New writer join us, yeay 😆
This story written by Heida_
Enjoy it 😊
~ KEPADA BANGUNAN YANG DI DEPANNYA DITANAMI POHON BERBUNGA KUNING ~
Di Jogja, saat ini kulihat bangunan-bangunan sendu. Mereka abai padaku. Kami bertengkar hingga lupa waktu.
Malam ini, aku turun dari sebuah taxi berwarna biru di Malioboro. Di sekitar orang-orang yang memadati jalanan. Aku berjalan di atas trotoar, berpikir mengapa laki-laki lebih peduli pada rokok yang dihisapnya ketimbang sebuah pisah.
Di Malioboro, saat itu aku bermonolog. Lalu jalanan seperti mengharapkan aku untuk lekas pergi.
Berderet pertokoan, aku diam, membidik, warna kemuning membelakangi kesenduan.
Aku teringat pasar barang-barang antik serupa senyumnya yang purba, yang hilang lenyap tak kujumpa.
Malioboro, 5 Okt 2017.
“Ji ...,” Terdengar suara dari luar kamar. Aku segera menyembunyikan diary di bawah bantal dan pura-pura tidur.
“Ji, Jihan. Ray datang jemput tuh. Mama buka ya pintunya.” Tak lama kemudian terdengar derit pintu dibuka.
“Sudah tidur rupanya.” Aku hanya berharap supaya Mama tidak berusaha membangunkanku, karena saat ini aku tidak ingin bertemu Ray.
Mama mendekat, ia mengusap kepalaku, menyelimutiku lalu mematikan lampu sebelum akhirnya kembali menutup pintu. Dari kamar aku bisa mendengar percakapan mama dan Ray.
“Ray, Jihannya sudah tidur tu. Mama nggak tega mau bangunin.”
“Biarkan saja, Ma. Sepertinya Jihan kelelahan setelah perjalanan jauh.”
“Bukannya Ray tadi pergi untuk menjemput Ji, kenapa kalian pulang sendiri-sendiri?”
Lambat laun suara mereka terdengar menjauh, sampai tak ada suara yang mampu kudengar dari percakapan mereka.
Entahlah mengapa Mama sebegitu percayanya pada Ray, aku tak habis pikir. Padahal jika dilihat dari penampilannya sama sekali tak meyakinkan. Ray selalu tampil dengan kaos oblong dengan celana jeans yang kumal.
Pria dengan tinggi sekitar 175 cm. Dia begitu kurus, junkies dengan kulit eksotis sedikit kecoklatan. Rambutnya hitam legam, panjang hingga sepinggang. Terihat tidak teratur karena dia tak pernah menyisir rambutnya, tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Penampilan yang cukup menggambarkan bahwa dia adalah seorang seniman.
Laki-laki itu berkacamata. Bingkai hitam persegi memberikan kesan cerdas. Selebihnya, sama sekali tidak sesuai dengan kriteria suami idamanku. Lebih buruknya dia menderita buta warna total.
Apa kata orang? Aku seorang dokter dan suamiku buta warna. Ini lebih terkesan seperti sebuah kutukan.
Bagiku pernikahan ini sebuah kecelakaan. Aku harus terjebak dengan perjodohan ini lantaran Mama.
Aku sempat menolak Ray mentah-mentah. Apalagi melihat penampilannya yang tidak meyakinkan bahwa dia bisa membahagiakanku.
Dulu sebagai seorang dokter aku seringkali berangan-angan akan mendapatkan seorang suami yang jika ditanya tentang pekerjaannya dengan bangga aku akan menjawab: Engginer, Manager atau paling tidak Dosen.
Tetapi ternyata Allah menggariskan bahwa saat ini jika ada orang yang bertanya tentang itu aku akan menjawab, Freelancer alias belum punya pekerjaan tetap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monokrom
Historia CortaWell, ini adalah kumpulan cerpen saya dan teman-teman dari challege bertema. Selamat membaca. . . . . . (Bagi yg ingin mengikuti challege ini, silahkan pm saya)
