#1 Baru, Segar, dan Menggoda

87.2K 5.8K 104
                                        

Gemintang menarik selimutnya merapat, menutupi area pribadinya yang terbuka. Deru napasnya masih tak beraturan, meski aktivitas panas itu telah berlalu setengah jam. Salahkan lemak-lemak di seluruh area badannya yang memengaruhi kestabilan fungsi kerja organ dalam. Otaknya sama lamban dengan badan, masih terlena me-reka ulang tiap-tiap sentuhan yang dirinya bagi bersama... eum, siapa nama pria ini?

Gemintang menoleh pada pria tampan yang terlelap di sisinya. Pria itu tidur tengkurap dengan posisi pipi kiri menempel bantal, menyebabkan mulutnya sedikit terbuka oleh himpitan pipi. Benar-benar menghancurkan imej yang tadi ditemui di club dan setengah jam lalu menggagahi Gemintang.

Oh my, Gemintang menarik selimut hingga batas hidung. Malu bukan kepayang pada satu keputusan ekstrem yang sudah dia lakukan.

Pergi ke club, bukan termasuk pengalaman pertama. Namun memasukkan bubuk sialan ke dalam minuman seorang pria asing lalu berakhir di kamar hotel inilah yang disebut keputusan ekstrem.

Jika Galih tahu apa yang sudah dilakukan kakak perempuannya malam ini, dia yakin Galih akan sukarela memenggal kepalanya hidup-hidup.

Dan jika Peony tahu akibat lelucon kemarin sore, oh Gemintang tak sanggup membayangkannya. Peony akan lebih mengerikan daripada seekor serigala liar yang kelaparan.

Lagi, Gemintang menatap pria di sebelahnya. Beberapa asumsi positif coba dia sematkan dalam benak. Hal yang terlintas ialah menggeledah isi dompet pria itu. Gemintang bersusah payah berdiri dan berjalan tertatih dalam kondisi telanjang bulat menuju kamar mandi hanya untuk mengambil bathrobe, yang kemudian dikenakan menutupi badan polosnya.

Wanita lain mungkin memilih menggunakan kemeja bekas pria yang terhempas di lantai. Masalahnya size Gemintang jauh dari standar. Yang ada dia akan merobek kemeja itu seperti adegan berubah menjadi Hulk.

Gemintang mengambil celana dasar yang teronggok di tepian kasur, nyaris menjadi keset di lantai. Dia mengeluarkan dompet kulit tipis dari saku belakang. Awalnya dia tertegun menemukan beberapa kartu platinum. Benda yang dia cari ketemu, sebuah kartu pengenal.

"Nggak, gue nggak perlu tahu siapa dia," tegas Gemintang pada dirinya sendiri. Dia kembali memasukan kartu itu ke dalam dompet. Membiarkan data si pria tetap sebagai misteri.

Gemintang melirik pria yang masih pulas di ranjang. Punggung lebar pria itu akan diingat dalam benaknya. Orang pertama yang berhasil memberinya 'pengalaman baru'.

"Terima kasih, orang asing," gumam Gemintang. Dia mengembalikan dompet kulit pada tempatnya semula.

Matanya mengitari kamar hotel kemudian berhenti pada jam dinding. Pukul tiga dini hari. Dia memilih duduk di sisi ranjang, menikmati pesona kekanakan dari pria itu sebelum tiba waktunya dia pulang. Setidaknya beri waktu setengah jam bagi Gemintang memuaskan diri menatap pria yang telanjang di balik selimut hotel.

・・・

"Galih bawel banget nelepon gue pagi buta," keluh Peony saat Gemintang tiba di kubikel mereka yang bertetangga.

"Galih pedekate sama lo?"

"Ogah sama celeb cabe-cabean gitu." Peony bergidik ngeri mengingat betapa banyak fans ababil Galih. Padahal Galih tergolong aktor berusia dua puluhan tetapi penggemarnya kebanyakan dedek gemes. "Dia nyariin kakak kesayangannya."

"Nyari gue?" Gemintang menunjuk dirinya sendiri, merasa bodoh atas kabar yang didengar.

"Lo nggak ada di kos. Dia telepon nggak diangkat. Parno adek lo. Lagian lo kemana nggak pulang semalam?" Cecar Peony sambil memakan bubur ayam ekstra seledri kesukaannya.

"Gue main tempat teman. Nggak tahu Galih nyariin." Gemintang melarikan pandangannya pada toples astor di atas meja, berusaha menutupi kekhawatirannya.

"Bukannya ngemeng. Gue yang kena semprot." Peony meletakkan sendok plastik yang dia gunakan lalu menyodorkan Styrofoam yang berisi setengah porsi bubur. "Mau makan nggak?"

Begini cara Peony menawarkan perhatian pada temannya. Tidak ada kata manis, melainkan tindakan.

"Boleh," sahut Gemintang sumringah menerima bubur ayam yang aromanya nikmat.

"Temen lo yang mana yang lo datangi semalam?" Tanya Peony santai sembari menyalakan komputer.

"Teman satu tempat kursus," jawab Gemintang di sela kunyahan makan.

"Oh."

Peony patut bersyukur memiliki teman seperti Gemintang yang selalu menghabiskan sisa makannya. Maklum lambung Peony kecil. Sebaliknya, Gemintang selalu was-was ditawari makanan oleh Peony. Lambungnya sering berkhianat, disuruh diet malah melawan perintah otak dengan menerima segala makanan yang disodorkan.

Maka beginilah mereka tampak di muka umum. Persahabatan si gajah dan si semut.

###

02/05/2018
Pemanasan dulu, genks!!

Big MOMMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang