[1] Bian - Si Anak Baru yang Bikin Ngilu

11 3 0
                                    

"Hai! Kenalin namaku Mail bin Maol! Umur aku 13 tahun, loh! Masih jomblo, unyu, hitam-manis."

Kata si Anak Baru sambil memasang ekspresi yang paling bikin gue jijik; senyum lebar, mata merem, dua telunjuk nunjuk di pipi. Kalau dia ganteng kayak gue sih nggak masalah. Tapi, liat fisiknya aja udah bikin gue mules.

"Unyu apaan? Kunyuk kali yang bener!" kata Dito sembari diikuti tawa sekelas. Nah, kalau itu gue baru yakin!

"Eh, enak aja! Aku unyu, tahu! Kalian belum tahu aja keunyuan aku itu kayak gimana," balas si Anak Baru sembari memutar bola mata.

Gila, pede banget itu anak. Atau bisa gue bilang dia kepedean. Si Anak Baru itu sekarang jalan ke mejanya Bu Murni.

"Bu, saya duduk di mana? Kayaknya semua kursi udah terisi penuh. Masa saya duduk di lantai, sih? Nanti kulit saya terkena kuman-kuman jahat yang akan membuat kulit saya menjadi seperti dia," kata si Anak Baru sembari nunjuk ke gue. Enak aja, memang kulit gue busuk apa?!

"Ya sudah, kamu duduk sama ...," kata Bu Murni sembari mencari tempat duduk yang kosong, "Ibu aja."

Haha, rasain lo! Duduk di sana sampai pingsan gara-gara parfum 1 liternya Bu Murni!

Informasi aja ya, Bu Murni itu kalau pakai parfum itu 1 botol nggak cukup, harus 1 liter. Kalau parfum mahal sih nggak apa-apa, tapi masalahnya parfum yang dia pakai itu parfum murahan yang biasa dibeli di pinggir jalan. Muntah nggak lo kalau disuruh nyium bau kayak gitu.

"Ini bau apaan, sih! Kok nggak enak banget!" teriak si Anak Baru tiba-tiba setelah kira-kira 1 menit duduk di samping Bu Murni. Dia celangak-celinguk nyari barang yang bikin dia kebauan itu. Lalu tatapannya jatuh ke Bu Murni.

Gila itu anak! Belum pernah dihukum Bu Murni, sih!

Si Anak Baru itu kemudian mengendus-endus Bu Murni. Bu Murni yang kaget tiba-tiba diendus kayak gitu akhirnya teriak kenceng banget. Dan satu kelas serempak ngelirik ke meja guru.

"Kamu ngapain! Ngendus-ngendus gitu, nggak sopan!" omel Bu Murni menggelegar. Siswa lain yang lewat di depan kelas aja sampai ngelirik ke dalam.

"Eh, enggak, Bu! Saya cuma nyari barang yang bikin bau, bukan ngendus Ibu!" sergah si Anak Baru sembari menyilangkan tangan membentuk huruf x.

Bu Murni ber-oh panjang dengan nada menantang. "Jadi kamu bilang saya bau?!"

"Jadi Ibu merasa? Tapi iya sih, Bu. Saya nyium bau tadi dan ketika saya ikuti ternyata pusatnya dari Ibu," jelas si Anak Baru yang bikin semua orang di kelas melongo. Parah banget, nggak ada yang berani bilang fakta itu ke Bu Murni. Karena notabenenya dia guru paling garang se-sekolah.

Bu Murni ber-oh panjang lagi, tapi suaranya lebih ditinggikan. "Sekarang kamu ke lapangan! Puterin lapangan sebanyak 10 kali!"

Finaly! Sukurin lo, dihukum kan akhirnya. Udah gemes banget gue sejak pertama kali liat lo di depan kelas.

"Aduh, Bu. Jangan puterin lapangan dong, saya itu suka pingsan kalau disuruh lari-larian," kata si Anak Baru mencari-cari alasan untuk menghindar.

"Saya sudah dengar alasan seperti itu 1000 kali. Jadi kamu ke lapangan sekarang!" kata Bu Murni dengan suara melengking di akhir kalimat.

Dan akhirnya, lagi. Si Anak Baru keluar kelas dan mulai lari-lari nggak jelas sembari say hello ke siswa lain. Somplak bener itu anak!

÷÷÷

BAAM!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang