Asa "The difference who make us together." Part 1

130 9 4
                                    

Ditulis oleh: egadlestari Izh_sha Anaul_973 finicute488 Aihana_25 Winter_Girl_004

Prolog.

Ini tentang kita, berdua ataupun bertiga

Tentang kita yang merajut angan, untuk saling menguatkan

Tentang kita yang ingin merealisasikan makna dari kata sahabat

Juga tentang kita, yang akhirnya bersikap apatis

Berjalan masing-masing, mementingkan ego

Yang berujung pada kehilangan dan penyesalan.

***

Elina Pov.

"Lin, sini aku bantu." Kania tersenyum kepadaku, setumpuk buku sudah membebani kedua tangannya. Bagiku adalah hal yang biasa, Kania yang selalu berinisiatif untuk membantuku. Bahkan sebelum aku menjawab, karena ia tahu, yang aku lakukan jika ditawari bantuan adalah menolak.

"Jadi ternyata Angga itu cuma ngasih harapan ke aku, Lin." Termasuk sifatnya yang mudah menangis, adalah sesuatu yang biasa bagiku. Kalau sudah begini, aku cuma bisa menepuk bahunya pelan, menyediakan tisu berstok-stok, dan menemani Kania yang menangis memilukan. Karena aku sendiri tidak bisa memberikan petuah pada Kania. Aku ini... Aku ini jomblo, kasarnya sih aku ini buta soal cowok.

Itu adalah segelintir kejadian yang terekam baik di memoriku, mengenai sahabatku, Kania Feniela. Hari ini kami tengah asyik duduk sambil menikmati bakso langganan kami. Mas Dimas nama penjualnya, selain murah, bakso ini juga rasanya juara. Kalau kalian berwisata ke bandung, mampirlah ke Bakso Trisno. Penjualnya memang Mas Dimas, tapi pemilik kedai bakso ini, adalah keluarga turun temurunnya Pak Trisno.

Bagai ritual, tiap kali datang hari minggu, aku dan Kania selalu mengunjungi kedai Bakso Trisno. Kalau kata anak zaman sekarang sih, namanya tempat hangout.

"Berarti kita satu SMA dong Lin?" Pupil mata milik Kania menunjukkan kebahagiaan luar biasa.

Aku mengangguk, mengiyakan. "Dapet dari beasiswa." Mustahil jika aku, Elina Silvia, bisa satu sekolah dengan Kania yang si anak kelas atas. Mengingat kondisi finansial keluargaku yang tidak begitu baik. Kecuali jika aku mendapat pencairan dana dari luar.

Kania mengangguk paham. "Semoga kita satu kelas ya Lin." Ia menggengam sebelah tanganku, dengan menunjukkan mimik berharap.

Aku tersenyum kecil, "Semoga." Kataku mengaminkan.

Kania melanjutkan suapannya. "Yang aku denger ya Lin, katanya senior di sana itu baik-baik." Cewek itu berbicara dengan mulut penuh makanan.

Aku tersenyum kikuk, karena aku paham arah pembicaraannya. Dia pasti mau menggaet salah satu senior di sana. "Semoga." Kujawab ucapannya dengan wajah datar.

"Kamu enggak mau coba nyari gebetan gitu, Lin?"

"Kalo ada yang kayak Lee Min Ho, kabarin aku ya." Aku berkelakar, berharap Kania mengganti topik pembicaraannya. "Gimana kalo kita gak satu kelas, Kan?"

Kania diam, ia menatapku lama. "Semoga." Selanjutnya ia tertawa kegirangan, melihat ekspresiku yang jengkel mendengar jawabannya.

***

SahabatTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang