Bag.Pertama

20 2 0
                                        

"Iya!! Kamu pintar!! Kamu tahu kalau kamu salah, lalu kamu tidak ada niat untuk berubah?!!! Hah!!!" Kakek membuka gesper yang dipakainya, dengan menariknya kuat kuat dan menghempaskan seluruh tenaganya ke tubuh Jassi melalui gesper itu.

Jassi menjerit dan menangis semakin keras. Sontak saja Kevin langsung memeluk Jassi dari belakang. Jassi yang sedang kesakitan di sofa semakin menjerit kala mengingat kebaikan sang kakak yang selalu ada disaat apapun hidupnya, termasuk segala kenakalannya selama ini.

Umma berlutut dihadapan kakek dengan menangis histeris berharap kemarahan sang ayah berbalik padanya bukan Jassi. Dengan sigap abi mengangkat umma berdiri

"Ayo yah, pukul saja Zairi, jangan istri Zair ataupun anak Zair, Zairi yang gagal menjadi kepala keluarga yang baik! Biar Zair yang tanggung semuanya" abi menyerahkan dirinya.

"Yang salah itu anak kamu! Biarkan ayah membuat anak kamu kapok!! Minggir" kakek mendorong abi ke belakang.

Jassi mulai lemah dalam pelukan Kevin.
"Kamu gak lihat?!! Orang orang sekeliling kamu itu sangat sayang kamu!! Tapi apa balasan kamu hah?!! Kamu cuma bisa bikin malu tau gak!! Malu!!!!" Satu pukulan dari gesper kembali dilayangkan.

Kevin berdiri kehadapan kakek.
"Kek!!! Kasian Jassi!! Pukul aja Kevin! Kevin gak terbiasa lihat adik adik Kevin terluka!!! Lebih baik Kevin yang sakit!! Jangan adik adik Kevin kek!!!!!" Kevin bernada tinggi dengan menangis.

"Maafin kakek cucu lelaki kesayangan kakek.. kamu terlalu lembut untuk dapat hukuman ini, kamu terlalu polos untuk mengetahui ini, dan kamu tidak pantas untuk menghadapi ini Kevin!" Kakek berkata tegas pada Kevin.

Kevin memegang tangan kakek yang sedang mencengkeram gesper dengan menunduk dan memohon agar kakek tidak lagi menyiksa adik kesayangannya itu.

"Kakek cuma mau adik kamu lebih baik lagi! Ijinkan kakek ngasih peringatan terakhir pada adik kamu" kakek semakin mempertegas kata katanya.

"Jangan kek.." Kevin histeris melarang kakeknya.

"Ayo vin, kita mengalah saja" abi sedikit menyeret Kevin menjauhi kakek.

Kakek mengambil ancang ancang untuk memukul Jassi yang keterakhir.
PLAKK!!!! suara gesper itu terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Jassi yang sedang lemah karena kelelahan menangis, kini kembali menangis kencang.

"Jass!!!" Kevin berteriak dan berlari memeluk Jassi. Begitupun dengan umma.

Umma memeluk Jassi dengan penuh kasih sayang guna menenangkannya.

"Maafin Jassi.." kaku dalam pelukan umma dan Kevin.

Kakek menatap kosong ke arah Jassi.
"Jassi?" Kakek memanggil.
Umma merasa heran dan melepas pelukannya dari Jassi.

"Berdiri nak" perintah kakek dengan santai dan sedikit tersenyum.

"Apalagi kek??" Kevin posesif.

"Kevin! Ayo berdiri Jassi" abi menyuruh Jassi menuruti kakek.
Jassi berdiri tanpa menatap kakek dengan dibantu Kevin karena ia terlalu lemas untuk berdiri sendiri, terlebih lagi pukulan gesper kakek yang dominan berada di kaki dan tangannya karena selama kakek memarahinya, ia menggunakan tangannya untuk memeluk kedua kakinya.

"Apa kamu marah?"
Jassi menggeleng tanpa berkata apa apa.

"Apa yang sakit Jass?" Tanya kakek
Jassi hanya menunduk diam.

"Maafin kakek ya Jass, yang kakek lakukan itu belum seberapa dibanding hukuman tuhan. Kakek cuma mau kamu tau, kalo semua yang kita lakukan itu pasti ada konsekuensinya" diakhir kata, kakek memeluk Jassi dengan erat karena merasa kasihan.
Kakek mengusap punggung Jassi dengan membaca istighfar.
Jassipun semakin lemah dibuatnya, akhirnya Jassi dibopong ke kamar oleh kakek dan Kevin untuk beristirahat.

Keesokan harinya.
Sarapan pagi.
Kevin bertanya tentang keberadaan Jassi.
"Belum bangun, biarin dia istirahat dulu aja" jawab umma yang diangguki oleh Kevin.
"Maafin ayah ya Di, ayah bikin anak kamu tumbang" kakek sedang mengolesi roti dengan selai kacang.
"Gak apa yah, kemarin Diyyah cuma kaget aja" umma tersenyum.

Semoga menghibur dan bermanfaat.😇
Maaf jika ada salah penulisan.🙏
Terimakasih😊


"PROMISE TO BE TOGETHER"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang