Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Seumur hidupnya, pilihan datang dalam bentuk instruksi berbalut nada yang lembut. Bahkan ketika ia diam, dunia sudah lebih dulu memutuskan untuknya.
Cahaya layar laptop memantul di mata Divya Kynang Narendra. Kamar itu dingin-AC disetel di angka 16-tapi telapak tangannya lembap. UGM tertera di baris pertama halaman pendaftaran. UI di baris kedua. Yang satu mimpi, yang kedua adalah janji keamanan yang menenangkan ayahnya.
Ia menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, seolah tubuhnya ikut takut membuat keputusan. Jari-jarinya menyentuh touchpad, tapi tak bergerak. Sebelum ia sempat meredam ingatan, bayang masa lalu kembali menyelinap tanpa izin: suara rem mendadak di depan rumah, jeritan ibu yang sedang mengandung, dan keheningan setelah raungan ambulan pergi. Hari itu mencabut adik yang belum sempat diberi nama juga keberanian sekaligus.
Ia menyapu wajah dengan kedua telapak tangan. Dadanya terasa penuh, kepalanya sudah berdenyut pusing. Lalu terdengar langkah pelan dari arah balkon yang menyambung ke kamarnya. Pintu geser bergeser pelan.
Nevan muncul tanpa banyak suara. Ia berdiri di belakang adiknya, memperhatikan layar tanpa komentar.
"Aku mau UGM," ujar Divya pelan, seakan terburu mengamankan kalimat itu sebelum ia menariknya kembali.
Nevan tak langsung menjawab. Ia diam cukup lama sebelum bicara. Seolah menimbang kata-kata mana yang tak akan memicu pertengkaran lama.
Ia tahu; sejak kecil, adiknya bergerak di antara rasa bersalah dan ketakutan ayah. Antara ayah yang terlalu sigap melindungi, dan ibu yang memilih pergi dalam diam. Kini, keputusan itu benar-benar milik Divya sendiri dan justru karena itu terasa mengancam.
Divya menunduk, lagi-lagi hanya mampu menarik napas panjang. Dunia di luar terasa lebih ringan di matanya.
Nevan menepuk bahunya pelan, "Ngomong sama Ayah, Dek," kata Nevan akhirnya, suaranya tenang tapi tak rapuh. "Dia orang pertama yang bakal melawan seluruh dunia untuk mastiin kamu aman."
Divya menoleh sebentar, bibirnya bergerak membentuk senyum tipis. Pilihan itu terasa dekat, begitu dekat, hingga dadanya sesak seakan tubuhnya tak siap menampungnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hi, it's been a while ya, or long enough. I decided to rewrite it-again.
Sorry, but I find lots off loop hole in my stories. So I wanted to make it better for y'all. So thanks for understanding