"Yaa biar anak kamu lebih dewasa aja, oh iya, hari ini ayah ke rumah Mira ya" Abi bertanya mengapa ayah mertuanya terburu buru pergi.
"Yaa ayah di Jakarta kemungkinan cuma 4 hari, sekalian aja ke Mira sama Sahilla"
Mira adalah adik dari umma Sadiyyah, nama aslinya Khumaira, begitupun dengan Sahilla. Umma Sadiyyah anak pertama dari 4 bersaudara, 1 adiknya di Bandung dan 2 di Jakarta bersamanya.
"Oh iya, nanti hari terakhir ayah di Jakarta, ayah mau ngenalin calon suami Jassi ke keluarga kalian"
HAH??!! Satu keluarga itu terkejut dengan ucapan kakek Abdurrahman.
"Maksud nya gimana sih yah?" Umma.
"Yaa..aa.. ayah mau nikahin Jassi" kakek menatap satu persatu orang yang masih terkejut dengan pernyataannya tadi.
Kevin berkomentar soal masa depan Jassi yang terancam akan nikah muda. Begitupun abi, abi menyanggahi pendapat kakek.
"Kakekk, biarin Jassi sekolah dulu aja deh, Jassi masih 17 tahun" Kevin bernada memohon pada kakek.
"Yah, yang bener aja dehh" umma.
"Eeehhh, kok keroyokan sih, emang kakek bilang mau nikahin Jassi sekarang?? Engga.. kakek mau nikahin Jassi nya nanti kalo dia udah lulus SMA baru dehh kakek mau nikahin dia, supaya apa? Supaya dia mandiri dan tau bagaimana sikap yang baik. Kuliah? Bisa dilakukan setelah menikah bukan? Dia akan tau gimana repotnya mengurus kehidupan rumah dan kehidupan luar. All right??" Kakek berkata bijak.
"Tapi yah, tar kalo dianya stres gimana? Dia kan gak biasa sama hal hal itu" umma.
"Yaa mau gak mau dia harus belajar dari sekarang untuk bersikap baik dan disiplin" kakek.
Kevin terus menolak pendapat kakek, karena sebernarnya, bukan karna kasian pada Jassi, tapi karna ia tak mau didahului nikah oleh adiknya.
"Gampang, kamu ikut nikah aja vin" kakek.
"Noo, aku mau kuliah dulu kekk pliss dehhh" Kevin stress.
"Bagus kalo gitu, kejar impian kamu, kamu kan bakalan jadi kepala keluarga" kakek. Abi masih kurang terima jika anaknya harus menikah muda.
"Ayah bukan menghalangi impian Jassi, ayah cuma mau mempertegas tata perilakunya dia aja, Sekaligus hukuman ayah buat Jassi" kakek yakin dengan perkataannya.
"Tapi yah,," umma.
"Keputusan ayah gak bisa diganggu gugat lagi Di" kakek memotong pembicaraan umma.
Umma dan keluargapun hanya pasrah pada keputusan kakek, walaupun mereka ragu dengan hal itu.
Tetapi yang pasti, keputusan kakek dianggap keputusan yang terbaik untuk semuanya.
Pukul 10.00 Jassi baru saja bangun dan mencuci muka. Ia menuruni anak tangga dirumahnya dan menemui umma di ruang tv. Jassi heran karena tumben sekali umma tidak membangunkannya untuk shalat subuh.
"Umma mau kamu istirahat dulu aja, kamu udah baikkan sekarang?"
"Jassi gak apa apa umma, cuma mata aja yang kabarnya gak baik" Jassi menunjuk matanya yang bengkak sebab menangis semalaman dan dibalas tawa oleh umma.
"Kakek mana?" Tanya Jassi.
Umma menjelaskan pada Jassi tentang keberadaan kakek.
Yang ada di rumah saat ini hanya umma, Jassi, Atthaya dan 2 asisten rumah tangga, abi bekerja dan yang lainnya sekolah.
Jassi baru saja dikeluarkan 2 hari yang lalu dari sekolahannya dan ia menanyakan tentang kelangsungan pendidikannya pada umma.
"Umma belum dapet pilihan sekolah yang bagus buat kamu nih Jass"
"Tapi udah pasti dilanjutinkan sekolahnya?"
"Ya harus dong, umma pastiin minggu depan kamu udah mulai sekolah, ini SMA terakhir ya Jass" umma meyakinkan pada Jassi.
Dan diangguki dengan penuh rasa bersalah oleh Jassi.
(On)
Tok tok tok! Umma mengetuk pintu kamar Jassi dan dibukakan olehnya.
"Udah siap sayang?"
"Udah dari tadi ko umma" Jassi memancarkan senyum walaupun hatinya terasa sakit sebab hukuman kakek nya ini.
"Keluarga Davi udah dibawah" umma.
Di ruang tamu.
"Maaf agak lama" umma.
"Eh gapapa ko, ini Jassi?" Dinar (ibunda Davi).
"Iya tante" menyalaminya.
"Manggilnya bunda aja, saya paling gak suka dipaggil tante" saran calon ibu bagi Jassi.
"Oh ii iyaa bunda" diangguki Jassi agak ragu.
Lengkap sudah keluarga Jassi dan kakek, serta keluarga bunda. Bunda adalah anak dari teman seperjuangan kakek semasa ia merantau di Kalimantan, kini beliau sudah meninggal sekitar 1 setengah tahun yang lalu.
Mereka berbincang bersama, perihal keluarga satu sama lain, perihal pekerjaan, perihal pergaulan anak jaman now, dan lain lain.
"Eh iya, saking asiknya ngobrol, sampe lupa niat awal kita" kakek.
Dibalas tawa oleh seluruhnya.
Terkecuali Jassi, ia menjadi sangat tegang dan menatap lelaki yang tepat berada di sebrang sofanya.
"Jass??" Suara kakek memecahkan lamunannya.
"Kamu mendingan ngobrol dulu deh sama Davi, biar kamu gak tegang" kakek.
Jassi dan Davi sedang berada di balkon rumah. Davi? Yaa, Davi Fauzil Wardhana nama lengkapnya.
Suasana di balkon terasa hening karena mereka diam seribu bahasa.
Davi memerhatikan Jassi yang sedang berdiri di depannya, Jassi memakai jeans putih dan blouse berwarna kuning bermotif dengan cardigan kuning serta rambut lurus yang panjang tergerai menambah aura kecantikannya di malam itu.
Jassi sadar, kesunyian ini tak boleh berlalu lama, namun ia bingung harus memulainya dari mana.
Pada akhirnya Davi lah yang memulai pembicaraan.
"Ekhmm, eeuu siapa namamu? Emm maksudku nama panjangmu" Davi bertanya dengan terbata bata.
"Jassilya Gamisaza Jorne" Jassi menjawab singkat.
Semoga menghibur dan bermanfaat.😇
Maaf jika ada salah penulisan.🙏
Terimakasih😊
KAMU SEDANG MEMBACA
"PROMISE TO BE TOGETHER"
Non-Fiction"Hikmah dari perjodohan" Cinta yang dipaksakan memang SULIT. Tapi jika kita mau untuk menerima, semua itu akan MUDAH dengan sendirinya.
