#2 Birendra Aditya Maheswara

5.6K 487 46
                                        

Ketukan di pintu saja mampu membangunkan Divya untuk bersiap sekolah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketukan di pintu saja mampu membangunkan Divya untuk bersiap sekolah. Itu kalau hanya Raga yang ada di rumah-pelan, sabar, dan biasanya diikuti suara, "Bangun ya, Dek."

Lain halnya dengan Nevan. Si Sulung itu tidak punya konsep privasi ketika menyangkut adiknya. Ia membuka lebar-lebar pintu kamar Divya dan langsung menyalakan lampu utama tanpa ampun.

"Bangun, Div," suara Nevan muncul, terlalu segar untuk seseorang yang baru bangun.

Divya meringkuk sambil mengeram. "Abang, matiin lampunya."

Nevan bersandar di kusen pintu, nyengir tanpa belas kasihan.
"Bangun. Jago aja udah bertelur."

Divya menyibak selimut dan menatapnya dengan mata menyipit antara ngantuk dan marah.
"Ayam jago siapa yang bertelur!"

Nevan terkekeh panjang, puas sekali melihat Divya sebal.
"Ya makanya bangun. Jangan kalah sama ayam fiktif."

Divya berdiri sambil menyeret langkah seperti zombi, tubuhnya masih setengah tertinggal di kasur. Gerutuan kecil keluar tanpa filter saat ia mengambil handuk. Ia menutup pintu kamar mandi agak keras. Nevan hanya mengangkat bahu tak acuh, kebiasaan pagi yang selalu sama sejak adiknya SMP.

Nevan melangkah turun, berjalan ke arah dapur. Raga sedang menata lembaran roti panggang di talenan, menambahkan irisan selada dan tomat, lalu menumpuk daging teriyaki hangat di atasnya. Dapur terasa seperti restoran pribadi setiap pagi-rapi, bersih, dan penuh aroma masakan.

"Udah daftar wisudanya, Bang?" tanya Raga tanpa menoleh.

Nevan membuka freezer, mengambil beberapa balok es, lalu menjatuhkannya ke gelas kopinya. Bunyi retakan es terdengar jelas di ruangan hangat itu.
"Udah. Dapet bulan depan, Yah."

Raga berhenti sebentar, bibirnya melengkung samar. "Nanti Ayah ambil cuti."

"Ya masa enggak," jawab Nevan sambil duduk. "Kapan lagi Ayah pamer anak teknik cumlaude."

Raga menghela napas sambil menahan tawa. "Aish, bangga boleh, sombong jangan."

Suara langkah kaki terdengar dari tangga. Divya turun dengan rambut basah setengah kering, seragam yang belum sepenuhnya rapi, dan ekspresi ngantuk yang masih menempel tebal. Nevan sudah duduk manis di kursi makan sambil menggulir ponsel seperti tidak merasa bersalah sudah "menghadang matahari" di kamar adiknya sendiri.

"Aku sumpahin kipas AC kamar Abang rusak tengah malam," gerutu Divya sambil meraih roti teriyaki beef toast yang sudah ditata Raga di meja.

"Kalau AC rusak, kamu yang aku bangunin jam lima buat bantu benerin," balas Nevan santai, menyuap roti Raga seperti tidak ada ancaman yang dipercayai semesta.

"Mukamu jam segini kayak habis berantem sama setan," tambahnya.

Divya mendelik sebal, "Bang, please. Aku baru hidup lima menit."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 02 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

#Narendra; Brotha [rewrite]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang