Bagian 1

35 10 13
                                    

Alana menghempaskan tubuhnya di kasur. Sambil mengingat-ingat kejadian tadi, saat di taman. Alana tak hentinya membayangkan wajah Rafka dan kata-kata laki-laki itu yang terus terngiang di kepalanya.

Tiba-tiba, ponselnya berbunyi memunculkan notifikasi baru. Tangannya pun tergerak untuk melihatnya karena sudah terlanjur penasaran, walaupun ia sempat kesal karena bunyi itu membuyarkan lamunannya.

Rafka: malam. Udah makan?

Seketika senyum di wajahnya kembali mengembang, lalu tangannya tergerak untuk membalas chat dari Rafka.

Alana: Malam juga. Belum, nih.

Tak lama balasannya pun kembali di terima.

Rafka: aku ke rumah kamu, sekarang.

Alana: Eh? Ngapain?

Tak ada balasan lagi. Kini, Alana terlihat menggigit bibir bawahnya. Perasaannya bena-benar campur aduk. Apakah Rafka hanya bercanda? Atau dia benar-benar sedang dalam perjalanan menuju rumahnya?

Lagipula, jika Rafka benar-benar ke rumahnya, sih tak masalah. Ia sudah terlalu bosan hanya ditemani oleh pembantu di rumahnya mengingat kedua orangtuanya yang sibuk mencari harta.

Rafka tidak mungkin berbohong soal ia yang akan mengunjungi rumah Alana, untuk itu, Alana bergegas berganti pakaiannya, walaupun tidak jauh-jauh dari baju tidur hello kitty atau princess Ariel-nya, setidaknya itu lebih bagus.

Tok! Tok!

Mendengar ketukkan pintu di kamarnya, gadis itu bergegas membuka pintu, ternyata Bi Rose, salah satu pembantu di rumahnya.

"Kenapa, Bi?"

"Itu, ada temennya. Cowok."

Mendengar kata 'cowok', mata Alana langsung berbinar.

"Bi, udah rapi kan?" Tanya Alana.

Bi Rose menjawab sambil geleng-geleng kepala, "udah. Cantik, kok."

"Makasih, ya, Bi. Alana ke ruang tamu dulu."

Tanpa menunggu jawaban dari Bibi Rose, Alana langsung melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga.

Walaupun hubungan Alana dan Bi Rose hanya sebatas pembantu dan anak majikannya, tapi, Alana sangat menghargai siapapun yang ada di rumahnya. Gadis itu tidak membedakkan siapapun, mengingat, orang-orang itulah yang selalu menemani Alana di rumah.

Melihat seorang laki-laki dengan celana jeans panjang dan jaket army yang menurut Alana sangat perfect langsung membuat mata Alana kembali mengeluarkan binarnnya.

"Rafka!"

Laki-laki itu mendongakkan kepalanya ke atas—mengingat Alana masih berada di tangga—sambil tersenyum hangat pada Alana.

Senyum itu, senyum yang membuat Alana jatuh padanya, dari situ—menurut Alana—ketampanannya bertambah berkali-kali lipat. Rafka. Laki-laki yang memang sudah lama ia kagumi. Mungkin, lebih dari satu tahun yang lalu, hingga mereka sekarang sekelas dan menjadi dekat. Rasanya, Alana masih belum percaya jika Rafka adalah pacarnya, bukan temannya lagi.

"Aku pikir, kamu bercanda soal mau datang kesini."

"Ya enggaklah. Nih, aku bawa sate, dimakan, entar maag kamu kambuh," jawab Rafka.

"Tau dari mana aku punya penyakit maag?"

"Siapa, sih yang gak tau, pas kamu nangis sampe seisi kelas gempar, gara-gara maag kamu kambuh?"

Soal itu. Dari semalam hingga menjelang siang, Alana memang tidak mengisi perutnya barang sedikitpun. Tentu saja hal itu memicu penyakit maag-nya kambuh. Menangis. Dibelikan makanan dengan teman-temannya. Menginap di UKS hingga jam pelajaran selesai. Semua itu benar-benar membuat dirinya malu!

"Ish! Gak usah diingetin!" Kini, pipi Alana sudah memerah, tentu saja kejadian seperti itu tidak ingin ia ingat kembali. Tapi, dengan gamblangnya Rafka mengatakan hal itu.

"Hahaha! Lucu, ya, kalo lagi malu. Yaudah, dimakan satenya."

Sate yang sudah disuguhkan di atas piring itu langsung disambarnya. Jika terus meladeni ucapan Rafka, bisa-bisa Alana kalah. Apalagi, gadis itu belum terlalu terbiasa dengan status baru mereka. Lagipula, dia juga sudah lapar. Selanjutnya, Alana sudah tidak memperdulikan tatapn Rafka yang sangat intens menatapnya. Ia tidak perlu memikirkannya, karena hal itu akan membuatnya malu kembali.

...

Pagi hari dengan suasana yang menurut Alana tidak seperti biasanya. Ayah dan bunda-nya memakan sarapan dengan hening. Hanya dentingan sendok dan garpulah yang memecah keheningan. Alana merasa heran. Ada apa dengan kedua orang tuanya?

Tentu saja, hal seperti ini memang tidak biasa terjadi di dalam keluarganya. Mengingat, kedua orangtuanya yang sibuk, pergi pagi, pulang malam saat Alana sudah tertidur. Pertemuan singkat seperti ini sering dimanfaatkan ayahnya untuk bertanya banyak hal pada Alana atau membuat lelucon yang sangat tidak pantas untuk ditertawakan, tapi, tentu saja Alana tetap tertawa untuk menghargai ayahnya.

"Ayah, bunda, kalian kenapa? Kok diem?"

Lantas saja, suara dentingan sendok dan garpu tak lagi bersuara. Seketika semua orang mematung, kecuali Alana yang hanya menatap heran pada kedua orangtuanya.

Dengan secepat kilat—tetapi Alana masih dapat melihatnya—mata kedua orangtuanya beradu tetapi didetik itu juga, keduanya langsung mengalihkan tatapannya dan membuang wajah. Hal ini membuat heran Alana yang tak kunjung mendapat jawaban menjadi bertambah dua kali lipat.

"Gak pa-pa, sayang. Kamu belum berangkat? Udah jam setengah tujuh, loh," jawab bundanya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

Mata Alana pun langsung tertuju pada jam dinding besar yang menempel di dinding rumahnya. Jarum jam memang sudah menunjukkan tepat pukul setengah tujuh.

"Eh iya-ya? Yaudah, Alana berangkat dulu, ya. Assalamualaikum, Bunda, Ayah."

Selesai menyalami kedua tangan orang tuanya—yang hanya mendapat seulas senyum kecil di wajah Ayahnya dan elusan di rambut Alana oleh bundanya—gadis itu melangkahkan kakinya keluar.

"Mang Ujang! Kita berangkat sekarang!"

"Siap, Non. Mari."

Walaupun Alana sudah mempunyai Rafka—yang artinya laki-laki itu bisa menjemput dan mengantarnya kapanpun ia mau—bukan berarti ia bisa menyuruh seenaknya. Rumah Rafka yang berlawanan arah dengan rumahnya itulah yang menghalanginya. Alana tidak ingin keduanya terlambat hanya karena menjemput gadis itu. Itu bukan pilihan bagus. Jadi, ia masih menggunakan jasa Mang Ujang untuk mengantar dan menjemputnya, terkadang ia juga membawa mobilnya sendiri ke sekolah. Tapi, Alana bilang, dia lagi mager.

Sebelum benar-benar berangkat, Alana memeriksa isi kantong seragamnya, memastikkan jumlah yang ia bawa cukup. Ia tahu, setelah ia sampai di sekolah, semua temannya akan menanyakan soal hubungan ia dengan Rafka, lalu teman-temannya akan berkata 'peje, woy!'

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 23, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

(Not) Perfect LifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang