udah lama gak liat Kak Raffa main Basket, secara gitu sebulan ini dia fokus sama olimpiade Matematikanya”
Feyra memang tak salah mengagumi Raffa, karena bakat Raffa memang berhak dikagumi, jago matematika, jago basket pula, tapi jangan lupakan bahwa dia jago nyuekin orang. Terutama orang yang suka padanya. Itu sebabnya, sampe saat ini Feyra hanyalah seorang penikmat senyum Raffa, bukan penyebab apalagi pemilik.
“Lo tuh ya Fey, terlalu ngejar yang gak pasti. Gak cape apa jadi pengagum rahasianya Kak Raffa? Udah tau dia tuh cueknya pake banget, masih aja lo suka.” desis Alisa
Feyra mengerucutkan bibirnya, Benar juga fikirnya. Tapi kalo sudah cinta apapun itu resikonya pasti saja diperjuangkan, bukan?
“Ah bodo amatlah masalah Kak Raffa yang cuek, yang jelas gue besok mau nonton. Fine kalo lo gak mau nemenin gak masalah, gue bisa sendiri”
Alisa menghela nafas, “Ok ok gue temenin, lo tuh ya! Kalo gak sayang udah gue biarin lo celingukan sendiri dah”
Feyra menyipitkan matanya dengan cengiran dibibirnya, “Ciee yang sayang gue. Aaah sini peluk”
Alisa menatap Feyra jijik, “Dih ogah ah”
“Kampret ya lo!” Dengan kesal Feyra melemparkan bantal tepat pada wajah Alisa, dan perang bantal pun tak dapat dielakkan.
Persahabatan mereka memang klasik, sama halnya seperti persahabatan pada umumnya, tapi yang dirasakan Feyra berbeda. Bagi dia, Alisa adalah orang terkampret, terjahat tapi orang yang paling mengerti dan paham betul sikap dan karakter Feyra, dan Alisa adalah orang yang akan selalu ada disaat Feyra benar-benar memerlukan tempat bersandar dikala semangat hidupnya memudar.
Bukan kah memang itu guna seorang teman?
TO BE CONTINUE
Vote and Comment🍂
Fyi, Ini visual nya Feyra
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.