Chapter 5

643 41 1
                                        

NejiTen + SasuSaku

Aku masih tidak percaya dengan apa yang barusan Neji katakan.
"Tenten?" Panggil Neji. Aku tersentak dan menatapnya. Wajahnya sangat sangat merah.
"I,iya?" Jawabku gugup.
"Bagaimana?" Tanya Neji. Aku mengerutkan dahiku.
"Bagimana apanya?" Tanyaku balik. Neji mengacak rambutnya lagi dengan frustasi.
"URGH! Tenten, kau sadar bahwa aku baru mengatakan perasaanku padamu kan?" Tanyanya. Aku mengangguk pelan, dengan muka panas.
"Jadi? Bagaimana perasaanmu padaku?" Tanya Neji secara singkat, padat, jelas, dan menohok.
Rasanya, aku ingin lari saja.
"Er…. Aku… Aku…" Kataku terbata-bata. Wajahku pasti sama merahnya dengan tomat.
Neji mendekatiku.
"Bagaimana?" Tanyanya, matanya menatapku dalam-dalam.
Wajahku memanas. Ini terlalu banyak untukku…
"Aku…Aku tidak tahu!" Seruku sambil berdiri dan langsung berlari ke arah alun-alun kota yang berada di tengah.
"Oi, TENTEN!" Seru Neji dibelakangku.
Aku tidak tahu kenapa aku lari.
Kenapa aku lari?
Kenapa? Kenapa?
Aku terus berlari. Dan berlari. Sampai akhirnya seseorang menangkap tanganku.
Neji.
"Kenapa kau lari, hah?" Tanyanya sambil terengah-engah.
"Ma,maafkan aku—"
"Aku belum dengar jawabanmu! Aku baru mengatakan perasaanku, dan kau lari begitu saja?" Teriak Neji. Kini semua orang menatap kami berdua.
"Eh, Neji—"
"Aku tidak peduli dengan orang lain! Aku hanya ingin dengar jawabanmu, Tenten…" Lanjut Neji lagi. Kini kami berdua sukses menarik perhatian. Oh astaga, bahkan musik berhenti dan membuat kami semakin…diperhatikan.
"Aku, aku…"
"Cepatlah, Tenten! Apakah kau begitu tidak suka padaku sampai susah mengatakannya?" Tanya Neji. Suaranya agak memilukan...
"BUKAN!" Seruku spontan.
"Lalu?" Desaknya. Aku memalingkan muka.
Katakan saja, Tenten! Tidak begitu susah kan? Kau tahu kau suka pada Neji!
Hatiku berkata. Aku mengerutkan dahi.
Baiklah. Baik. Akan kukatakan di tengah alun-alun, dimana semua orang sedang memperhatikan kami. Baik.
Aku menarik napas.
"Tenten, ayolah! Aku suka padamu! Aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku, itu saja…" Katanya. Seluruh alun-alun sunyi sekarang.
"Baik. Baik! Kau mau tahu perasaanku?" Tanyaku. Neji (dan semua orang di alun-alun) mengangguk dengan penuh semangat. Oh astaga.
"Aku, aku juga suka denganmu. Sangat menyukaimu! Sampai rasanya sesak kalau ada didekatmu. Puas kau?" Semburku.
OH ASTAGA. Aku tidak mengatakan hal itu kan?
Neji terpana.
Semua orang terpana.
Dan sedetik kemudian bersorak kencang.
"UOOOOOOH? Tenten, Si Cewek Tomboi itu jatuh hati pada Neji?" Seru orang-orang. Suasana ricuh.
Ditengah kericuhan, aku dan Neji terdiam.
"Itu benar?" Tanya Neji. Aku mengangguk, pelan sekali.
Neji menarik tanganku dan memeluku erat.
"Aku mencintaimu, Tenten!" Seru Neji. Suaranya penuh kebahagiaan.
Wajahku memanas. Panas sekali. Hatiku melonjak penuh kebahagiaan. Siapa sangka percakapan biasa di ujung kota menghasilkan situasi seperti ini?
Ah, biarlah. Yang penting sekarang semua sudah selesai.
Aku memeluknya juga, pelan-pelan. Aku belum terbiasa dengan semua hal ini…
"Aku…Aku juga." Kataku gugup. Neji melepas pelukannya, dan menatapku.
"Eh… Neji?" Tanyaku gugup.
"Boleh aku menciummu?" Tanyanya. Aku tersentak.
"Ap,APA?" Kataku kaget. Neji tersenyum.
"Aku hanya bercanda!" Katanya sambil tertawa.
Mau tidak mau, aku tertawa juga. Malu memang mengakuinya, namun jujur saja, aku sangat bahagia.
Aku menatap Neji yang menggandeng tanganku. Wajahnya sangat senang. Aku tersenyum.
Ya….Aku memang mencintai Neji. Pikirku sambil tersenyum.
"Mau menikmati festival bersamaku?" Tanya Neji. Aku mengangguk.
Berdua, kami mulai berjalan, tanpa disadari kerumunan orang yang masih ricuh dengan pernyataan kami berdua.
.
.
.
Kami berdua kembali ke atas bukit. Aku duduk disamping Neji, menatap kota yang semakin indah.
"Hei, Tenten?" Tanya Neji. Aku menoleh.
"Iya?"
"Kau ingat pertanyaanmu waktu itu padaku disini?" Tanya Neji.
Tentu saja aku mengingatnya.
"Saat aku bertanya padamu siapa yang kau suka?" Tanyaku. Neji menggeleng.
"Bukan, yang sebelumnya." Jawab Neji. Aku tersentak.
"Oh." Kataku. Neji tersenyum padaku.
"Bagaimana, sudah mengerti apa itu cinta?" Tanya Neji. Wajahku memerah.
"Ya….Aku sudah mengerti sekarang." Kataku sambil tersenyum. Neji meraihku, memegang wajahku dan mendekatkannya pada wajahnya.
Kali ini, aku tidak menolak.
.
TBC

Arti CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang