"Hampir selesai!"
Kau memekik semangat kala tugas praktikum kimia lingkungan yang kau kerjakan dari dua hari yang lalu sebentar lagi akan tuntas. Meski otakmu rasanya ingin pecah, tetapi semangat masih sedikit membara dalam benakmu, masih ada sedikit harapan bahwa sebentar lagi laporan akan selesai dan kau dapat berisirahat sejenak dari rutinitas melelahkan ini sebelum kembali berkutat dengan laporan-laporan lain yang sedang mengantre untuk dikerjakan.
"Ya, cepat selesaikan tugasmu. Nanti kita jalan-jalan."
Luhan mengelus-elus pelan kepalamu sambil tersenyum. Pria itu duduk menemanimu yang sedang mengerjakan laporan dari dua jam lalu tanpa mengeluh dan malah terus memberimu support meski bukan selayaknya para supporter bola yang biasa berteriak-teriak di tribun. Melainkan ia duduk manis di sampingmu, di bawah sebuah pohon rindang di area kampusmu sambil membawa camilan dan minuman dingin yang segar. Pas sekali dipadukan dengan keadaan yang memang terasa ruwet dan membutuhkan pemikiran ekstra.
"Jalan-jalan?"
Mendengar kata itu, semangatmu kian terpacu untuk menyelesaikan tugasmu secepat mungkin. Ada sebuah rasa bahagia yang menggelitik dalam dirimu. Rona merah jambu tak bisa kau sembunyikan karena rasa bahagia ini.
Meski hanya jalan-jalan, yang biasa diselipkan dengan obrolan ringan tanpa beban, rasanya kau sangat bahagia.
Luhan mengangguk mengiyakan gumamanmu. Sambil tersenyum, ia pun kemudian berkata, "Makanya cepat selesaikan tugasmu."
"Siap bos!"
Kau terkikik geli usai mengucapkan kalimat itu. Sementara Luhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa.
Tak butuh waktu lama, akhirnya laporanmu selesai. Jika dirasakan, ternyata tanganmu rasanya pegal luar biasa karena sudah menulis ratusan kata di kertas dengan referensi dari jurnal-jurnal yang harus kau baca sebelumnya. Sepertinya, sudah cukup kau yang merasakan kelelahan itu, tak penting pula apabila terus dikeluhkan atau dibayangkan, yang penting sekarang kau akan jalan-jalan dengan Luhan.
Setelah merapikan barang-barangmu, Luhan berdiri dari posisi duduknya namun ia mengikat tali sepatunya terlebih dulu.
"Kita mau ke mana?" tanyamu setelah selesai merapikan barang-barang dan memasukkannya ke dalam tas.
"Jalan-jalan," balas Luhan singkat.
"Aish... Aku juga tau. Kau kan tadi memang mengajakku jalan-jalan, tapi ke mana?"
Luhan terkekeh, ia selalu tertawa apabila melihatmu sedang kesal karena termakan candaannya. Menurutnya, kau itu terlihat lucu ketika kesal seperti itu.
"Bercanda," ucapnya sambil mengacak-acak pelan rambutmu, "Kita pergi jalan-jalan saja ikuti kemana kaki ini melangkah."
Kau merasa kaget dan sedikit heran. Jadi yang dia maksud jalan-jalan itu adalah jalan-jalan yang memang berarti jalan-jalan dengan kaki kedua kaki, bukan pergi ke suatu tempat yang jauh atau mengasikkan tanpa harus berjalan jauh dengan kaki, cukup menggunakan transportasi pribadi atau bahkan transportasi umum.
Hal ini terasa diluar dugaanmu. Namun, kau tidak mau terlalu mempermasalahkan hal itu, jika dipikir-pikir tidak ada salahnya juga hanya berjalan santai menikmati udara segar di sekitar untuk melepas rasa penat.
"Ada masalah?" tanya Luhan yang melihatmu melamum selama beberapa detik.
Tersadar, kau segera tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kalau begitu, ayo kita jalan-jalan," katamu sambil melingkarkan tangan di tangannya Luhan.
Luhan merespon dengan baik, ia kembali menampilkan senyum manisnya padamu, sukses membuat pipimu merona lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Imagine // EXO ✅
Fiksi Penggemar[Fanfiction] Berisi kumpulan imaginasi antara fans dengan idolanya yang memakai cast utama kamu dan salah satu member EXO. Imagine hanya berisi drabble dan ficlet. Itu berarti tidak ada cerita ber-chapter dan setiap bagian memiliki judul masing-mas...
